Agen Terpercaya   Advertise
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

DRAMA Mata-Mata (LKTCP 2020)

john robert

Senpai Semprot
Daftar
24 Nov 2013
Post
912
Like diterima
699
Bimabet
Mata-Mata



Prolog


Sekolah Dinas Khusus Mata-Mata Indonesia

5 Juli 1959

Di sebuah tempat di Republik Indonesia

Jam 17.30


Sudah hampir Maghrib. Sekolah Dinas Khusus Mata-Mata sudah sepi sekali. Sekolah mata-mata berdiri tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ini Sekolah yang sangat rahasia. Sengaja didirikan supaya melatih putra/ putri terbaik Bangsa biar belajar seni jadi mata-mata buat bantu jaga keutuhan NKRI.

Pendiri sekolahnya pakar mata-mata tersohor, sudah melanglang buana buat belajar ilmu telik sandi sampai kemana-mana. Awalnya mata-mata yang direkrut hanya dari kalangan tentara. Lama kelamaan dipandang perlu buat rekrut mata-mata sipil supaya mudah melakukan pemantauan ke seluruh lapisan masyarakat. Untuk itu siswa/siswinya dilatih benar-benar, terkadang lebih daripada Tentara, mulai dari dikuatkan badannya, sampai dibuat cerdas pikirannya. Mata-mata tak boleh lemah. Tak boleh bodoh. Nanti pasti gagal dalam tugas. Mereka dikuatkan lahir batin dulu baru dikirim sampai ke luar negeri biar dilatih sama mata-mata CIA, mata-mata KGB, supaya tambah mahir.

Hasilnya tak main-main. Mereka benar-benar bantu mata-mata Tentara di ujung depan garis perjuangan. Waktu Belanda serang Indonesia di Agresi Militer satu dan dua, para mata-mata sipil pria dan wanita berjuang tanpa pamrih. Mereka pakai teknik sabotase dan perang urat syaraf. Dipecah belah sama mereka tentara Belanda biar kepayahan hadapi tentara Republik. Demikian pula, waktu pemberontakan di dalam negeri meletus dimana-mana mulai dari DI/TII, PRRI, Permesta, sampai RMS, mereka selalu hadir bantu kepentingan Bangsa dengan diam-diam, tak kasat mata, tapi buat reda pemberontakan separatis tadi dengan cara diplomatik, atau bahkan, bila perlu, cara licik.

Ini sebabnya sekolah mata-mata sipil sangat penting artinya dan lulusannya juga sangat berarti nilainya bagi perjuangan Bangsa. Termasuk di tahun sekarang, tahun 1959. Ada seorang pemuda yang baru lulus sekolah mata-mata bernama Pardjo. Wajahnya ganteng lebih tampan daripada orang pribumi biasa. Kulit tubuhnya cokelat kehitaman. Tubuhnya tinggi, ototnya kekar terlatih karena Pardjo tak lengah terus bina fisik dan mentalnya buat bersiap menjalankan tugas Negara.

Pardjo baru lulus Sekolah Khusus tiga hari lalu. Sebentar lagi Sekolah ini akan ditinggalkannya. Pardjo tak tau akan ditugaskan ke mana namun ia ingin kumpulkan sebanyak mungkin kenangan indah di sekolah ini. Termasuk suasana jelang mentari terbenam yang sangat tenang ketika dinikmati tepat di gerbang sekolahnya.

Bagi Pardjo lihat detik-detik matahari tenggelam membawanya pada saat yang menenangkan. Apalagi kini Pardjo tak menikmatinya seorang diri. Ia tengah berdiri bersama seorang wanita cantik yang merupakan adik kelasnya, sesama calon mata-mata, yang berjarak dua tingkat darinya.

Adik kelasnya bernama Lusi. Seorang siswi yang bisa dibilang paling cantik diantara teman satu angkatannya. Lusi lahir di Garut. Ayahnya dulu bekas pegawai Belanda di Garut yang memilih tak pulang ke Negerinya dan lebih pilih jadi orang Indonesia. Ia masih hidup sampai sekarang dan punya perkebunan disana. Inilah yang buat Lusi tak pernah kekurangan uang selama pendidikannya karena dia berasal dari keluarga berada. Ibunya yang asli Garut juga berasal dari keluarga pamong pradja yang hidup berkecukupan.

Wajah Lusi sangat cantik. Hidungnya mancung. Bibirnya penuh. Ia jadi tambah cantik karena ia campuran Belanda-Garut. Wajah campurannya buat banyak orang bilang ia mirip sama bintang film Marylin Monroe. Tahi lalat di pipi kanannya yang buat ia tambah mirip sama Marylin. Bahkan bukan hanya wajahnya, tubuh Lusi juga sama menarik dengannya.

Tubuh Lusi mewarisi tubuh jangkung ayahnya dengan tulang yang lebar seperti orang luar negeri. Yang menjadi daya tarik lebih, tubuh Lusi tidak kurus. Ia sangat sintal tubuhnya. Di saat pendidikan sebagai mata-mata saja tubuhnya sangat menggoda dan mengundang selera kaum pria karena dia adalah wanita blasteran bertubuh molek.

Sekarang, di kala senja nyaris tenggelam, mereka berdua tengah berdiri bersisian seperti halnya sepasang kekasih. Pardjo dan Lusi, walau hanya dua tahun saling mengenal, mereka telah terbit bibit-bibit cinta yang barangkali disemikan oleh daya tarik fisik mereka yang sama menariknya. Yang satu ganteng, tinggi, berotot. Yang satu cantik, sintal, dan molek.

Akan tetapi di senja ini, tepat pada waktu di Ibu Kota Djakarta terjadi peristiwa Dekrit Presiden dimana Dewan Konstituante baru saja dibubarkan oleh Presiden. Di kala Bangsa Indonesia menyatakan tekad kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945, Pardjo ungkapkan kata perpisahannya pada Lusi. Katanya, “ Barangkali waktu perpisahan bagi kita telah tiba, Lusi.”

Lusi tatap Pardjo lekat sebagai sebuah jawaban. Alih-alih mengiyakan ia coba utarakan pada Pardjo pendapatnya, “ kenapa harus kau sampaikan kata perpisahan padaku, Mas? Toh kita masih bisa bertemu lagi dalam berbagai kesempatan?”

Pardjo geleng-geleng kepala, ia jawab, “ Mata-mata tidak bisa dipegang, Lusi. Kau harus siap tugas kemana saja. Harus siap lakukan peran apa saja. Semuanya demi kepentingan Bangsa dan Negara.”

Di tengah mereka suasana sore jadi makin gelap. Cahaya hampir redup sepenuhnya. Maghrib sudah hampir tiba.

“ Sepanjang kita percaya sama cinta kita, apa sebenarnya yang bisa pisahkan kita, Mas?” Lusi tak mau kalah. Ia tak seperti kebanyakan wanita pribumi pada umumnya yang biasa bicara sambil merunduk malu. Lusi dididik oleh ayahnya pendidikan ala Belanda. Ia terbiasa nyatakan pendapatnya. Terbiasa bicara. Biasa tempatkan posisi kaum pria sama dengannya. Bila ia bicara, ia tatap langsung mata orang yang diajak bicara. Bukan merunduk.

Pardjo suka sama Lusi, karena ia sangat bisa terima sifatnya yang blak-blakan dan tatap mata orang yang diajak bicara secara langsung. Pardjo tanggapi dia, “ Maksudmu tak apa walaupun aku nanti tugas di Kalimantan Barat dan kau tugas di Garut? Mana bisa cinta dibangun saling berjauhan seperti itu??”

Lusi cerna baik-baik pendapat Pardjo lalu dia berkata, “ Tak ada yang masalah sebenarnya, Mas. Jarak. Waktu. Tak ada masalah. Selama kita saling percaya. Selama kita saling cinta,” Lusi tempatkan posisi berdirinya agar makin dekat ke Pardjo.

Sang Surya seperti bersepakat tenggelam bersamaan dekatnya letak berdiri mereka. Maghrib sudah hampir berkumandang di tengah warna langit yang semakin redup. Di kala cahaya makin gelap, Lusi coba genggam tangan Pardjo. Pardjo tersenyum merasakan tangannya coba digenggam dan ia genggam balik tangan adik kelasnya.

“ Mas, apakah aku salah, kalau aku mencintaimu?” Lusi bicara terus terang sambil genggam tangan Pardjo. Ini sifat aslinya. Ia sampaikan sama apa yang ada di pikiran dengan apa yang ada di mulut. Ia bukan wanita munafik. Sejak pertama masuk sekolah mata-mata sudah ia tunjukkan sifat aslinya.

Pardjo juga sama tak mau lepaskan genggaman tangannya. Ia coba jawab, “ Mencintai mata-mata bukanlah pilihan, Lusi. Maksudku, kau lihat : di saat kondisi Negera makin kacau. Kau jangan terlalu letakkan kepercayaan cintamu pada seorang pria mata-mata.”

Kali ini Lusi tak jawab Pardjo. Ia hanya pandangi saja wajahnya. Dilihatnya baik-baik Pardjo dan Pardjo juga pandangi dia balik. Mereka saling pandang sambil berpegangan tangan. Bila diibaratkan mereka seperti dua sejoli yang menyambut terbenamnya mentari sembari mencoba saling percaya.


Bab 1

Lusi : Tradisi

Bioskop Metropole, Menteng, Djakarta

Rabu, 6 Desember 1961

Jam 20.00


Waktu bergulir demikian cepat. Mereka yang dulu masih bayi cepat jadi anak-anak. Yang anak-anak jadi remaja. Yang remaja jadi orang dewasa. Yang dewasa tiba-tiba jadi orang tua. Begitulah jalannya daripada roda kehidupan.

Tak terasa sekarang akhir tahun 1961. Situasi politik dalam dan luar negeri banyak berubah. Di luar negeri, Presiden Amerika berganti sejak Januari kemarin. Pahlawan Perang Dunia Dua, Eisenhower, diganti oleh laki-laki muda tampan baru berumur di awal empat puluhan bernama John. F. Kennedy. Kennedy bawa harapan pada blok barat. Ia punya pikiran terbuka. Modern. Demoktaris.

Di blok timur, Nikita Kruschev masih berkuasa. Ia coba teruskan prinsipnya Karl Marx, Lenin, dam Stalin : sosialis komunis. Sovyet kuasai banyak wilayah sejak perang dunia dua selesai. Mereka coba tanam lagi pengaruhnya ke Negara dunia ketiga yang baru merdeka kemarin sore, masih coba cari jati diri, dan coba berdiri tegak di tengah pengaruh blok barat dan timur.

Seharusnya dalam persaingan keras dua blok tadi, posisi Indonesia adalah netral karena negara ini merupakan pemimpin Negara Non Blok yang baru saja dideklarasikan. Hanya saja daya tarik kedua blok tersebut sangatlah besar. Indonesia suka tidak suka mulai dipaksakan condong ke arah salah satu diantara kedua blok tadi.

Lusi, gadis cantik calon mata-mata, hidup di era gonjang ganjing antara blok barat dan blok timur sebagai siswi tahun terakhir di Sekolah Khusus mata-mata. Ia tinggal tunggu waktu dilantik dan ditugaskan ke wilayah manapun yang butuhkan tenaganya. Namun demikian, sebagai siswi tahun terakhir yang dicalonkan menjadi lulusan terbaik diantara teman-temannya, Lusi harus hadapi ujian teramat sulit malam ini.

Kata kebanyakan siswa/siswinya yang sudah lulus : ujian nanti teramat sukar. Tidak pernah diketahui bentuknya. Hanya bisa dilukiskan sebagai “pengalaman paling tak terlupakan dalam hidup.”

Ujian terakhir nanti dijadwal tepat jam 24 nanti malam. Sebuah rumah besar di kawasan Menteng, Djakarta, akan menjadi tempatnya. Lusi tau ujian ini akan tentukan nasibnya. Ia harus sungguh-sungguh menghadapinya, akan tetapi ia tak mau terlampau tegang menjalaninya.

Pendidikan ala Belanda dari ayahnya mengajarkannya agar lebih santai menghadapi situasi. Alih-alih tertekan, Lusi diajarkan agar pandai mengalihkan takanan hidup ke sesuatu yang disukainya dan hal tersebut adalah menonton film bioskop.

Sejak ia masih kecil sang ayah rutin mengajaknya nonton bioskop. Tontonan mereka film-film bisu hitam putih yang menarik. Baru setelah bioskop besar Metropole berdiri di Menteng, Djakarta, tahun 1951, Lusi bisa nikmati film dengan ragam berbeda dan sejak saat itu pula, Lusi tetapkan hati gemari film-film buatan Amerika.

Film-film Amerika yang masuk ke Indonesia, tanpa disadari, telah membentuk corak pikirnya, kepribadiannya, dan membantunya lalui masa-masa sulit dalam hidup. Malam ini sebelum hadapi ujian akhir. Lusi ingin tonton film dahulu. Mumpung waktu baru tunjukkan pukul delapan malam. Lusi ke bioskop Metropole naik becak. Ia lalu turun di depan gedung bioskop sejenak nikmati pemandangan di depan.

Ia nikmati suasana Menteng di malam hari. Satu dua motor Vespa tampak keliaran di jalan. Juga empat sampai lima sepeda ontel ditunggangi bapak dan ibu yang bersemangat. Diantara mereka mobil bermerek Pontiac, Morris, dan Borgward melenggang di jalanan begitu megah menambah kesan bahwa Ibu Kota Negera memang layak berada di Djakarta.

Pada waktu asyik memandang kendaraan di jalanan Menteng, Lusi sadar banyak laki-laki disekitarnya yang memandangnya dengan tatapan takjub. Mereka seperti kaget lihat wanita secantik dia, dan bentuk tubuh sesintal dia hadir di tengah mereka. Malam ini, Lusi sengaja pakai gaun warna kuning terang tanpa lengan dengan balutan pinggang yang membalut pas badannya menambah kesan kesintalan tubuhnya yang jauh di atas kecantikan wanita pribumi pada umumnya. Rambut Lusi yang panjangnya sebahu dan berwarna kecoklatan diikat sederhana ikal kuda sebagaimana wanita-wanita barat.

Lusi dandan demikian cantik malam ini karena ia ingin menonton film bioskop terbaru yang keluar : The Breakfast at Tiffany's, sebuah film yang dibintangi salah seorang bintang film idolanya Audrey Hepburn. Lusi sangat mengidolakan Audrey Hepburn dan juga Marylin Monroe. Ia tak malu meniru gaya keduanya. Mencontoh cara membawa diri mereka. Cara bicaranya sampai hal-hal terkecil yang dilihatnya melalui layar lebar.

