Agen Terpercaya  
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Rasa Terimakasih Kami

Malam Pun tiba, aku sudah kembali ke rumah dan istriku sudah memasak beberapa makanan untuk menyambut aji nanti.

"pah, boleh ngobrol sebentar?"

"kenapa mah?"

"anu tentang mas aji nanti, hmmm gimana yaaaaa"

"kenapa mah, gpp bilang aja"

"gimana ya... papah yakin mau ajak dia tinggal di rumah ini?"

" kasihan dia hidup sendiri di pasar gitu"

"yaudah kalau itu udah keputusan papah"


Tok... Tok... Tok...

Terdengar usara ketukan pintu, itu pasti Aji. Aku segera membuka pintu.

"Malam Pak Herman" ucap aji ramah, malam ini ia hanya memakai kaos singlet tanpa lengan yang lubang nya lebar hingga bawah menampilkan tubuh kurusnya yang banyak tato itu.

"Malam Mas Aji, akhirnya datang juga, mari masuk mas" ucapku

Ku persilahkan aji duduk di sofa,

"Ada perlu apa ya Pak Herman"

"Jadi gini mas Aji, saya to the point saja ya. Saya dan istri sangat berterimakasih dengan Mas Aji karena sudah menolong saya dan istri"

"sudah menjadi kewajiban saya untuk saling membantu"

"selain itu saya juga mau meminta maaf karena sudah menabrak rumah kamu, sebagai gantinya dan rasa terimakasih kami gimana kalau mas aji tinggal disini sama kami"

"wahh pak, apa itu ga terlalu berlebihan, saya tinggal di belakang pasar aja pak. rasanya kurang cocok buat saya tinggal di rumah besar ini takut malah jd kotor"

"mas aji sudah menolong saya, saya berhutang nyawa, apa yang saya miliki adalah milik mas aji juga"

saat saya mengatakan kalimat terakhir istriku datang sambil menyajikan minuman, aku mengatakannya sambil menatap istriku dan berharap aji paham kode yang kuberikan.

"silahkan diminum mas"

mata aji tak lepas dari istriku, bagaikan tak pernah melihat wanita cantik dari jarak sedekat ini. malam ini dia memakai pajama tipis berwarna putih gading.


istriku duduk disebelahku, suasana menjadi hening, Aji terdiam mungkin memikirkan apa yang akan ia katakan, keputusan apa yang akan dia ambil.

Aku dan istriku juga sama bingungnya.

"Ehem.."

Deham Aji memecah keheningan,

"Bagaimana mas aji sudah memutuskan?"

"Jadi begini pak, ane jadi ga enak nih, hehe… semua milik bapak berarti milik saya toh?” Tanya aji dengan cengengesan dan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal

“Betul mas, rumah dan seisinya anggap saja milik mas juga” jawab ku

“Tapi bapak jangan tersinggung ya pak, ini saya cuma tanya…. Emmm rumah dan seisinya apakah termasuk istri bapak jadi istri saya juga?”

DEG! Bagaikan tersambar petir, Memang ada niatan untuk mendekatkan mereka tapi ini di luar Perkiraan awalku yang ingin membuat istriku mulai nyaman dengan kehadirannya terlebih dahulu. Ini membuat ada desiran aneh di dalam diriku.

Liana istriku tak kalah kaget, dia menurut mulutnya terkejut.

“APA APAAN KAMU!” Bentak istriku lalu dia lari ke dalam kamar

Aku bingung apakah aku harus mengejar istriku, tapi kami masih di tengah obrolan sangat penting dan sungguh perasaan apa ini, dorongan untuk melihat istriku bersama mas aji.

Sebaiknya aku susul dulu istriku dan menenangkannya.

“Waduhh maaf mas aji, saya mau nyusul istri saya dulu. Sebentar ya mas”

Aku langsung menuju kamar dan menemukan istri sedang duduk di kasir dengan wajah ditekuk. Kudekati istriku dan mencoba memeluknya, Seperti dugaanku dia marah dengan pertanyaan mas aji. Dengan pelan ku tenangkan ini juga sebagai rasa terimakasih telah menolong nyawa kita, bahwa jasa mas aji tidak dapat dihitung hanya dengan materi.

Lalu aku juga mengingatkan dengan kondisiku saat ini, bahwa aku sudah tak mungkin memberikan keturunan, dengan adanya mas aji dia dapat membantu memberikan keturunan yang akan mewarisi seluruh bisnisku saat ini.

“Tapi pah, dia itu preman pasar”

“Jangan lihat dari luarnya mah, buktinya dia baik”

“Tapi pah, mamah mau jujur ke papah”

“Jujur apa mah?”

“Tadi siang pas mamah panggil mas aji, mamah…..”

“ apa mah?”

“Anu…. Eh maksud mamah denger mas aji lg mendesah sambil panggil nama mamah”

“Tuhkan, berarti memang mas aji sudah mengagumi mamah sejak dulu. Lalu justru karena dia preman pasti staminanya kuat nanti bisa mamah menjerit keenakan”

“Ihh papah mesum” ujar istriku sambil sedikit memukul lenganku

Lalu kami kembali ke ruang tengah, aji sedang merokok dan masih duduk tenang di sofa.

“Eh maaf pak hendra, ane ngerokok habisnya bosan hehe” katanya gerogi sambil buru buru mematikan rokoknya

“Gapapa mas, kan sudah saya bilang anggap saja rumah sendiri dan mulai detik ini rumah ini adalah rumah mas aji juga”

“Waduh makasih pak jadi enak ane hahaha…. lalu untuk yang tadi gimana pak?” Tanyanya to the point

“Kalau itu biar istri saya yang menjawab, karena itu menyangkut dirinya”

Istriku tertunduk malu

“Mah….” Colek ku

“Anuu… untuk itu saya tidak keberatan untuk jadi istri dari mas aji juga” ucap liana masih dengan tertunduk malu

“Bener nih pak herman?” Tanya aji memastikan

“Benar mas aji, mulai sekarang liana adalah istri mas aji juga. Tapi saya ada satu minta tolong mas”

“Apa tuh pak, ane akan lakuin apa aja”

“Saya minta tolong, hamili istri saya mas. Kami sudah lama menanti seorang anak tapi dengan kondisi saya sudah tidak memungkinkan”

“Oalahh ane kira apa pak, kalau itu sekarang juga saya sanggup” ucap mas aji sambil berdiri, tanpa disangka dia malah membuka resleting celana jeans belelnya.

Tuing! Aji malah mengeluarkan kontolnya yang besar itu dihadapan kami, Sontak liana menutup mulut terkejut.

“Sini bu liana kenalan dulu sama alat yg akan bikin bu liana hamil” aji duduk di sofa sambil memainkan kontolnya

“Pah….” Ucap lianan bingung

“Gapapa mah….” Jawabku dengan lembut

Liana lalu mendekati aji, dia duduk bersimpuh di depan aji, untuk beberapa saat dia hanya diam memperhatikan kontol aji

“Kenapa bu liana gede ya? Lebih hede mana sama punya pak herman?”

“Lebih gede punya mas aji, punya saya kecil mas cuma sepertiganya”

“Oalahhh yaudah sini pegang aja bu jangan malu malu” kata aji sambil mengambil tangan lianan dan meletakannya di selangkangannya

“Ahhh lembutnya tangan bu liana… iyah terus naik turunkan bu…”

Aku yang memperhatikan memereka dari seberang meja pun ikut merasa gerah, bagaimana tidak istriku yang catik dan putih itu sekarang sedang berhadapan dengan kontol jumbo milik seorang preman

“Aduhh coba masukin mulut bu”

“Ga mau ah mas, saya belum pernah” tolak liana

“Ah bacot…ahhh” tiba tiba aji menjambak rambut istriku dan memasukan kontolnya paksa ke mulutnya

“Mmhhmmm… mhhhhmmmmm…..” aji hanya mendiamkan kontolny di dalam

Bukannya marah aku malan tambah nafsu melihatnya, istriku bagaikan sedang diperkosa olehnya

“Puahhh….” Dilepaskannya kontol itu dr mulut istriku

“Udah jangan ngelawan, kan lu dah jadi bini ane, nurut aja apa kata ane… buka lagi mulut lu”