Setidaknya melihat Audrey Hepburn akan buat Lusi tenang. Sejenak pasti lupa ia beratnya tugas ujian terakhir. Barangkali nanti cara Audrey Hepburn bawa diri di film barunya akan bantu Lusi jalani kenyataan terburuk yang sebentar lagi harus dilalui demi bisa jadi seorang mata-mata.

Tepat di waktu Lusi sedang pikir lekat apa yang akan dilaluinya, pengeras suara gedung bioskop Metropole berbunyi mengabarkan kepada para penonton agar masuk ke ruang teater utama. Lusi tersentak. Ia maju bersama ratusan orang untuk memadati ruang teater yang biasa menampung sampai lebih dari 1500 orang. Penampilan Gedung Metropole adalah terbaik di Indonesia. Bangunannya merupakan corak arsitek modern yang tengah tenar di Barat dengan bangunan berbentuk kubus. Di dalamnya interiornya juga sama modernya. Para pengunjung akan dimanjakan matanya terlebih dahulu ketika melihat interior Metropole yang memiliki ornament unik, tak biasa dan indah.

Benar-benar memanjakan mata dan seluruh pengunjung akan dibuat takjub olehnya. Mereka tak akan kedipkan mata sampai lampu dipadamkan dan pemutar film tayangkan film di layar lebar. Sebuah film yang bagus. Penampilan Audrey Hepburn di Breakfast at Tiffany’s teramat prima. Lusi dibuat tersenyum bahkan tertawa sepanjang film. Apalagi di tengah film Audrey menyanyikan sendiri sebuah lagu indah berjudul “Moon River” yang membuat Lusi jadi tak kuasa menahan air matanya. Lagu ini sangat menyentuh.

Menggambarkan kemampuan menangkap permasalahan hidup secara romantis : sanggup mencari sisi baik dari kehidupan dan bukan berkeluh kesah karenanya. Lusi berharap bila ia menjadi mata-mata kelak, dan Indonesia terjebak dalam perang dengan negara mana pun, ia akan sanggup menangkap indahnya kehidupan di tengah gemuruh desingan senjata yang menyalak akibat konflik tak berkesudahan. Dan ia selaku wanita sanggup berdiri di atas konflik negerinya dengan tetap cantik tak terpengaruh oleh semuanya sambil menyanyikan lagu “Moon River” begitu merdu sebagaimana halnya bintang film favoritnya.


Rabu, 6 Desember 1961

Sebuah Rumah Kosong di Jalan Menteng Djakarta

Jam 24.00


Ujian terakhir bagi Lusi menjadi mata-mata terbaik akhirnya tiba. Ia harus datang seorang diri ke sebuah rumah di wilayah Menteng Djakarta. Wilayahnya orang-orang berada. Tempat mobil Volkswaggen, Alfa Romeo dan Chrysler biasa melintas. Wilayah yang hanya ditinggali oleh orang-orang dengan strata sosial tertentu. Rumah tujuan Lusi adalah rumah bekas orang Inggris dengan dinding kokoh dan halaman luas.

Kata sebagian siswa / siswi yang lulus pendidikan sebagai mata-mata, di dalam rumah ini tempat dilakukan ujian terakhir bagi siswa/siswi terbaik yang akan jadi mata-mata dengan tugas khusus untuk menyelamatkan kepentingan Negara melalui cara perang urat syaraf, psywar, atau sabotase. Tak semua siswa/ siswi bisa menggunakan cara ini. Hanya mereka yang terpilih saja. Sebab kemampuan orang berbeda-beda. Lusi dipandang sanggup. Ia jadi kandidat kuat yang bisa terapkan cara licik ini nantinya.

Tapi semuanya tergantung pada berhasil atau tidaknya ia lewati ujian di balik pintu ini. Lusi sendiri sangat gugup dibuatnya. Dengan hati berdebar ia ketuk pintunya.

“ Hei, Siapa di luar?” Tanya suara dari balik pintu setelah ketukan diberikan.

“ Saya Marylin Monroe.” Jawab Lusi.

“ Mau apa kesini?” Tanya suara dari balik pintu lagi.

“ Mau beli tas warna ungu.”

“ Kau tidak mencarinya di Bioskop Metropole??”

“ Tas warna ungu hanya ada di rumah ini bukan di bioskop Metropole atau di tempat lain.”




Lusi

Semua percakapan yang dilakukan merupakan simulasi pelajaran yang diterima Lusi selama empat tahun pendidikannya. Tidak satu kata dialog tadi boleh dituliskan. Semua harus disampaikan lisan agar menjaga unsur kerahasiaan.

Diantara pertanyaan dan jawaban satu dan lainnya harus tepat. Tidak boleh salah satu kali pun. Barulah ketika tanya jawab tadi sudah benar semua akan diiringi oleh pintu rumah besar menjadi terbuka dan dibaliknya tampak seorang wanita yang merupakan kakak kelas Lusi sendiri yang lulus dua tahun lalu berdiri disana mengenakan gaun rapih dengan rok selutut berwarna hijau dan rambut disanggul ke atas.

“ Selamat datang, Marylin Monroe,” sapa kakak kelasnya. “ Mau apa kau kesini?”

“ Saya kesini ingin beli tas warna ungu,” Lusi cepat menjawab. Walaupun kenal baik wanita di depannya, Lusi bersikap seolah tak kenal.

“ Tentu. Tas warna ungu hanya ada disini. Kita langsung saja kalau begitu. Ujian malam ini ujian terakhirmu. Ujian ini tak lain buat lihat seberapa cepat pikiranmu dan seberapa baik kau simpan rahasia. Kau sudah siap jalani ujian ini?”

Tak ada lagi jalan berbalik ke belakang. Lusi bulatkan tekadnya lalu jawab, “ saya sudah siap.”

“ Bagus. Semoga kau berhasil. Ujianmu malam ini dimulai dengan kau harus ingat baik-baik pesan ini. Jangan kau kasih tau siapa-siapa : tas warna ungu punyanya wanita bernama Yuk Jum. Kau ingat?”

Lusi cerna dan ingat baik-baik informasi yang didengar. Ia kemudian mengangguk.

Kakak kelasnya melanjutkan, “jaga rahasianya. Ujianmu malam ini ada di balik kamar itu, ayo kuantarkan!”

Mereka berdua berjalan bersisian di rumah bergaya Inggris. Lusi memperhatikan betapa mewah rumah yang tengah dimasukinya. Ruangannya besar. Diantara dinding-dinding terpajang lukisan pemandangan alam asri yang menggambarkan kondisi tanah Pasundan. Ada lukisan petani. Ada lukisan tukang becak. Juga terpajang lukisan pedagang pasar yang tengah berjualan di pasar tradisional.

Selain lukisan, ada juga guci antik, jam besar yang berdentang nyaring di jam-jam tertentu serta berbagai hiasan ukiran dari kayu maupun kristal yang menambah kesan mewah dari rumah ini. Sembari ia berjalan, Lusi ditanya sama kakak kelasnya,
“sebagai calon mata-mata wanita, apa yang kau mau lakukan dalam hidup ini?”

Lusi jawab. “ Apa saja yang harus dilakukan.”

“ Baik atau buruk?” Sambung pertanyaan kakak kelasnya.

“ Semuanya harus dilakukan.”

“ Demi apa?”

“ Demi kejayaan Negara ini.”

“ Kalau kau disuruh lakukan sabotase kau mau?”

“ Mau.”

“ Kalau kau disuruh lakukan perang urat syaraf kau mau?”

“ Saya mau,” Lusi tak mau pikir dua kali. Ia jawab cepat semua pertanyaan.

“ Cara apa yang akan kau pilih buat lakukan semua itu?”

“ Apa pun caranya.”

Kakak kelasnya mengangguk dengar jawaban Lusi. Sambil buka pintu ia bilang, “ masuklah! Ujianmu ada di dalam.”

Lusi mengiyakan. Ia masuk kamar. Dalam kamar terdapat satu ruangan besar dengan dua tiang berdiri bersisian dimana satu tiang melintang di atas kepala sebagai penghubungnya. Selain itu terletak satu ranjang dengan seprei biru dan satu kursi goyang yang masih bagus. Di bagian samping kiri kamar yang gelap duduk seorang sosok laki-laki yang tak bisa dilihat wajahnya karena ia duduk di tengah kegelapan beserta dua orang wanita di dekatnya yang berdiri pakai baju warna hijau tentara dan topi hijau.

“ Marlyn Monroe,” laki-laki yang duduk di kegelapan bicara. “ Sekarang ujian akhirmu. Kau sudah siap?”

“ Saya sudah siap.” Lusi tak bisa tahan getaran dari balik suaranya. Ia sedikit gugup melihat angkernya suasana di dalam kamar.

Hening sejenak. Tak ada yang bicara. Kedua wanita merapat ke laki-laki itu. Mereka tampak mendiskusikan sesuatu sejenak sambil berbisik-bisik. Setelah bisik-bisk selesai kedua wanita tadi maju dekati Lusi.

Keduanya pakai sepatu boot Tentara jadi berbunyi sepatunya waktu berjalan. Lusi lihat di pinggang mereka terpasang sabuk tebal di sampingnya ada bungkus pistol dan bungkus pisau belati. Kedua wanita tadi bentuknya mirip. Yang buat beda wanita satunya berahang keras. Satunya lagi giginya tanggal di tengah.

Wanita berahang keras maju lebih dulu, “ Kau Marylin Monroe,” ia langsung bentak saja Lusi tanpa keramahan sama sekali.“ Jalang sekali kau!”

Lusi tak ubah prinsipnya. Nyalinya tak ciut. Ia tetap angkat wajahnya tatap mereka.

“ Pakai baju mewah kayak gini,” wanita berahang keras sentuh gaun kuning Lusi. Ia tarik-tarik seperti Polisi tarik bajunya maling.

“ Kau tau mau apa kau disini?” Wanita bergigi tanggal gantian bertanya. Ditempelkan hidungnya ke hidung Lusi agar dekat sekali bicaranya.

Lusi menggeleng.

“ Kau ditangkap karena kau sembunyikan informasi penting. Sini tangan kau!”

Inilah ujian terakhirnya. Lusi membatin. Sudah dimulai.

Kedua wanita tadi tangkap tangan Lusi. Lalu ikat dengan seutas tali yang sudah dipersiapkan. Tangan Lusi dibawa naik ke atas tiang yang disiapkan di tengah kamar. Lusi lekas menjadi tak berdaya dibuatnya.

Wanita bergigi tanggal menunggu sampai Lusi terikat sempurna lalu dia berkata keras, “ kami dapat informasi kau tau siapa yang punya tas berwarna ungu. Kami tanya kau baik-baik, siapa dia yang punya tas warna ungu??”

Lusi tak menjawab.

Wanita berahang keras berjalan ke dalam kegelapan. Ia Lusi lihat ambil sesuatu. Sebuah kayu panjang. Ia lalu dekati Lusi sambil bilang, “kau mau jawab tidak?”

Lusi pilih menjawabnya, “ saya tidak tau apa yang kalian bicarakan.”

Wanita berahang keras tanpa aba-aba angkat tangannya yang pegang kayu lalu sabet punggung Lusi pakai kayu itu. Lusi memekik keras. Kesakitan ia. Punggungnya seperti terbakar. Wanita berahang keras tak kasian liat Lusi memekik. Ia sabet lagi punggungnya. Lagi dan lagi. Sampai Lusi jerit-jerit keras di dalam ruangan karena kesakitan.

Selang beberapa lama. Wanita berahang keras berhenti menyabet. Ia menjauhi Lusi.

Wanita bergigi tanggal gantian. Ia hadapi Lusi. Wajah Lusi tengah merunduk. Ia teramat kesakitan. Wanita gigi tanggal ambil dagu Lusi lalu diangkatnya terus bilang, “ siapa yang punya tas ungu??”

Lusi menggeleng. Lama ia tak menjawab sebelum akhirnya berkata, “ saya tidak tau.”

Wanita gigi tanggal pegang sabuk di pinggangnya. Di sana terpasang bungkus pisau belati. Ia cabut pisau belati dari bungkusnya. “ Barangkali kau perlu ditelanjang dulu baru kau mau bilang.”

Sengaja sebilah pisau dipamerkan di wajah cantik Lusi. Disentuhkan ke pipinya. Lalu tanpa ampun wanita bergigi tanggal sobek sobek gaun kuning Lusi begitu saja membuatnya jadi telanjang bulat di hadapan mereka.

Lusi berupaya menggapai-gapai tangannya ke atas saat ditelanjangi. Tapi ia tetap tak berdaya. Ikatan di tangannya terlampau kuat. Lusi hanya bisa pejamkan mata.
“ Siapa?” Ada yang bertanya. Lusi merem saja. Ia masih upayakan tahan sakitnya.

“ Keras kepala kau, ya.” ada yang bilang sesuatu kepadanya dengan suara keras. Lusi tak tau siapa karena masih merem matanya. “ Kalau begitu kau yang minta!”

Bersamaan dengan kalimat tadi Lusi disiram air seluruh tubuhnya. Tentu saja Lusi sontak menjerit kesakitan. Luka punggungnya masih segar. Disiram air akan bertambah sakit. Lusi mendelik nyeri.

“ Siapa???”

Tak jawab Lusi. Ia pejamkan lagi mata coba menahan sakit.
“ Heee siapa yang punya tas ungu. Kau lihat wajahku! Buka matamu atau kucongkel nanti matamu!!!”

Lusi takut. Ia buka mata. Rasa dinginnya bilahan pisau menempel di pipinya sudah mengarah ke arah mata. Takut sekali rasanya. Waktu ia buka mata wanita bergigi tanggal yang pegangi pisau mengarah ke matanya. “ Siapa yang punya tas warna ungu??” Tanyanya.

Mendengar Lusi masih keras hati. Wanita rahang keras ambil kabel dari kegelapan. Di belah kabel tadi supaya menjulur keluar lalu ia bilang, “ ini akan buat kau ngaku! Mampus, kau, wanita jalang!”

Sebelumnya Lusi disiram air oleh mereka. Tubuhnya basah. Ditempeli kabel yang menjulur keluar ia kesetrum. Gelombang lisrik menjalar seketika membuatnya tegang. Jantungnya kaget. Lusi mendelik. Ia benar-benar tak menyangka akan merasakan disetrum seperti ini.

Apalagi wanita gigi tanggal melakukannya tidak cukup sekali. berkali-kali ia setrum Lusi. Membuatnya pada akhirnya jatuh pingsan masih dalam kondisi terikat. Tapi pingsangnya Lusi tak membuat mereka berhenti. Lusi disiram lagi wajahnya. Dibangunkan. Disetrum lagi. Terus menerus sambil dipaksa jawab siapa yang punya tas warna ungu. Sama sekali Lusi tak goyah. Walau tubuhnya hancur lebur ia tetap tak mau jawab.

Termasuk ketika ikatan tangannya dilepas. Mereka bawa ember masuk ke kamar. Kepala Lusi direndam ke dalam ember sampai tak bisa nafas. Mereka terus benamkan sampai beberapa waktu baru mereka angkat kepalanya, kemudian mereka tanya, “ siapa yang punya tas ungu??” Lusi tak jawab. Mereka ceburkan lagi kepala Lusi, terus mereka angkat, tanya lagi, benamkan lagi. Begitu terus sampai pada akhirnya suara laki-laki yang berada di dalam kegelapan menghentikan aksi kedua wanita kejam ini, “ cukup! Kita sudah lebih empat jam siksa dia,” kata suara laki-laki tadi. Lusi masih gelagapan karena habis dipaksa kehabisan nafas terus-terusan. “ Sudah hampir subuh sekarang. Ujian sudah selesai.”

Lusi mendengar perkataan laki-laki tadi lalu pingsan. Ia betul-betul kehabisan tenaga setelah disiksa sedemikian berat.


Kamis, 7 Desember 1961

Sebuah Rumah Kosong di Jalan Menteng Djakarta

Jam 07.30


Lusi akhirnya membuka mata. Remuk redam badannya. Ia sadar tengah tidur telanjang bulat dalam posisi tengkurap. sehelai kain jarik menutupi bagian tubuhnya. Kepalanya disangga oleh bantal agar ia nyaman beristirahat. Mengamati kondisi sekeliling Lusi merasa masih berada di kamar semalam. Ia hanya dipindahkan dari yang semula disiksa di tengah ruangan sekarang berada di ranjang.

Tak ada lagi kedua wanita sadis berbaju hijau. Lusi merasa dibiarkan sendirian di kamar yang demikian luas. Namun demikian saat ia berpikir demikian sebuah suara pria terdengar nyaring. “Sudah bangun, kau?” Tanya suara seorang pria.

Lusi berupaya mencari. Diketahuinya suaranya berada di dalam kegelapan. Rupanya ini suara pria yang menyiksanya semalam. Tak lama suara itu melanjutkan, “ selamat, Lusi. Kau lulus. Peringkatmu terbaik. Kaulah yang akan memiliki ijin khusus melakukan aksi psywar atau sabotase dan perang urat saraf diantara teman-teman angkatanmu.”

Lusi tak terlalu senang mendengarnya. Juga ia tak antusias. Kekuatan tubuhnya masih belum kembali. Ia masih lemas. Tapi ia coba memberikan respon. Meski lemah ia bilang, “siapa kau sebenarnya??”

Pria di kegelapan mendengar pertanyaannya. Ia bangkit dari kursinya. Derap langkahnya mendekat. Ia adalah pria jangkung dari bayangannya. Terlihat berotot semakin ia mendekat. Dan ketika secercah cahaya menyapu tubuhnya Lusi tercekat. Ia kaget bukan main. Sambil setengah berteriak ia bilang, “ Mas Pardjo.. Rupanya kaulah yang berada di balik kegelapan itu.”

Perasaan Lusi langsung berubah. Ia melihat Pardjo. Laki-laki yang dicintainya. Tubuhnya yang lemas seperti mendapatkan tenaganya kembali. Coba bangkit ia namun ditahan oleh suara Padjo yang mengatakan, “ tidak usah bangkit dari tidurmu. Kau masih sangat lemah.”

Pardjo lah yang kemudian mendekati Lusi lalu duduk disampingnya di ranjang. Lusi lihat Pardjo tak banyak berubah. Hanya kumis tipis saja sekarang melintang di bawah hidungnya membedakan ia dengan dirinya dua tahun silam.

“ Hebat kau, Lusi. Selamat, ya!” Pardjo mengelus rambut Lusi dengan perasaan sayang. Rambut itu semula dikuncir kuda. Namun setelah Lusi pingsan terakhir, ikatannya sengaja dibuka agar ia bisa tenang beristirahat.

Lusi menikmati benar dielusi Pardjo. Ia rasakan kehangatan tangannya. Ia coba pegang dan rasakan betul guratan kekuatan dan kejantanan yang tersirat disitu. Namun Lusi rasakan sesuatu saat ia sentuh tangan kanan Pardjo. Penasaran betul ia. Lalu dipandangi tangan Pardjo baik-baik kemudian bilang, “ cincin kawin. Kau sudah kawin, Mas??”

Pardjo tak mengelak. Ia hanya anggukkan kepalanya sambil menjawab, “ betul. Dua tahun yang lalu. Tak lama setelah lulus. Kedua orang tuaku yang jodohkan aku.”

Hancur rasanya hati Lusi. Porak poranda jadinya. Dari senang jadi sedih hatinya. Air mata mulai keluar dari matanya tak menyangka kekasih hatinya sudah ada yang punya.

“ Maafkan aku, Lusi, bila aku menghancurkan hatimu,” Pardjo tak coba lepaskan tangan adik kelasnya yang terus memeganginya walau sudah tau Pardjo sudah ada yang punya. “ Maafkan, aku!”

Lusi hanya bisa dekatkan tangan Pardjo pada wajahnya. Lalu ia ciumi tangan Pardjo sambil tumpahkan segala duka lara hatinya. Ia menangis sejadinya di tangan kakak kelasnya. Cukup lama. Sampai akhirnya Pardjo bilang, “ aku sudah siapkan gaun baru yang kuyakin pas di badanmu. Gaunnya nanti kuambilkan. Kau pakai, ya! Setelahnya kau bisa segera jalani hidupmu sebagai mata-mata wanita nomer satu. Dan kau… bisa mulai lupakan segala kenanganmu tentangku.”

Pardjo coba lepaskan tangannya dari jeratan tangan Lusi namun tak dilepas oleh adik kelasnya. Lusi masih genggam erat tangan Pardjo. Ia berkata lirih, “ Mas, aku sedih.”

“Aku mengerti. Dan aku pun tak coba bela diriku. Aku sudah coba katakan padamu waktu itu.”

Lusi makin pererat genggamannya di tangan Pardjo. Ia bilang, “ Bisakah aku mohon satu hal padamu, Mas?”

“ Apa itu??” Walau tangan kanannya digenggam erat, Pardjo gunakan tangan kirinya buat elus rambut adik kelasnya. Bibit rasa cinta dan sayang masih jelas hadir di hati Pardjo.

“ Bolehkah aku mohon kau memberikan kehangatan padaku, Mas. Sekali ini saja.” Lusi menyampaikan permohonannya sambil berlinang air mata.

“ Maksudmu??”

“ Aku ingin kau memberiku kehangatan, Mas. Setelah kau hancur leburkan tubuhku semalam. Persatuanku denganmu akan mengobatinya.”

Pardjo menggelengkan kepalanya. Ia berkata, “ tapi kau tau aku sudah ada yang punya Lusi.”

Gantian Lusi mengangguk. Ia menjawab, “ jujur, aku cemburu dengan istrimu, Mas. Amat cemburu. Tapi aku tak akan coba merebutmu darinya. Aku hanya ingin sekali saja merasakan kehangatan dan kejantanan tubuhmu.”

Pardjo diam. Ia pikirkan baik-baik permohonan adik kelasnya.

“ Anggaplah sebagai hadiah kelulusan darimu buatku, Mas.”

Genggaman tangan mereka makin erat. Pardjo rasakan benar denyut nadi wanita di tangannya menghangat. Pardjo sadar tanda-tanda apa ini. Ia tanya lembut kepada adik kelasnya, “ kau yakin mau lakukan ini??”

Lusi segera jawab, “ Aku bukan hanya yakin. Aku malah mohon kepadamu.”

Pardjo menimbang sesaat. Ia memutuskan, “ baiklah bila demikian adanya. Aku akan coba berikan kehangatan yang kau inginkan.”

Lusi tersenyum.

Ia menangis sejenak karena haru. Genggaman tangannya di tangan kekasihnya dilepas. Memberi waktu Pardjo bangkit melepas baju dan celana yang melekat di bajunya lantas berdiri di samping Lusi layaknya seorang pejantan. Tubuh kakak kelasnya masih sedemikian berotot. Di perutnya terpahat guratan otot demikian kuat.

Pardjo pandangi tubuh Lusi. Tampak molek tubuh adik kelasnya ini. Warna kulitnya putih. Lekuk tubuhnya benar-benar mengundang selera. Gunakan lengan kekarnya Pardjo ambil satu helai jarik yang tutupi tubuh Lusi kemudian ia tarik. Adik kelasnya yang teramat cantik segera saja telanjang bulat dihadapannya.

“ Aku…” Namun demikian Pardjo sejenak ragu. Ia ragu apakah yang ia lakukan sekarang benar atau tidak. Sudah punya istri ia. Bahkan sudah punya anak yang masih bayi. Pantaskah berbuat seperti ini.

“ Janganlah kau ragu, Mas! Aku tak mengharap banyak darimu. Yang aku harap hanya satu kali ini saja kau menghangatkanku dan sudah cukup buatku. Janganlah kau ragu, Mas! Pergaulilah aku! Dan perlakukanlah aku semaumu!”

Perkataan Lusi membuat Pardjo yakin. Ia rebahkan dirinya peluk Lusi dari belakang sambil menindihnya. Sempat Lusi mengernyit nyeri karena dada dan perut Pardjo bersentuhan dengan lukanya di punggung. Namun Pardjo tak pernah berniat menyakitinya. Pardjo hanya berupaya memeluknya erat sebagai bentuk rasa cinta dan sayang.

Rasanya begitu lembut sekali Pardjo memeluknya. Dadanya yang bidang menyentuh punggung Lusi. Lengannya yang kekar mengelusi pinggangnya. Bibir Pardjo yang dihiasi kumis ciumi tengkuknya pelan coba bangkitkan percikan api gairah diantara mereka. Lusi merasakan cinta hadir memeluknya. Jantan sekali. Penuh kekuatan. Penuh pesona. Rasa sakit yang semula hadir tak dirasakannya lagi.

Alih-alih sakit, Lusi malah mulai rasakan nikmat. Ia peluk kedua tangan Pardjo yang hinggap disisi tubuhnya. Ia rasakan dari bagian pantatnya kontol Pardjo yang semula masih kecil ukurannya sekarang bangkit tegak menggesek pantatnya terus. Lusi coba menggesek balik pantat itu membuat Pardjo makin mempererat pelukannya.

Pardjo merasa mulai bergesekan organ intim mereka. Ia coba rubah gerakan. Ia sekarang turun ciumi pundak dan punggung atas Lusi yang tak terlukai semalam. Ia ciumi pundak Lusi. Ia kecup. Ia jilati. Sembari kedua tangannya mengelusi pinggang adik kelasnya yang indah. Pardjo takjub akan betapa indahnya punggung Lusi.

Betul-betul Pardjo nikmati benar menciuminya. Ia lama hisap-hisap pundaknya yang terbuka bebas. Lusi merinding diperlakukan begitu. Kumis Pardjo yang bergesekan makin membuatnya merasakan gelombang nikmat mulai datang perlahan jalari tubuhnya.

Namun begitu Pardjo tak tega melihat luka di punggung Lusi bagian tengah dan bawah yang jadi sasaran sabetan semalam. Terhitung ada lebih dari sembilan luka bekas sabetan masih menganga disana. Pardjo tak tega melihatnya. Ia turun terus. Melihat pantat bulat montok Lusi terhampar, Pardjo teruskan turun. Terus ia lewati betis adik kelasnya lalu berhenti di kakinya. Sampai disana Pardjo tekuk tungkai kaki Lusi lembut biar terangkat kakinya yang sebelah kanan, lalu ia kecup lembut tumit kakinya.

“ Mas apa yang mau kau lakukan dengan kakiku?”

Lusi masih terbaring lemah dalam keadaan tengkurap. Ia bingung rasakan kelakuan Pardjo yang ciumi tumit kakinya lantas beralih ciumi jari kakinya satu per satu. Lusi geli awalnya. Tapi ia kemudian merasakan enak. Tak sangka ia rupanya enak jari jemari kakinya dihisap satu per satu oleh Pardjo.

Di lain pihak Pardjo memang nikmati benar apa yang dilakukannya. Sama sekali tak jijik ia emuti jari jemari kaki Lusi. Alih-alih jijik, ia malah sangat menikmatinya. Jari jari kaki Lusi lentik. Amat nikmat buat dijilat dan dihisapi. Seperti membuat ketagihan. Maka setelah habis jari jemari kaki kanan Lusi dihisap, Pardjo ganti naikkan kaki kiri adik kelasnya lantas ganti menjilati jarinya yang kiri.

Sebagai wanita Lusi merasa amat tersanjung dengan kelakuan Pardjo. Ia bak menjadi tuan putri. Diperlakukan sedemikian istimewa oleh pejantannya. Apalagi waktu Pardjo rebahkan kembali kaki kiri Lusi setelah puas menjilatinya, serangan Pardjo beralih ke betisnya. Pardjo gunakan lidahnya buat jilati betis Lusi. Seketika membuatnya merasakan geli namun nikmat sekaligus. Selagi asyik jilati betis, kedua tangan Pardjo ikut elusi paha Lusi diatasnya. Tentu saja adik kelasnya mulai rasakan nikmat makin menjadi dan mulai mendesah nikmat.

“ Mmmm, Mas,” rintih Lusi. “ Aaaauuu.”

Semua jilatan di betis perlahan dilakukan Pardjo. Ia tak mau buru-buru. Baginya tubuh Lusi demikian indah. Beda sekali dengan istrinya di rumah. Tubuh Lusi demikian istimewa membuat Pardjo betah lama bermain di tubuhnya. Termasuk saat Pardjo telah tiba di belahan paha adik kelasnya ia tak ingin gegabah.

Pertama Pardjo regangkan dulu kedua kaki Lusi agar lebih lebar terbuka. Hal ini dilakukannya supaya paha Lusi sebelah dalam bisa dia jilati sekaligus ia mulai bisa lihat dan hirup aroma khas memek yang selalu membangkitkan kontolnya agar makin tegak. Tanpa sepengetahuan Lusi, Pardjo memang sangat senang cium aroma memek wanita. Juga aroma dari lubang duburnya. Aroma keduanya khas. Hanya dimiliki oleh wanita yang tengah bergairah. Pardjo amat menikmati aromanya dan dengan menciumi aromanya pulalah Pardjo mulai garap paha putih Lusi yang montok. Ia hisapi. Ia jilati.

“ jangan, Mas, geli… ampuunnn,” Lusi sontak meronta. Tak sangka ia akan dirangsang sedemikian hebat. Ia coba meronta. Tapi setiap kali muncul perlawanan dari Lusi, Pardjo padamkan perlawanannya. Ia kunci paha adik kelasnya. Ia pegangi kuat. Terus ia jilati lagi. benar-benar Lusi dibuat gila oleh kelakuan Pardjo. Tak kenal lelah Pardjo jilati Lusi. dan Lusi juga makin kencang desahannya, makin basah memeknya oleh segala kelakuan Pardjo di pahanya.

Semua tingkah polah Lusi ini terus diperhatikan Pardjo. Lusi kini lebih kuat tenaganya. Lebih jelas ekspresinya seperti wanita yang tengah dilanda birahi. Pardjo sambil jilati paha adik kelasnya terus ciumi aroma dari memeknya. Ia perhatikan memek Lusi hadir tanpa jembut. Tampaknya ia pakai obat perontok jembut supaya tak ada rambut disana. Pardjo terpesona betul lihat memek yang tanpa rambut ini. Memek yang bersih bikin aromanya waktu terangsang jadi makin menyengat.

Pardjo suka sekali cium aroma kelamin wanita. Sekarang ia dapat kesempatan emas. Ia hirup baik-baik memek Lusi sambil kedua tangannya regangkan bongkahan pantatnya. Lusi sendiri sama tak tahannya tangannya mencengkram bantal kuat. Ia mulai tak kuasa tahan memeknya semakin membanjir oleh cairan nikmat. Dan waktu Lusi rasakan lidah kakak kelasnya mulai jilati memeknya, ia langsung lupa diri. Lusi mendesah. Ia meraung.

Kedua tangannya keras mencengkram bantal. Lembut sekali lidah Pardjo dirasakannya. Amat memabukkan. Membawa kenikmatan teramat sangat karena menggesek memeknya tepat di bagian yang paling nikmat.

Rasanya mirip sekali dengan keadaannya diestrum semalam. Lusi merasakan tubuhnya bagai disetrum namun secara lembut. Kedua puting susunya yang tergencet oleh ranjang karena posisinya tengkurap ikut bangkit akibat memeknya dijilati. Kedua puting susunya jadi sensitif. Jadi nikmat sekali.

Pardjo sangat menggilai aroma memek dan lubang dubur wanita yang tengah birahi. Ia lama sekali mengolah kedua organ Lusi ini. Sama sekali ia tak jemu. Tak juga jijik. Pardjo terus menjilatinya sampai Lusi menegang. Pantatnya sengaja diangkat. Supaya Pardjo bisa jilati bagian memeknya yang atas. Cengkramannya di bantal makin kuat seperti mencabik-cabik.

Melihat Lusi tegang Pardjo tunggu waktu yang tepat. Ia tau betinanya sudah di ujung kenikmatan. Hanya tinggal tunggu sumbu yang tepat agar dipicu. Dan Pardjo tau dimana sumbunya. Pardjo sudah pengalaman. Ia sudah nikah. Ia tau dimana itil wanita berada. Waktu pantat Lusi terangkat Pardjo tau apa yang harus ia lakukan. Ia cari itil Lusi yang kemerahan. Ia jilati sejenak lalu ia hisap dalam-dalam.

Lusi menggila dibuatnya. Ia meraung. Ia meledak. Ia muncrat dari dalam. “ Ampuuunn, Mas…. Aaaauuuuhhhhh.”
Dijilati terus oleh Pardjo Lusi muncrat. Ia sampai pada titik puncak nikmat. Sampai di kahyangan ia sekarang. Lenyap sesaat kesadarannya. Hanya tubuhnya saja yang terjungkat jungkit naik turun tenggelam dalam rasa nikmat teramat sangat. Setelah semalam merasakan siksaan fisik, kini Lusi giliran rasakan siksaan nikmat yang tak kalah dahsyat.

Tubuhnya berada diambang batas antara sadar dan pingsan. Mata lusi turun naik. Timbul tenggelam. Terombang ambing dalam dua kondisi kesadaran.

Sebuah kondisi ekstase keadaan diri. Keadaan keluar dari dalam kesadaran normal. Membuat ia yang merasakan meninggalkan pikirannya. Terbang jauh entah kemana untuk sesaat. Lupa diri. Lupa segala-gala. Meski hanya sebentar kondisi ekstase sangat memabukkan.

Lusi dibawa ke dalam kadaan ini oleh kakak kelasnya. Pria sejati dia. Pria yang tau apa yang diinginkan wanita. Ia mahir membawa Lusi lama mengalami keadaan puncaknya sebelum akhirnya Lusi tumbang di ranjang dalam keadaan lemas.

Lihat Lusi tumbang, Pardjo masih jilati Lusi sejenak sampai ia akhirnya berhenti. Badai pasti berlalu. Termasuk badai kenikmatan. Pardjo tunggu sebentar sampai badai wanitanya reda, baru kembali Pardjo peluki tubuh Lusi. Ia genggam kedua tangannya. Ia ciumi mesra. Lantas dibisikinya telinga Lusi lembut,“ nikmat??” Tanya Pardjo.

“ Sangat nikmat,” Lusi masih terengah engah. Nafasnya belum kembali. “ Aku tak sangka kenikmatan seperti ini ada.”

Pardjo peluk makin erat adik kelasnya. Saling berbagi kehangatan kembali mereka. Sembari nikmati detik demi detik waktu kehidupan. Tak ingin rasanya ada salah satu diantara mereka yang memisahkan pelukannya. Namun Pardjo sadari sesuatu ia bilang, “ kau masih perawan, Lusi. Sudah cukuplah permainan kita. Aku tak mau jadi pertama yang menyetubuhimu.”

Pardjo coba lepaskan pelukannya. Tapi ketika ia hendak bangkit tangannya ditahan oleh Lusi. Pardjo kembali memeluk wanitanya dan di saat yang sama si cantik bilang, “ tidak. Kau jangan pergi, Mas! Tunaikanlah dahulu tugasmu di tubuhku! Jangan kau cemas pada keperawananku. Kalau ada pejantan di muka bumi ini yang kuijinkan merenggut keperawanaku, Itu adalah dirimu, Mas.”

Pardjo terhenyak. Ia ingat Lusi tak pernah munafik. Ia selalu sampaikan jujur apa yang ia lakukan. Pernyatannya barusan juga benar. Adik kelasnya tak bohong. Pardjo hanya masih mencoba memperingatkannya, “ nanti kau akan kesakitan dibuatnya.”

Mendengarnya, adik kelasnya yang sintal tubuhnya tersenyum. Ia berkata balik, “ kau sudah setrum aku, kau sudah sabeti punggungku. Menurutmu rasa sakit apa lagi yang masih tersisa untukku?”

Pardjo hirup sejenak tengkuk Lusi. Ia reguk aromanya. Kemudian ia berkata, “ baiklah kalau kau memang ingin demikian.”
 
Terakhir diubah:
Mendengarnya Lusi kasih jawaban cepat, “ Mas lakukanlah cepat! Tapi tolong kau hadapkan tubuhku kepadamu supaya aku bisa melihat wajahmu waktu kau menyetubuhiku!”

Permintaan teramat aneh. Sangat aneh.

Pardjo tau tak mungkin merebahkan tubuh Lusi yang masih terluka parah punggungnya agar ia terlentang di ranjang dan bisa menatapnya. Ia hanya bisa mendudukkannya. Jadi untuk memenuhi permintaannya, terlebih dahulu ia duduk di pinggir ranjang kemudian Lusi dipangkukan di antara kedua kakinya. Posisi mereka berhadapan. Saling berpangkuan. Sembari berangkulan.

Rupanya ini posisi yang ideal. Pardjo bisa melihat betapa cantik adik kelasnya. Betapa indah tubuhnya. Sepasang payudara yang menyembul begitu montok ukurannya, amat tegak putingnya. Seolah menantang kejantanan Pardjo guna menuntaskan apa yang telah dimulainya sedari tadi. Kontol Pardjo masih tegak menantang. Memek Lusi telah berada di dekatnya tinggal menunggu diangkat dan diperawani.

Mereka berdua terus saling pandang. Deru nafasnya sama-sama saling berpacu. Wajah mereka merah diterjang nafsu kebinatangan. Mereka berdua sadar inilah saatnya. Sebelum ritual kontol menusuk memek untuk pertama kalinya Lusi berkata dulu pada Pardjo, “ tatap aku, Mas!”

“ Apa?” Tanya Pardjo.

“ Tatap aku ketika kau memerawaniku!”

Wanita yang berani. Pardjo pikir. Bukan wanita biasa. Mana ada wanita tidak merem kesakitan waktu memeknya diperawani?

Pardjo sebagai pejantan salut sama wanita pemberani. Ia akan tunaikan tugasnya sebagai pejantan sejati yang gagah perkasa untuk menghormati keberanian Lusi. Maka sebagai persiapan Ia angkat sedikit pantat adik kelasnya. Ia arahkan memeknya agar tepat mengarah di ujung kontol tegaknya. Mereka tak lepas saling pandang satu sama lain. Pada momen sakral ini semua berada dalam kendali Pardjo. Lengan kekarnya yang angkat tubuh Lusi akan tentukan jalannya ritual nikmat ini.

“ Lakukanlah, Mas. Jangan kau ragu!” Lusilah yang malah mendorong Pardjo agar segera memulainya.

Mendengarnya nurutlah Pardjo. Ia turunkan memek Lusi. Bertumbukanlah alat intim mereka berdua. Segera saja Pardjo merasakan memek Lusi rapat sekali. Terlalu sempit malah. Mentok jadinya.

Pardjo sedikit cemas. Kontolnya tau mau masuk. Ia coba angkat lagi. Turunkan. Mentok lagi.

Wajah Lusi mengernyit sakit. Rupanya tak semudah bayangannya. Tapi ia sama sekali tak gentar. Tetap ia pandang langsung wajah Pardjo. Tetap terangkat dagunya. Tak surut nyalinya. Ia bilang, “ jangan kau alihkan wajahmu dariku, Mas! Tetap tatap aku! Cobalah lagi!”

Demikian Lusi suruh Pardjo. Dan Pardjo coba lagi.

Satu kali. Dua kali. Berkali-kali mereka coba. Berkali-kali pula kontol Pardjo tak bisa tembusi memek adik kelasnya. Namun mereka berdua tak mau menyerah. Mereka terus berupaya sampai akhirnya kontol Pardjo bisa tegak sempurna di titik yang tepat.

Terbukalah sedikit demi sedikit selaput dara Lusi. Mulai masuk kontol Pardjo. Dari ujungnya sampai tembus ke dalam. Tertembus Lusi. Terbelah keperawananya. Masuklah kontol Pardjo ke dalam memeknya.

“ Aaaaauuuhhh, Mas….. Aaaahhhhhh.”

Lusi mendesah tanpa alihkan tatapan matanya dari Pardjo.

Pardjo pun sama. Merah padam wajahnya. Nyeri dan nikmat gabung jadi satu. Tak membuatnya alihkan wajahnya dari adik kelasnya yang cantik. Begitulah mereka berdua lalui ritual ini dengan saling pandang. Saling berbagi perasaan. Saling bantu membantu. Baru begitu berhasil mereka saling peluk mesra.

Pardjo dan Lusi memang pasangan yang serasi. Saling dukung mereka lalui kenikmatan persenggamaan yang pertama. Tak buru-buru mereka berdua. Mereka biarkan saja waktu berlalu dalam keadaan saling memeluk dengan keadaan kontol yang tertancap.

Hanya ketika mereka berdua sudah sama-sama rasakan memek Lusi mulai terbiasa ditancap oleh kontol tegak mereka mulai bergerak. Lusilah yang memulai pergerakan sekarang. Ia coba naik turun pelan. Pelan sekali awalnya. Menjadi meningkat sedikit demi sedikit kecepatan naik turunnya. Baru setelah benar-benar terbiasa, Lusi mulai cepat bergerak naik turun mengocok kontol Pardjo dengan memeknya.

“ Mas…. Nikmat sekali, Mas. Auuuuhhhh….”

Pardjo perkuat kaki-kakinya. Ia sadar betinanya mulai nikmati rasa kontol di dalam memeknya. Ia bantu percepat gerakan naik turun Lusi. Pemandangan wanita yang naik turun di atas seorang pria jantan segera tersaji indah. Melahirkan siluet persenggamaan paripurna. Di pagi hari yang indah. Di waktu sinar mentari mulai menghangat. Dua insan berbeda jenis kelamin saling genjot satu sama lain dalam panasnya persenggamaan.

Seiring waktu berjalan. Seiring semakin cepatnya pompaan Lusi di kontol Pardjo. Pardjo selaku penjantan butuh suatu perangsang agar kontolnya terus berdiri tegak buat imbangi nafsu betinanya. Ia butuh aroma yang menyengat. Aroma yang ia sukai. Di depannya kedua tangan lusi masih diam disamping tubuhnya saja. Masih menganggur. Pardjo coba pegangi kedua tangan itu lantas ia angkat keduanya tinggi.

Dari balik sana tersembunyi sepasang ketiak Lusi yang mulus tanpa rambut. Pardjo tempelkan hidungnya ke ketiak adik kelasnya yang cantik lantas ia hirup aromanya. Lusi kaget melihat Pardjo membaui ketiaknya. Coba ia lawan tapi Pardjo jauh lebih kuat darinya. Tak berdaya ia. Pardjo menang mudah. Ia berhasil nikmati ketiak mulus Lusi. Ia puas-puaskan hisapi aroma ketiak adik kelasnya yang harum. Lalu ia jilati dan ciumi tanpa ampun. Lusi jadi menggelinjang nikmat merasakan ketiaknya dijilati. Ia menggila. Semakin cepat ia naik turunkan tubuhnya.

Pardjo pun merasakan sensasi yang sama. Tambah tegak kontolnya menghirup aroma ketiak Lusi. Tambah kuat ia. Ia ladeni saja kecepatan gerakan kocokan memek adik kelasnya. Malah ia semakin tambah percepat dengan bantuan kedua pahanya.

Mendapati kecepatan persenggamaan yang meningkat, sontak saja Lusi rasakan memeknya berdenyut kencang. Ia ingin pipis. Ingin keluar. Awalnya seperti tertahan rasa pipisnya. Baru setelah sodokan Pardjo makin cepat, makin kuat, Lusi tak tahan lagi. Ia tengadahkan kepalanya. Ia pejamkan matanya. Ia gigit bibirnya.

Waktu jilatan Pardjo pindah hinggap di ketiaknya yang kiri, Lusi akhirnya meledak. Ketiaknya jadi sensitif. Nikmat sekali. Buat tumpah ruah air dari memeknya. Banjir keluar. Lusi sampai di langit kenikmatan tertinggi. Ia tak sadarkan diri.

Tibanya Lusi di puncak, bawa Pardjo rasakan hal yang sama. Sebab Lusi muncrat nikmat buat memeknya mencengkram kuat. Kontol Pardjo bak dicengkram. Dipelintir. Ia tak tahan lagi. Ia juga ingin keluar. Hanya Pardjo masih sadar. Ia tak mau hamili Lusi. Ia gunakan tenaga tersisa buat angkat badan Lusi. Ia cabut kontolnya segera buang pejuh nikmatnya di luar.



Bab 2

Pardjo : Kehidupan Rumah Tangga

Minggu, 6 Mei 1962

Rumah Kecil di dekat Lubang Buaya, Djakarta Timur

Jam 23.30


Pardjo baru pulang malam ke rumah. Tak terasa sudah tiga tahun Pardjo lulus dari Sekolah Khusus mata-mata. Ia sekarang dapat tugas di wilayah Ibu Kota. Situasi Ibu Kota memang sudah jauh berubah sejak Pardjo lulus tepat pada waktu Dekrit Presiden 1959 terjadi. Djakarta sekarang situasinya maju sekali. Pembangunan dimana-mana dilakukan demi menyambut ajang Asian Games, pesta olah raga Negara Asia ke empat yang akan dibuka oleh Presiden bulan agustus mendatang di Senayan.

Dimana-mana ada yang dibangun. Di pusat kota patung selamat datang sudah hampir jadi. Bentuk patungnya ada satu pria dan satu wanita menghadap arah utara sambil angkat tangan riang gembira sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Nanti bulan agustus patung ini akan sambut delegasi Asian Games yang datang dari negara-negara Asia.

Di sebelah patung ini Hotel Indonesia juga hampir rampung. Hotel bintang lima nantinya peruntukkannya. Pasti mewah. Bisa buat bangga Indonesia di mata dunia. Sebab bagaimana tidak, untuk ukuran Negara yang belum sampai dua puluh tahun merdeka, Negara kita sudah bisa bangun hotel bintang lima yang punya kualitas mumpuni. Bisa ditinggali juga oleh utusan Negara yang bakal berlaga di Asian Games keempat nantinya.

Tak jauh dari sana Monumen Nasional sudah terlihat bentuknya. Juga Gelora Olah Raga Bung Karno dilihat dari kejauhan amat megah dan membanggakan. Stadion sepak bolanya saja katanya bisa muat lebih dari 100.000 orang, dan masih dilengkapi berbagai sarana olah raga lain disekelilingnya. Ditambah lagi ada pembangunan gedung TVRI dan Jembatan Semanggi. Betul-betul semuanya tadi bikin tambah megah kota Djakarta. Tambah buat Ibu Kota bersolek. Biar makin indah bentuknya. Sedap buat dipandang mata mereka yang datang berkunjung.

Bagi Pardjo semua kemajuan Djakarta buat hatinya senang. Sebab Ia masih tugas sebagai mata-mata di tengah Kota Djakarta. Tugasnya berat. Ia harus bisa endus segala potensi bahaya. Cari sumber masalahnya. Kalau mungkin ia harus cepat selesaikan. Bila tak mungkin ia harus laporkan segera biar kantor mata-mata yang urus.

Malam ini Pardjo pulang habis selesai melaksanakan tugas. Penting tugasnya. Tapi tak pernah ia ceritakan sama istrinya. Pardjo hanya bisa simpan masalahnya sendiri. Ia pendam benar-benar. Biar masalahnya tak ikut masuk ke dalam rumah waktu Pardjo buka pintu rumahnya.

Sebagaimana biasa, begitu buka pintu Pardjo pasti lihat istrinya bangkit berdiri sambut dia dari duduk. Istrinya gak mau tidur kalau Pardjo belum pulang dan setiap Pardjo pulang istrinya pasti sambut dia dengan kalimat yang sama, “ Sudah pulang, Pak?”

“ Iya.” Pardjo jawab sambil lepas alas kakinya lantas taruh di luar. “ Bapak kemalaman ada kerjaan penting.”

“ Makanan ada, Pak. Tapi sudah dingin. Ada nasi sama tempe, tahu dan garem. Kalau Bapak mau air panas buat mandi saya siapkan.”

“ Enggak usah,” Pardjo duduk di salah satu kursi rumahnya. Hanya ada dua kursi di rumahnya. Kursi kayu sederhana. Pardjo duduk di salah satunya. “ Nanti Bapak mandi pakai air dingin saja.”

“ Nanti Bapak bisa sakit rematik.”

“ Enggaklah. Bapak masih muda. Masih kuat badannya.”

Pardjo keluarkan rokok dari kantong baju. Ia keluarkan macis dari saku celananya, ia petik biar keluar api, terus ia bakar dan hisap sebatang. Pardjo biasa tengadahkan kepalanya sambil hisap rokok. Biar enak waktu hembuskan asap nantinya. Sambil tertengadah ia pandangi lampu kuning yang menempel di dinding rumahnya. Lampu warna kuning di rumahnya kadang bikin pusing kepala melihatnya.

Untung Istrinya setia menemaninya duduk disampingnya menghisap asap rokok yang dihembuskan Pardjo. Mereka berdua sama-sama nikmati rokok. Pardjo hisap rokoknya. Istrinya hisap asapnya.

Sangat baik istri Pardjo. Wanita yang sederhana. Tahun sekarang baru masuk 17 tahun barangkali usianya. Tak pernah mengeluh. Tak pernah mau tau Pardjo kerja apa atau kerja dimana.

Istrinya gak pernah nuntut apa-apa. Hanya seorang wanita yang mengabdi di rumah untuk suami dan anaknya. Begitulah seharusnya wanita. Tugasnya di dapur saja sama di kasur. Wanita gak perlu kemana-mana. Gak usah jadi apa-apa. Gak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup di dapur saja. Urus suami sama anak.

Tapi Pardjo sudah pernah melanglang buana. Sudah pernah ia pandang dunia. Tak asing dia sama Amerika, Sovyet, atau Peking. Pardjo pernah ke New York Amerika satu tahun setelah lulus. Waktu itu Pardjo kawal Presiden Soekarno pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pardjo ingat Presiden baca pidato yang judulnya “to build the world a new”, artinya membangun keseimbangan dunia dengan prinsip saling menghargai dan tidak saling paksa ideologi masing-masing.

Presiden Indonesia tawarkan jalan tengah yang baik. Bisa buat solusi dari perang dingin blok barat- blok timur. Disana para undangan tepuk tangan meriah setelah Presiden pidato. Mereka kasih aplaus. Mereka hormati kecemerlangan pikirannya. Mereka takjub ada pikiran demikian cemerlang lahir dari sebuah Negara yang kemerdekaannya saja baru seumur jagung. Pardjo jadi saksi hidup peristiwa gemilang waktu itu. Ia lihat bagaimana kemajuan berpikir sudah tumbuh sedemikian pesat di barat sana.

Di barat, bukan hanya pikirannya, kaum wanita sudah sangat dihargai kedudukannya. Mereka ditempatkan dalam posisi tinggi yang tak terbayangkan oleh istrinya sendiri. Seorang gadis desa sederhana. Gadis kampung. Yang ikut Pardjo hidup di Ibu Kota. Baru umur 17 tahun. Sudah punya anak yang dua tahun umurnya. Ini yang buat Pardjo sayang sama istri dan anaknya. Habis hisap rokok sebentar ia tanya ke istrinya, “ Tono bagaimana keadaannya, Bu?”

“ Baik, Pak. Sehat dia. Sepanjang sore tadi dia main sama teman-temannya.”

“ Kamu awasi Dia, kan?”

“ Diawasi terus kok, Pak.”

“ Sekarang Djakarta lagi banyak bahaya. Anak kita harus kamu jaga baik-baik.”

“ Bahaya itu apa sih, Pak?”

Pardjo tak jawab istrinya. Ia hisap lagi rokok di tangannya yang makin pendek batangnya lalu hembuskan lagi ke atas. Pardjo sering lupa istrinya masih belum bisa baca. Kata “bahaya” mana tau dia artinya apa. Sedang untuk urusan sederhana seperti buang air besar saja istrinya masih suka buang air besar di halaman rumah bukan di dalam kamar mandi. Malah Pardjo sebut kata “bahaya”. Istrinya jelas tak mengerti.

“ Bu, Aku besok ada tugas. Dari pagi mungkin pulang malam lagi. Kamu jaga baik-baik Tono, nanti kalo dapat rejeki tak belikan kamu oleh-oleh,” ujar Pardjo sambil berusaha alihkan pembicaraan.

Istrinya senyum dengar perkataan Pardjo. Ia menanggapi, “ oleh-oleh apa, Pak?”

“ Kamu tak belikan baju baru di pasar baru, ya. Bajumu sudah sobek semua.”

Menggeleng istrinya. “ Gak usah repot, Pak. Kasian uangnya. Saya sama Tono pakai baju begini juga sudah senang.”

Pardjo mengangguk memahami kerendah hatian istrinya. “ Kamu itu mau diajak senang aja kok susah sih, Bu.” Pardjo hisap lagi batang rokoknya lalu hembuskan lagi.

Istrinya pandang dia malu-malu. Mikir lama terus tanya malu-malu, “ Pak, saya mau tanya.”

“ Tanya apa??”

“ Maaf, Pak.”

“ Gak usah minta maaf. Kamu gak buat salah apa-apa, kok, minta maaf.”

Istrinya merunduk malu.

“ Mau ngomong apa kamu?”

“ Simbok sebenarnya yang suruh saya ngomong ke, Bapak.”

“ Iya ngomong apa??”

Istrinya kembali merunduk. Ragu-ragu dia. Sebenarnya gak mau bicara tapi berusaha beranikan diri bicara. “ Kata simbok, saya disuruh gabung sama PKI, Pak.”

“ PKI?”

“ Maaf, Pak. Kalo Bapak gak boleh ya saya gak mau gabung PKI. Saya tergantung Bapak saja.” Istrinya tak berani mengangkat kepalanya waktu bicara sama suaminya.

“ Kenapa Mbok suruh kamu gabung PKI?”

“ Kata Mbok biar terjamin kebutuhan beras di rumah. Katanya, dimana-mana nyari beras mulai susah. Banyak yang kelaparan. Orang-orang PKI mau ngasih beras gratis buat anggotanya. Biar anggotanya gak kelaparan.”

Pardjo renungkan baik-baik pertanyaan istrinya. Pikirannya menerawang. Matanya mengudar masalah. Tatapannya kosong. Hanya asap rokok saja ngepul dari mulutnya. Pandangannya tertuju ke lampu kuning di atas. Lampu warna kuning ini buat tampah muter kepalanya.

“ Gimana, Pak??” Pertanyaan istrinya datang lagi.

“ Apanya?”

“ Saya harus jawab apa ke Simbok??”

Pardjo maju duduknya. Gak nyander lagi sambil tengadah kayak tadi. Ia tatap istrinya baik-baik terus bilang, “ Jawab saja Bapak tidak setuju.”

“ Iya, Pak,” istrinya langsung nurut. Gak bantah. Gak coba melontarkan pendapat.

Pardjo lanjut bilang, “ Indonesia sebenarnya memang lagi susah. Ekonomi di bawah sana morat marit. Tapi Ibu sama Simbok di kampung gak usah ikut-ikutan PKI! Bapak masih bisa sediakan beras buat Ibu sama Tono dan Simbok juga. Gak usah ikut-ikutan!”

“ Maafkan saya, Pak.”

“ Gak usah minta maaf. Kamu gak salah apa-apa.”

Istrinya tunduk lagi. Malu-malu lagi bicara pelan sekali, “ Kalo gitu nanti tak sampaikan ke Simbok ya, Pak.”

“ Iya. Sampaikan ke Simbok.”



Senin, 7 Mei 1962

Hotel Sriwijaya, Pojokan Jalan Veteran, Djakarta

Jam 10.00


Pardjo punya janji ketemu tamu di Hotel Sriwijaya. ia naik motor vespanya saja kesana dari Lubang Buaya. Sepanjang jalan gak mampir-mampir Pardjo. Ia langsung ke Jalan Veteran. Masuk ke parkiran motor dan mencari tamunya di lobby hotel.

Hotel ini hotel paling tua di Djakarta. Berdiri tahun 1872. Masih jaman Belanda. Dulunya bernama Hotel Cavadino. Sebelum jadi hotel, ini jadi tempat jual kue, permen, cokelat. Pardjo lihat gaya bangunan hotel ini masih setia sama gaya aslinya. Ruangannya tinggi-tinggi. Pintu pintunya dari kayu jati. Kualitasnya masih bagus sekali. Pasti nyaman orang yang tinggal menginap di Hotel Sriwijaya.

Ini juga yang mungkin jadi sebab tamu-tamunya banyak orang-orang bule. Pardjo lihat disekelilingnya sembari tunggu tamunya datang orang bule banyak berseliweran. Mereka pakai baju santai. Biar lebih adem tampaknya. Karena untuk ukuran mereka cuaca kota Djakarta pasti lebih panas dari Negara asalnya.

“ Pardjo, mohon maaf kau harus lama tunggu aku!”

Pardjo menoleh dengar namanya disebut. Sejenak ia mencari sebelum melihat seorang bule wanita berambut merah berdiri di sampingnya. Seorang wanita cantik. Wanita dari Uni Sovyet bernama Natalia. Hidungnya mancung sekali. Matanya biru. Warna rambutnya merah. Rambutnya dipotong pendek seleher. Kulitnya putih bersih. Natalia menggunakan pakaian gaun tanpa lengan warna biru dengan panjang gaun sampai lututnya. Sebagaimana tadi didengarnya, selain cantik tampilannya, Natalia juga lancar berbahasa Indonesia.



Natalia

Pardjo berdiri sambut dia. Ia salami sebagaimana layaknya seorang gentleman.

“ Bagaimana kabarmu, Pardjo?” Natalia tersenyum. Ia selalu senang dengan keramah tamahan Pardjo. Teman yang yang sudah dikenalnya sejak tahun 60. Pertemuan mereka terjadi pertama kali di Kota New York waktu Presiden pidato. Natalia dari KGB. Mata-matanya Uni Sovyet buatan Presiden Nikita Kruschev. Tugasnya sama kayak Pardjo. Jadi waktu mereka bertemu dua tahun lalu mereka cepat akrab dan setelahnya mulai saling berbagi informasi telik sandi satu sama lain.

“ Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?”
Natalia sejenak tak jawab. Ia naikkan jari tangannya satu sebagai isyarat agar Pardjo menunggu. Ia ajak dulu Pardjo pindah duduk di restoran hotel Sriwijaya. Dicarinya satu meja bundar yang kosong lantas mereka berdua duduk di kursinya. Natalia sengaja tahan obrolan mereka lebih lama. Ia angkat tangan panggil pelayan lalu pesan minuman. “ Kau mau minum apa, Pardjo? Aku yang traktir. Kau mau bir, wiski, gin atau tequila?”

Pardjo pikir sebentar lantas ia jawab, “ aku minta wiski saja.”

“ Aku juga pesan Wiski.” Kata Natalia. Ia kemudian tatap pelayan hotel yang sudah berdiri di samping mereka sambil berkata, “ oke kami pesan dua wiski.”

Mereka berdua kembali ke obrolan setelah pelayan pergi.
Natalia jawab pertanyaan Pardjo sebelumya, “ aku baik, Pardjo.”

Mereka berdua segera saja mengobrol seru. Awalnya mereka saling bagi pengalaman hidup masing-masing yang ringan topiknya, baru kemudian mereka bahas masalah penting.

“ Ada informasi penting yang kupikir sangat kau perlukan,” ujar Natalia.

“ Ada apa, Natalia?” Pardjo condongkan duduknya ke depan. Pembicaraan ini amat menarik baginya.

Sebelum wanita cantik ini menjawab, seorang pelayan berbaju rapih dengan celemek menempel di pinggang datang membawa baki minuman. Pelayan itu bilang, “ Permisi, Tuan dan Nyonya. Ini minumannya.” Disajikannya dua gelas di meja masing-masing berisi wiski. “ Mau ditambahkan air atau es batu, Tuan dan Nyona?” tanya si pelayan.

Pardjo minta ditambahkan es batu lalu setelah diisi ia ambil gelas wiskinya. Ia dekatkan gelasnya ke hidung lantas ia cium. Pardjo bisa mencium ini minuman wiski yang berkualitas tinggi. Wiski mahal.

Ia tak mau langkahi Natalia yang sedang ambil langkah yang sama dengannya sebelum menikmati wiskey. Ia tunggu dulu. Ketika Natalia memberikannya kode melakukan toast, mereka berdua kompak angkat gelas sama-sama lalu dekatkan gelas ke mulut.

Pardjo minum sedikit. Ia kunyah wiskey di lidahnya. Ia rasakan wiskinya menari di lidahnya. Baru kemudian menelannya. Demikian pula Natalia, ia minum wiski menggunakan cara masing-masing. Setelahnya mereka mulai kembali ke topik.

“ Kita lanjutkan pembicaraan kita,” Pardjolah yang mulai bicara. “ Info apa yang kau punya, Natalia?” ia ulangi pertanyaan sebelumnya.

Natalia mendekati Pardjo. Ia pelan sekali bicara. Tak lagi gunakan bahasa Indonesia tapi bahasa Uni Soviet. Artinya seperti ini, “ Dengar, ya! Aku dapat informasi akan ada serangan buat Presidenmu!”

“ Apa?”

“ Sebuah serangan.”

“ Siapa yang lakukan?” Pardjo juga bisa bahasa Uni Soviet. Ia tanya Natalia gunakan bahasa yang sama.

“ Dari kalangan kalian sendiri.”

Pardjo cerna betul informasi barusan. Ia kerutkan dahinya. Terus ia tanya lagi pakai bahasa yang sama, “ kapan serangan ini akan dilakukan?”

Natalia makin berbisik, “ pada waktu Ibadah besar dalam waktu dekat ini yang akan dihadiri oleh Presiden."

Mendengar info Natalia, Pardjo hampir tak bisa telan ludahnya sendiri. Ia angkat lagi gelas supaya bisa menelan. Ia cicipi pelan wiski di lidahnya. Diemut baik-baik. Biar bisa bantu tenang berpikir lalu ia jawab, “ satu minggu lagi akan ada pelaksanaan Ibadah Idul Adha. Presiden akan datang kesana. Apa menurutmu mereka berani serang Pemimpin Besar kami di momen religius seperti itu?”

Natalia tersenyum. “ Informasi kami selalu akurat.” Kebetulan Natalia sudah habis wiski di gelasnya. Ia pesan lagi ke pelayan. Dirubah duduknya biar tambah dekat ke Pardjo. Ia bisikkan pendapatnya, “ Kau mau tau siapa yang akan lakukan serangannya, Pardjo??”

Pardjo lekas mengangguk, “ tentu saja.”

Natalia ubah duduknya. Ia sandar lagi ke kursi. “ Untuk informasi ini aku tak beri gratis untukmu.”

Pardjo hela nafas mendengarnya.

Natalia lanjut bicara, “ aku minta dua hal darimu!”

Wiskey di gelas Pardjo tinggal seteguk. Pardjo teguk dulu tetes wiskeynya yang terakhir. Baru ia jawab, “ apa yang kau perlukan dariku?”

Natalia tersenyum. Ia seperti tau Pardjo pasti akan penuhi keinginannya. Sambil duduk bersandar ia bilang, “ pertama, aku perlu info darimu tentang kekuatan dari PKI di Indonesia.”

Pardjo terkejut mendengarnya. Ia potong Natalia, “ kenapa kau perlu informasi itu? Bukankah kalian seharusnya lebih tau??”

“ Tidak. Kami tidak tau dalamnya. Kami hanya tau luarnya. Kami perlu informasi menyeluruh luar dalam tentang mereka.”

Pardjo paham. Ia menyanggupi permintaan pertama. “ Lantas apa permintaan keduamu?”

Dengar Pardjo bertanya, Natalia agak merunduk pandangannya. Ia tampak malu, “ permintaan kedua adalah permintaan yang bersifat pribadi, Pardjo.”

“ Apa itu??”

“ Aku ingin kau layani aku lagi seperti di New York tempo hari.”

Cukup kaget Pardjo mendengar permintaan kedua Natalia. Coba ia gali sejenak ingatannya. Waktu itu, dua tahun lalu, selain menjadi teman bicara, sebenarnya Pardjo dan Natalia juga menjadi teman persenggamaan. Mereka berdua bisa cari waktu senggang diantara waktu acara kenegaraan untuk bersenggama.

Pardjo masih ingat betapa Natalia adalah partner yang liar waktu bercinta. Besar sekali nafsunya. Tak sangka Pardjo ia ingin ulangi lagi peristiwa dua tahun silam.

“ Kau ingin kita ulangi peristiwa di New York??”

Natalia tersipu malu. Pipinya merona merah. Ia bilang, “ Kamu mau, Pardjo?? Informasinya akan kuberikan setelah itu.”

Tak punya pilihan Pardjo dibuat oleh mata-mata cantik dari Sovyet ini. Ia bilang, “ baiklah. Akan kupenuhi permintaanmu.”

Natalia senang sekali mendengarnya. Pipinya makin bersemu merah.


Senin, 7 Mei 1962

Hotel Sriwijaya, Pojokan Jalan Veteran, Djakarta

Jam 11.00


Setiap orang punya selera bersenggama yang berbeda. Ada yang suka gaya biasa saja. Ada yang lebih ke arah luar biasa gilanya. Natalia salah satu diantara yang nomer dua jenisnya. Ia lebih suka sesuatu di luar kebiasaan. Makanya ia perlukan Pardjo. Sebab waktu di New York dua tahun lalu, Pardjo lakukan sesuatu yang ia inginkan dengan benar.

Sekarang pun juga sama. Pardjo turuti Natalia. Ia minta diikat dua tangannya di ranjang. Juga dua kakinya sekalian. Pardjo ikat dia pakai tali ikatan. Sudah disiapkan Natalia talinya. Pardjo tinggal ikat saja. Sebelum diikat Natalia sudah telanjang bulat duluan. Pardjo ikat dia dalam keadaan mata-mata cantik dari Blok Timur ini sudah telanjang.

Waktu lihat tubuh polos Natalia, Pardjo pikir tubuhnya idaman setiap kaum pria. Tubuhnya indah. Natalia tak punya suami. Ia belum tau yang namanya melahirkan anak. Tubuhnya belum pernah turun mesin. Masih kencang di seluruh penjuru tubuhnya. Pardjo bak berhadapan dengan sorang gadis yang masih benar-benar segar.

Namun demikian sayangnya Natalia tidaklah normal. Tidak. Ia tidak punya cacat tubuh. Hanya saja ia tak sanggup terangsang dengan cara bersenggama biasa. Barangkali karena Natalia berasal dari Eropa Timur. Disana keras orangnya. Kejam-kejam. Tak ragu mereka siksa orang sampai mati secara keji. Barangkali Natalia punya pengalaman tak mengenakkan soal senggama yang buat dia perlu cara lain supaya bisa terangsang.

Untungnya Pardjo tau caranya. Habis ia ikat Natalia. Ia duduk disampingnya yang telah telentang sempurnya. Pardjo bilang sebelum memulai, “aku tidak akan mulai sebelum kau bilang sudah siap. Aku tak mau menyakitimu, Natalia.”

Natalia pandang Pardjo lembut. Ia tatap sayu wajah Pardjo. Melihatnya buat Pardjo ingat Lusi. Adik kelasnya sesama mata-mata. Sudah satu tahun mereka tak jumpa. Pardjo rindu padanya. Namun ia tak tau tugas dimana Lusi setelah lulus dari sekolah mata-mata. Sekilas ingatannya berkelebat. Pardjo usir pikirannya sendiri. Ia tengah berhadapan dengan Natalia dan wanita cantik dari Sovyet ini sedang mengatakan, “ lakukanlah, Pardjo. Aku sudah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Hanya kau seorang yang tau cara menggauliku.”

Pardjo anggukkan kepalanya. Ia persiapkan diri. Ia bangkitkan tubuhnya yang semula duduk. Pardjo tak ubah posisi tubuhnya. Ia masih di titik yang sama. Di matanya Natalia benar-benat tak berdaya. Terikat sempurna di empat sudut ranjang dalam keadaan begitu menggiurkan. Pardjo lihat Natalia mirip Lusi. Ia tak punya rambut di ketiaknya. Hanya bedanya jembut Natalia amat lebat. Warna jembutnya sama merah seperti rambutnya. Melihat jembut itu setidaknya membuat kontol Pardjo berdiri tegak. Ia tau sudah siap melakukan aksinya.

Aksi Pardjo kini beda dari biasanya. Ia tak mencoba cium atau jilat. Alih alih melakukan keduanya kedua tangan Pardjo yang gerak. Tangannya mulai merambati tubuh Natalia dan memulai aksinya di ketiak si wanita cantik dari timur yang tengah tak berdaya. Pardjo sentuh ketiaknya lantas ia gelitik menggunakan kedua tangannya.

“ Aauuuuuhhh, Pardjo.”

Disinilah beda Natalia dibandingkan wanita biasa pada umumnya. Mendapati dirinya dikelitik ia tidak tertawa terbahak. Ia malah mendesah. Terangsang ia akibat gelitikan Pardjo di tubuhnya. Barangkali inilah yang disebut selera bersenggamanya yang tak biasa. Natalia perlu digelitik terlebih dahulu. Dibuat geli seluruh tubuhnya. Baru ia bisa terangsang.

Pardjo paham itu. Pardjo gelikitik terus si cantik dari timur dengan kedua tangannya. Kedua ketiaknya habis dikelitiknya. Natalia terus mendesah. Ia tampak berontak. Tapi tak coba melepaskan diri. Ia hanya tarik-tarik kecil ikatan yang membelit tubuhnya sebagai penyaluran rangsangan yang datang. Ia tak coba lepaskan dirinya. Pardjo bisa bebas gelitik terus Natalia di ketiaknya selama beberapa lama sampai si mata-mata dari timur ini terjungkat jungkit karenanya.

Melihat Natalia terangkat-angkat sembari terangsang begitu buat Pardjo pindah posisi. Ia turun jauh ke arah kakinya. Ia sengaja turun hendak menyerang kedua telapak kaki Natalia. Dan setibanya ia disana Pardjo gelitik si cantik dari timur. Seketika Natalia megap megap. Ia terangsang hebat telapak kakinya disentuh sedemikian. Sekali lagi ia tak tertawa. Sama sekali tidak. Ia malah merem melek keenakan sembari mendesah lantang, “ Pardddjjjjjoooo auuuuhhhhhh terus, Pardjo……..”

Dapat dorongan dari bibir manis Natalia, Pardjo tambah semangat. Ia tambah gelitiki telapak kaki Natalia sampai si cantik makin liar. Dan sama seperti tadi, begitu Pardjo lihat si cantik lupa diri ia pindah posisi lagi. Pardjo kini ikut naik ke ranjang. Ia sentuh pahanya Natalia. Natalia merem melek keenakan. Kepalanya dibanting kiri kanan di atas bantal sebagai tanda ia suka dengan apa yang dilakukan Pardjo pada tubuhnya.

Pardjo tau persis tanda-tanda di tubuh Natalia. Ia tau saatnya. Ia sekarang naiki tubuh Natalia tepat di perutnya. Tidak ia duduki si cantik. Kesakitan nantinya. Pardjo tahan berat tubuhnya pakai kedua dengkulnya biar tak sakiti si cantik dari timur. Namun secara posisi Pardjo tepat di atasnya supaya lebih gencar serang ketiak Natalia lagi. Pardjo memang sengaja kembali ke titik awal rangsangannya.

Natalia paling senang ketiaknya digelitik. Waktu Pardjo mulai gelitik lagi Natalia terpejam matanya. Wajahnya tertengadah sempurna. Gelitiknya Padjo lebih hebat dari tadi. Lebih cepat. Lebih menyentuh setiap sudut ketiaknya. Natalia sontak lupa diri. Makin terbuka mulutnya. Terpejam matanya. Tergenggam erat kedua tangannya berupaya cengkram seprei tempat tidur.

Dari mulutnya yang terbuka, Pardjo sempat dengar Natalia teriak, “ Ahhhhhhh aku sampai, Pardjo…. Aggghhhhhhhhhhhh……………”

Setelah itu tubuh Natalia kejang. Tegang sempurna dia. Persis wanita yang habis disetrum listrik yang biasa dilihat Pardjo. Naik turun histeris tubuh si cantik. Terjungkat jungkit dia di ranjang. Kepalanya tertengadah buat bantu lepas segala kenikmatan yang harus dilepaskan.

Disini kedewasaan Pardjo terlihat jelas. Tak salah Natalia rela tunggu dia dua tahun buat bersenggama lagi. Sebab Pardjo sadar apa yang sebenarnya terjadi pada Natalia. Di bawah sana. Di puncak gelitik Pardjo pada tubuhnya, Natalia sebenarnya sedang terkencing-kencing. Pipis dia di atas ranjang. Dalam keadaan begini Natalia tak ingin Pardjo melihatnya menyemburkan cairan yang seharusnya ditumpahkan di kamar mandi bukan ditumpahkan di kasur.

“ Ahh Aaaagghhhh Aggghhhhhhhhh…………”

Natalia terus keluarkan desahan lantang. Pardjo tak henti gelitik dia. Di bawah sana Natalia terkencing-kencing banyak sekali sampai banjir ranjangnya.

Pardjo baru berhenti olah tubuh si cantik saat kepala si cantik dari Sovyet kembali dari keadaan tertengadah. Pardjo lihat wajah merah padam si cantik sejenak. Ia kagumi betapa lepasnya ia barusan tumpahkan gejolak syahwatnya. Pardjo tunggu si cantik ambil nafas. Tak masalah lama. Sabar Pardjo tunggu dia.

Natalia sendiri memang tengah habis tenaganya. Tenaga di kedua dengkulnya pergi tinggalkan dia. Kopong dia. Sejenak tak Natalia pedulikan kondisi ranjang yang pasti sudah basah kuyup karenanya. Semua air yang tumpah tadi adalah bentuk kerinduannya pada Pardjo selama dua tahun. Tak salah kiranya bila tertumpah begitu banyak. Natalia kumpulkan tenaganya sebentar sambil pejamkan mata. Begitu ia rasakan setitik tenaganya kembali Natalia buka mata.

Pardjo di atasnya melihat Natalia buka mata. Ia tersenyum penuh arti. Natalia balas senyumnya. Pardjo turun dari atas perutnya. Ia datangi lagi kaki Natalia. Kini dibukanya ikatan kakinya. Supaya ia bisa bebas.

Kini Pardjo bisa lihat betapa pipis Natalia memang seperti banjir bandang. Ia tumpah banyak sekali karena digelitik. Pardjo yakin sangat rindu mata-mata cantik dari Eropa Timur ini padanya. Barangkali apa yang akan ia lanjutkan akan buat kerinduannya makin terpuaskan.

Pardjo naik lagi setelah melepas ikatan. Tak ia hiraukan aroma pesing yang mulai terhambur di udara. Ia telanjangi dirinya sendiri. Ia perlihatkan tubuh kekarnya yang telanjang bulat kepada Natalia. Si cantik dari blok timur takjub. Kontol Pardjo tengah tegak. ia siap tunaikan tugasnya sebagai pejantan.

Kedua kaki Natalia dibukanya lebar. Diregangkan. Kemudian Pardjo dekatkan kontolnya ke memek Natalia yang berjembut tebal. Derasnya air yang mengucur tadi dari arah sini masih tergambar jelas. Becek benar memek Natalia. Sangat mudahkan Pardjo buat tusuk dia pakai kontolnya.

“ Auuuuggghhhhh aku rindu padamu, Pardjo!”

Natalia memekik lagi. Kontol Pardjo yang sempat menempel cepat sekali tembus memek licinnya. Bahkan saking licinnya kecepatan Pardjo bersenggama dengannya juga jadi demikian cepat. Dia naik turun bagai seekor kuda jantan.

Pada keadaan demikian nikmat. Pardjo tak mau lagi pakai acara gelitik. Sudah cukup tadi saja. Pardjo lihat kedua susu payudara Natalia. Sudah tegak sempurna mereka. Sudah terangsang berat minta dihisap. Jadi Pardjo hisap sambil peras keras-keras.

Natalia jerit, “ Pardjooooo…… Auuuuuuuuhhhhhhhhh..”

Bukan jadi lembek Pardjo dengar Natalia jerit. Ia malah makin keras perah susunya. Makin kuat dia gigit-gigit kecil putingnya. Buat yang punya makin belingsatan. Makin lupa diri. Makin tertengadah kepalanya siap muncrat lagi.

Pardjo tak perlambat kecepatan gerakannya. Justru makin dipercepatnya. Makin dihisapnya lagi. Lebih keras dari sebelumnya.

Hasilnya tergambar jelas. Natalia kembali pipis. Kontol Pardjo merasakannya. Mengalir deras ke luar air dari memek Natalia. Tumpah ke ranjang tanpa tertahan walau ada kontol Pardjo yang isi rongganya.

Pasti jadi makin pesing saja ranjang ini nantinya. Semakin basah kuyup saja. Apalagi saat Pardjo lepas sedotannya di puting susunya dan pindah arah jilatannya ke bagian kesukaannya : ketiak bule wanita cantik dari Sovyet. Pardjo nanar benar wajahnya. Sangat kepengen dia. Di kala tiba di ketiak Natalia ia jilati habis ketiaknya. Dihisapnya sampai ia rasakan benar saripatinya. Diciumi aromanya yang harum menyengat. Aroma kesukaan Pardjo.

Tambahan stamina baginya. Buat kontolnya makin keras. Makin kuat. Aroma ketiak Natalia bagai penambah semangat yang buat Pardjo tambah lagi kecepatannya makin cepat lagi. Ranjang Hotel Sriwijaya bisa-bisa sebentar lagi jebol dibuatnya.

Natalia kembali gelisah. Ketiaknya yang dijilati antar rangsangan hebat. Kembali ia siap meledak dan berteriak keras, “ Pardjjjjjjjooooo akuuu……..Sampai…………”

Dengan teriakan itu, sampai lagi si cantik ke titik puncak nikmat. Semburkan lagi memeknya cairan hangat dari dalam. Benar benar banyak. Pardjo dibuat tak sanggup tahan diri lagi kini. Terlalu licin memek Natalia. Teramat hangat. Pardjo tak kuasa tahan lagi. Ia cabut kontolnya. Ia angkat lalu ia tumpahkan pejuhnya ke perut Natalia dibarengi oleh jeritan nikmatnya sendiri, “ Aaaaggghhhhhhhh……..”


Senin, 14 Mei 1962

Lapangan Rumput Antara Istana Negara dengan Istana Merdeka, Djakarta

Jam 07.40


Hari lebaran haji tiba satu minggu kemudian. Ibadah Idul Adha sudah siap dimulai. Pardjo hadir di lokasi ibadah. Ia tegang bukan main. Cuaca tak terlalu panas sebenarnya. Tapi tetap saja menetes keringat dari dahi Pardjo. Keringat dingin dia. Keselamatan Presiden jadi taruhannya.

Sejak dapat info dari Natalia senin satu minggu lalu, Pardjo sudah hubungi kawal pribadi Presiden. Ia kabari mereka info dari sumber terpercaya akan datang serangan kepada Presiden. Dengar informasi dari Pardjo mereka percaya. Sejumlah mata-mata tentara, polisi, sipil disebar kemana-mana sejak semalam.

Hanya saja Pardjo dan seluruh mata-mata yang lain tetap tak tau siapa pastinya penyerangnya. Ia tunggu sampai sebelum ibadah dimuai keadaan masih aman. Masyarakat terlalu banyak jumlahnya. Pardjo makin bertambah cemas. Ia tak tau akan diserang dari atas, dari samping atau bawah. Semua masih tanda tanya. Natalia hanya kasih info tentang akan terjadi serangan. Serta berasal dari mana penyerangnya. Soal siapa dan bagaimana bentuk orangnya dia tidak kasih tau.

Pardjo terus lirak lirik kiri kanan. Masih tak ada yang mencurigakan.

Tak lama kemudian tanda ibadah sudah dikumandangkan. Seluruh jamaah berdiri siap menjalankan Ibadah. Pardjo berdegup kencang jatungnya. Ia takut serangan akan dilakukan tepat pada waktu Ibadah tengah dilakukan. Jaraknya dari Presiden masih cukup jauh. Mereka terpaut tiga saf jaraknya.

Waktu yang lain mulai ibadah Pardjo sengaja tahan berlama-lama. Ia masih sangat waspada. Seorang mata-mata memang harus waspada. Dan ternyata kewaspadaannya tepat. Serangan yang mengarah ke Presiden berasal dari saf yang sama dengannya. Sekitar lima sampai enam orang di sebelah kanannya. Melihat arah penyerang Presiden sontak bergerak Pardjo. Penyerang itu bidik senjata ke arah Presiden secara langsung. Kebanyakan pengawal sedang ikut ibadah. Perlindungan terhadap Presiden amat lemah.

Pardjo tak punya pilihan, ia lari terus loncat.

Cepat sekali gerakannya. Kalau Pardjo tak loncat pasti ia tak akan dapat tangan si pemegang senjata tepat waktu. Pardjo lontarkan tubuhnya. Ia hamburkan tubuhnya ke si penyerang lalu ia tubruk dia.

“ Dooorrr….”

Suara tembakan pun menyalak. Pardjo bisa membuat bidikan si penembak meleset. Pelurunya meleset dari Presiden beberapa senti saja. Si penyerang dan Pardjo sama sama jatuh. Mereka sempat bergulat sebentar, tapi tenaga Pardjo lebih besar. Ia bisa bela diri. Dengan jurus silat ia sikat rahang si penembak. Pingsan dia. Pardjo ambil senjatanya. Rupanya bukan hanya dia seorang yang mau serang Presiden. Dari baris sebelahnya lagi ada dua orang lagi cabut senjata. Mereka panik karena temannya sudah disikat. Mereka gemetaran tapi senjatanya tetap diangkat.

Pardjo gerak cepat. Ia mau tembak salah seorang dari mereka. Tapi kawal pribadi Presien gerak cepat ringkus mereka. Dalam waktu sepersekian detik yang menentukan, keselamataan Presiden dapat dilindungi. Kawal pribadi ringkus cepat para penyerang Presiden. Tiga-tiganya. Mereka semua diringkus dibawa menjauh segera. Pardjo ikuti mereka supaya dapat informasi apakah tepat informasi Natalia tentang dari mana mereka berasal.

Masyarakat yang kaget lihat serangan kepada Pemimpin Besarnya mengamati pasukan kawal pribadi waktu gelandang tiga orang penyerang keluar dari halaman Istana. Mereka saling bisik-bisik dengan wajah panik.

Pada momen ini, Pardjo sempat pikir barangkali inilah alasan sekolah mata-matanya menjadi penting. Mereka harus siap sedia setiap saat. Mereka harus pasok berbagai informasi yang akan jaga kesatuan Negara ini. Dan juga jaga keselamatan Pemimpinnya.

Tadi Pardjo lihat sendiri Pemimpin besarnya nyaris jadi korban sebuah serangan terencana. Ia bertekad akan menjaga baik-baik Pemimpin Negaranya. Tampaknya ia sudah ditakdirkan demikian. Sehabis lulus Pardjo diminta kawal Presiden Soekarno pidato di New York. Dua tahun kemudian dia bantu selamatkan Presiden dari upaya serangan yang bisa jadi, bila Pardjo tak cegah, akan buat dampak teramat fatal bagi Bangsa Indonesia.


Bab 3

Lusi : Bukan Wanita Biasa

Gelora Bung Karno, Djakarta

Minggu, 23 Mei 1965

Jam 13.00


Lusi pandangi halaman depan Gelora Bung Karno. Ada poster besar terpampang disana. Lima wajah pempimpin lintas sejarah. Ada Karl Marx, Lenin, Stalin, Presiden Soekarno dan Aidit di tengahnya. Semuanya, kecuali Presiden, tokoh-tokoh aliran kiri.

Di depan poster ada gapura besar bentuknya angka 45. Di atas angkanya ada gambar palu arit. Lalu di sekiling gapura 45 terbentang bendera palu arit dimana-mana. Merah warnanya. Kota Djakarta dari pagi memang jadi merah warnanya. Barangkali karena ini hari ulang tahun PKI yang ke 45.

Diperkirakan lebih dari 120.000 orang bakal datang ke Gelora Bung Karno. Seluruhnya anggota atau simpatisan PKI. Mereka ada datang jauh dari kampung. Berangkat bawa makanan seadanya. Naik bus, naik truk, ada juga naik sepeda ontel.

Kaum prianya ada pakai topi petani, pakai peci, atau pakai topi lambang palu arit. Yang datang sambil baris juga banyak. Mereka bawa perlengkapan musik sambil baris rapih sepanjang jalan mainkan alat musiknya. Lagu-lagu ciptannya seniman dari Lekra biasanya yang mereka mainkan.

Selain kaum pria, kaum wanita juga tak kalah aksi. Yang wanita datang macam-macam gayanya. Ada pakai baju hijau kayak militer. Dari Gerwani tampaknya. Mereka nyanyi lagu dari Banyuwangi yang judulnya genjer-genjer. Lagu ini katanya sebagai penyemangat sebelum maju ke garis depan.

Selain Gerwani ada juga ibu-ibu datang bawa bayi di gendongan. Lusi sedih melihatnya. Wajah ibunya kebanyakan masih anak-anak. Masih di bawah 17 tahun tampangnya masih kecil tapi sudah punya anak. Ada yang bawa anak satu. Ada yang bawa dua. Ada juga yang bawa tiga.

Dari pagi tadi mereka sudah padati Gelora. Antusias mereka mau ikut HUT PKI. Lusi sendiri baru tiba siang hari naik mobil bagus langsung masuk ke dalam Gelora. Ia masuk bareng salah seorang pimpinan anggota PKI. Naik mobil yang sama dari arah barat Djakarta. Karena gandeng pejabat, ia dapat akses masuk terus duduk di tribun utama dekat tempatnya Presiden nanti pidato.
 
Terakhir diubah:
Siang ini Lusi kenakan baju gaun kebaya cantik. Warnanya merah. Tampilan Lusi tak kalah cantik sama wanita-wanita Sovyet yang hadir disini. Mereka duduk di tribun utama. Lusi juga. Dan dia ngobrol santai saja sama mereka kadang pakai bahasa Sovyet. Kadang pakai bahasa Indonesia campur-campur.




Lusi dan Kebaya Merah

Begitu juga waktu ketemu wanita-wanita dari Peking. Lusi luwes saja ngobrol sama mereka. Wanita Peking yang datang kebanyakan pejabat dari sana. Ada istrinya sekretaris Pimpinan Partai Komunis China datang langsung dari Peking. Tak ada wanita pribumi di tribun yang berani dekati dia. Tapi Lusi tidak takut sama dia.

Lusi bisa bahasa Peking. Kecerdasannya pun di atas rata-rata. Jadi santai saja ia datangi istri pejabat dari Peking, ia salami, ia senyumi, ajak ngobrol hangat sebentar. Lusi tanyakan bagaimana kabar Mao Zedong dan segera saja mereka jadi akrab. Mereka ngobrol cukup lama. Saling bertukar informasi soal kabar terkini tentang situasi di dua belahan dunia.

Selepasnya Lusi tau diri. Ia undur diri lalu temani pria yang membawanya kesini. Seorang tokoh dari PKI bernama Syam. Orangnya jauh lebih pendek dari Lusi. Tak tampan wajahnya. Berasal dari jenis perokok berat. Giginya hitam. Kalau bicara bukan jadi tampan dia malah jadi tambah jelek.

Syam bawa Lusi kesini dengan sebuah maksud. Salah satunya biar teman-temannya kagum lihat pimpinan PKI punya wanita cantik, tinggi semampai berdiri di sampingnya. Coba bandingkan dengan teman-temannya. Paling banter mereka bawa wanita tak sedap dipandang mata ke acara ini. Syam? bawa seorang bidadari dia.

Tak salah kiranya bila sepanjang acara dia sedot perhatian kaum pria dan wanita disini. Mereka terpesona bukan sama Syam tapi sama tampilan mencolok kecantikan fisik Lusi. Kagum sama kecerdasannya. Salut sama kemampuan bergaulnya. Bahkan waktu Presiden Soekarno datang dikawal oleh pasukan Cakrabirawa kebanyakan mereka tetap saja curi-curi pandang melihat Lusi bukan ke arah Pimpinan Besar Revolusi.

Namun demikian waktu Presiden naik ke tribun utama ada seorang tamu yang gantian bikin Lusi terhenyak. Tamu ini bukan berasal dari kalangan tentara Cakrabirawa yang berbaret merah. Seorang tamu undangan biasa saja malah. Berbaju biasa. Tapi berwajah sangat tampan dengan kumis yang melintang tipis di atas bibirnya.

Tamu misterius ini tak lain, tak bukan bernama Pardjo. Kakak kelas Lusi. Sudah empat tahun tak ditemuinya. Ia Lusi lihat sejak masuk tadi selalu berdiri dekat sekali dengan Presiden dan duduk juga tak jauh darinya. Padahal hanya menteri, pejabat tentara, pejabat sipil, pejabat partai saja yang bisa dekati Presiden. Pardjo bisa dekati. Pasti posisi kakak kelasnya bukan main-main bagi Pemimpin Besar Revolusi. Demikian pikir sederhana Lusi.

Di lain pihak Pardjo sendiri juga sama. Ia tak sulit sadari kehadiran Lusi. Sejak duduk di barisan jajaran kursi kehormatan Pardjo cepat lihat Lusi duduk tak jauh darinya. Pardjo juga kaget melihatnya. Bila saja Lusi bisa baca perasannya, ia akan lihat perasaan Pardjo ketika pertama kali melihatnya campur baur tak karuan. Ada perasaan senang, kaget, heran dan juga bingung. Di satu sisi Pardjo lihat Lusi tampilannya bak bidadari. Di sisi lain ia sadar pria yang duduk disampingnya, dan terlihat bangga sekali ajak Lusi kesini, berasal dari salah seorang petinggi PKI.

Kontradiksi ini buat pertanyaan di benak Pardjo. Bikin ia tak serius simak pidato Presiden. Buat ia ingin segera dekati Lusi begitu seluruh tetek bengek protokol acara ini berakhir. Dan Pardjo benar-benar melakukannya. Begitu acara utama berakhir. Para tamu berdiri dari bangkunya. Mereka tunggu Presiden barangkali akan datangi baris tempat duduknya dan salami mereka.

Pardjo melipir dari rombongan besar yang jadi sorotan semua mata memandang. Ia bergerak senyap. Dekati Lusi dari belakang. Kebetulan Syam, pria di samping Lusi juga tengah maju coba dekati Presiden. Pardjo dapat momen langka bisa bicara dengan Lusi dan ia senggol lengan adik kelasnya kemudian bilang,“ Lusi? Apa kabar kau? Semakin cantik kau kulihat.” Pujian ini sungguh-sungguh berasal dari hati Pardjo.

“ Aku baik, Mas. Terima kasih atas pujianmu. Kau apa kabar??” Seandainya Lusi bisa Pardjo baca hatinya ia juga sama. Sebenarnya ia juga tak bisa tahan girang di hatinya. Ia tersenyum lebar bahagia. Perjumpaan setelah empat tahun lamanya amatlah berkesan. Apalagi Pardjo lah dalam pertemuan terakhir empat tahun lalu yang renggut kegadisannya. Bukannya sakit peristiwa empat tahun yang lampau itu, tapi sangat nikmat. Lusi tambah tak bisa lupakan Pardjo sejak momen yang demikian mendebarkan itu.

Walaupun ingin tumpahkan rindu, Pardjo dihadapkan oleh suara riuh disekitarnya. Terlalu banyak orang. Suara mereka menggaung ke seluruh penjuru. Pardjo hanya bisa cepat berkata ke Lusi, “ Sudah empat tahun kita tak ketemu. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!”

Apa yang tadi dikatakan Pardjo, Lusi juga ingin mengatakan hal yang sama. Ia juga ingin tanya banyak hal. Di tengah keramaian ia bilang sedikit keras suaranya, “ Mas disini terlalu bising. Temuilah aku di lantai lima, kamar lima, Ramayana wing Hotel Indonesia! Malam nanti pukul delapan. Ada yang ingin kuceritakan padamu.”

Kebetulan tidak lama kemudian, Syam sudah kembali mendekatinya. Pardjo sadari ini.

Lusi kedipkan matanya. Sebuah kode mata-mata. Mirip telepati. Hanya sesama mata-mata yang tau. Pardjo sambut kedipan mata Lusi dengan anggukan. Lalu seakan sudah janjian Lusilah yang maju lebih dulu dekati Syam.

Lusi maju. Pardjo maju. Sama sekali Lusi tak ingin Pardjo bertukar sapa dengan Syam. Pardjo juga sama. Ia sama sekali tak tertarik bicara sama salah seorang pimpinan partai komunis. Ia ingin jaga kerahasiaan diantara mereka berdua baik-baik.

Tapi tentu saja sebagai sesama pejantan, Syam sudah lihat kedatangan Pardjo ke betinanya dan ia curiga. Bagaimana Syam tidak curiga akan kemunculan seorang laki-laki ganteng yang dekat sekali dengan Presiden tiba-tiba dekati Lusi. Ia tanya cepat ke Lusi, “ mau apa dia??”

“ Tak apa-apa. Hanya sapa biasa saja, Mas,” jawab Lusi. Tetap anggun ia jawab pertanyaannya. Sesunging senyum tak pernah lepas hias wajah cantiknya.

“ Tak mungkin tak apa-apa,” Syam tak bisa sembunyikan rasa cemburunya. “ Kau pasti juga tertarik sama pria setampan dia, kan?”

Tak panik Lusi hadapi kecemburuan seorang pria. Sudah biasa ia hadapi. Ia cukup ucap, “ Kau lihat sedari tadi aku sapa dan hampiri semua orang di tribun utama ini. Dia salah satunya. hanya cakap-cakap biasa saja. Kau tak perlu cemburu!”

Mendengus kesal Syam dengarnya. Sambil cemberut ia bilang, “ Kau hati-hati sama dia!” Syam peringatkan.

“ Kenapa?”

“ Mata-mata dia itu. Mata-mata andalannya Presiden.”

Lusi coba pahami bahasa pria yang mengajaknya hadir di acara ini. Ia nilai sejenak. Ia timbang baik-baik. Bagaimana pun Lusi yang tercerdas di tahun lulus angkatannya. Ia sangat pintar. Tanggapi ucapan Syam barusan ia bilang, “ dari nada suaramu tampaknya kau takut sama dia, Mas? Apa dia bukan bagian dari mata-mata PKI?”

Pertanyaan yang cerdas bukan. Syam saja kaget dibuatnya. Ingin Syam jawab pertanyaan si cantik. Namun ia tampak sadar pertanyaan tersebut berbahaya. Maka ia tahan jawabannya. Lusi di sisi sebelahnya walau tak dijawab pertanyannya sudah cukup dapat jawaban dari lihat raut wajahnya Syam : Mas Pardjonya bukan mata-mata PKI.

Dasar pertanyaan Lusi tadi sumbernya dari perpecahan di tubuh mata-mata sejak awal tahun 1965. Kenapa Lusi tanya Pardjo mata-mata PKI karena para mata-mata Indonesia yang semula satu tiba-tiba pecah jadi dua. Satu pihak dukung PKI. Satu pihak anti PKI. Masing-masing pihak saling berebut pengaruh, saling memata-matai masing-maisng bahkan juga saling bunuh di jalanan.

Lusi ngeri lihat kenyataan perpecahan di tubuh mata-mata. Tiap hari ada yang mati di dalam hutan, di rumah, di toko, di jalan. Semuanya mata-mata. Ada yang dicegat di tengah jalan dibunuh seketika. Ada yang ditembak begitu saja. Ia khawatirkan keselamatan Pardjo.

Apalagi dalam konflik diantara mata-mata, Lusi dapat kabar Pardjo tak jelas posisinya. Sebenarnya berpihak pada siapa dia. Dukung atau anti PKI. Kalau Syam tadi saja khawatir sama keberadannya berarti dia bukan yang dukung. Tapi kenapa teman-teman mata-mata yang anti PKI juga tidak suka padanya. Mereka bilang Pardjo orang dekat Presiden. Tak mungkin dia tidak dukung PKI. Posisi Pardjo tetaplah ada di wilayah remang-remang bagi Lusi dan ia ingin segera tanyakan kepada kakak kelasnya secara langsung.

Tapi sebelumnya ia masih punya urusan sama Syam. Syam tengah diam. Ia kaget dengar pertanyaan Lusi tadi. Ia jadi diam. Tak coba lagi ajak bicara wanita cantik yang ia bawa ke Gelora. Lusi sadar diri. Ia berkata kepada Syam, “ Mas sudah mulai sepi disini.”

“ Betul,” Syam jawab singkat.

“ Mas jangan terlalu pikirkan pria muda tadi.”

Syam tatap Lusi baik-baik. Bagaimana wanita ini bisa baca pikirannya. Demikian kata benaknya yang kemudian ia ungkapkan, “ bagaimana kau bisa…”

“ Mau dia mata-mata Presiden, kek, mana bisa dia kalahkan kau, Mas? Kau salah seorang pimpinan PKI. Kau pria berkuasa. Apa artinya dia? Cuma semut dibandingkan gajah yang perkasa.”

Mendengar kalimat pujian dari bibir semanis Lusi buat kepala Syam jadi besar. Lenyap sudah bayang-bayang Pardjo dari benaknya. Syam tengah melambung tinggi. Bangkit kesombongannya.

Lihat raut wajah Syam tengah naik, Lusi lanjutkan bualannya, “ bahkan Presiden pun kalah kuasa dari kau sebenarnya, Mas.”

Makin melambung tinggilah Syam. Kakinya sudah tak pijak tanah lagi tampaknya.

Lusi semakin menjadi, “ Aku sangat senang lihat laki-laki punya kuasa besar seperti kau. Sangat tampan lagi sangat berkuasa. Aku jadi ingin mengenalmu lebih dekat, Mas. Lebih dekat daripada ini, ” kalimat barusan sengaja disampaikan Lusi dengan nada sedikit menggoda.

“ Kau serius ingin mengenal aku lebih dekat?”

Tanpa malu Lusi dekati Syam ia bisiki kupingnya, “ tentu. Tapi Aku tak mungkin kenal kau lebih dekat di tempat bising begini. Aku perlu tempat yang lebih intim.”

Syam seperti mau tumpah ludah dari mulutnya mendengar kata Lusi. Ngiler dia dengan kemungkinan mesum yang sudah terbayang.

“ Untuk wanita secantik dirimu Lusi. Hotel Indonesia dekat sini cocok buat kita,” Syam bilang sendiri.

Sebelumnya Lusi bilang ke Pardjo secara jelas lokasi pertemuan mereka nanti malam. Ia seolah sudah menyiapkannya. Pada kenyatannya tidak. Lusi belum pernah pesan kamar di Hotel Indonesia. Yang ingin ia lakukan adalah gunakan Syam buat dapatkan keinginannya. Hebatnya ia tak perlu bilang apa-apa. Syamlah yang tergiring buat ucapkan apa yang ada di kepalanya.

Syam sudah terbuai oleh ucapan indah Lusi. Ia ajak Lusi cepat turun dari Gelora, kemudian naiki kembali mobilnya dan mereka berangkat ke Hotel Indonesia bersama. Kemegahan Hotel Indonesia adalah termegah di seantero negeri. Hotel bintang lima satu-satunya. Diresmikan tanggal 5 Agustus 62 buat sambut tamu Asian Games ke empat di Jakarta.

Lokasinya di sebelah persis patung selamat datang. Karena diperuntukan buat bikin bangga rakyat Indonesia, hotelnya memang benar-benar megah. Lusi akui kemegahannya. Syam tidak. Buat Syam kemegahan hotel ini pasti kalah dahsyat dibanding bayangan di kepalanya tentang tubuh Lusi yang sintal. Dibalut oleh gaun kebaya warna merah tak buat Lusi jadi tampak jelek. Ia malah jadi makin menarik. Makin sintal. Makin mengundang selera.

Syam sudah tak tahan lagi tampaknya. Waktu Lusi bilang ingin pilih ruangan kamar di Ramayana wing lantai lima nomer lima, Syam terima saja. Mereka berdua naik. Lantas masuk kamar. Syam ingin segera serbu tubuh Lusi. Lusi tahan dia. Dengan anggun Lusi minta dia duduk. Ada yang ingin dibicarakan dulu sebelumnya.

Sempat cemberut Syam dibuat Lusi. Sudah tak sabar dia. Tak sanggup tahan sejenak saja. Sambil merengut ia bilang, “apa lagi yang harus kita tunggu??”

Lusi senyum manis saja. Ia bilang, “ jaminan buatku, Mas.”

“ Jaminan apa??”

“ Kalau ingin aku dekat dengamu, jaminan apa yang akan kau berikan padaku?” Lusi tatap mata Syam langsung, ia ambil nafas sejenak lalu lanjut, “ aku wanita. Aku perlu pegangan buat masa depanku.”

Syam terpancing oleh kalimat Lusi. Ia segera saja menghambur ucapan, “ Apa yang kau khawatirkan, Lusi? Aku salah seorang pimpinan di PKI. Partai kami akan jadi yang terkuat di Negera ini. Sebentar lagi akan menjadi….” Syam keluarkan semua unek-uneknya