“Baik mas…” hmmpphhh glok glok glok glok

Mas aji melanjutkan aksinya, dia memaksa istirku menyepong kontol premannya

“Ughh pak herman, mulut istri kita enak banget… terus syang phhhhh”

Sekitar 5 menit istriku terus menaik trurunkan kan kepalanya dj selangkangan mas aji, seperti tak tahan mas aji berdiri dan memegangi kepala istriku

“Siap siap sayang, ane perkosa mulutmu inii”

Lalu dengan brutal, mas aji memborbardir mulut istriku. Mata istriku terlihat berair, air liurnya menetes ke karpet ruang tengah kami, dan wajah memerah

Glok glok glok glok flok glok

“Ughh enak bangtt mulut mu sayangg ahhh, rasain kontol gede ini….”

Glok glok glokkk

“Ahh. Gue mau keluar gue maj keluarrr….”

Mas aji mengelurkan kontolnya dan tetap menahan kepala istriku

“Ahh pak herman saya pejuin muka istrimu ya pakk… saya pejuin mukanyaaa” katanya sambil mengocok kontol besarnya dihadapan wajah liana

“Iya mas pejuhin muka istri kita mas”

“Ahhhh ahhh crottt cortttt crottt crot!”
Sekitar 7 semburan membasahi wajah liana, tak berhenti disana mas aji meratakan lelehan pejuh itu dengan kontol besarnya menjelajahi wajah istriku itu.

Setelah selesaii mas aji tersenyum dan langsung menjatuhkan badannya ke sofa. Istriku langsung lari ke arah dapur. Aku mengejarnya

Di wastafel terlihat istriku mencuci mukanya sambil menangis, ku hampiri ia lalu kupeluk
Terdengar isakan darinya

“Udah mamah pasti nanti akan terbiasa, ingat dia adalah penyelamat kita”

“Tapi pahh….. hiks hiks hiks”

Tapi aku merasakan keanehan di pakaian bagian bawahnyaa basah, saat ku raba ternyata basah dari bagian dalam

“Lohh kok mamah basah banget gini?”

“Anu pahh… tadi mamah sempat keluar waktu mas aji pake mulut mamah kasar” ujar istriku dengan wajah tertunduk

“Tuhkan mamah sebenernya suka sama mas aji… malab sampe squirt gitu”

“Ihh papah mah, mamah jd malu”

“Yaudah yuk kedepan lagi, suami mamah yg lain nunggu”

“Uhh sebel godain mulu”

Lalu kami kembali ke ruang tengah, mas aji sudah rapih kembali dengan senjatanya sudah dimasukan kembali dengan aman

“Maaf ya pak herman dan bu liana, tadi saya agak kasar. Karena sebenarnya saya sudah menyukai ibu laina dari dulu” kata aji

“Iya mas gapapa, saya ngerti kok. Lagipula tadi ternyata istri saya sampe squirt mas kasarin ya gak mah?”

“Ih papah mah….”

“Ohh bener begitu bu? Yaudah nanti siap siap saya kasarin terus ya hahahaa”

Malam itu kami habiskan dengan mengobrol mengenai latar belakang kami masing masing, agar saling mengerti dan membangun hubungan yang lebih baik kedepannya.

Karena kamar untuk mas aji belum siap, kami akhirnya memutuskan untuk tidur bertiga malam itu di kamar utama dengan posisi liana di tengah kami para lelaki di kanan kirinya.

Entah kenapa sejak kejadian tadi aku merasa cara melihat liana ke aji jadi sedikit berbeda, menjadi sedikit manja. Tanpa terasa aku pun tertidur lebih dahulu.

Paginya, aku terbangun paling pertama, ku lihat istriku liana masih tertidur dengan posisi memeluk tubuh kekar mas aji yang bertelanjang dada, waduh apa yang telah terjadi semalam saat aku tertidur?
 
sipp
tinggal pergolakan batin liana

lama kelamaan lebih milih aji drpd suami nya,
suami nya yg ngerasa tersingkirkan, ngerasa udh cukup selama ini sbg bntuk terimakasih

tp liana malah ngelawan suami nya.. ihh papa, inget dia itu penyelamat kita

lama2 cuma jd figuran di tengah asmara liana n aji
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd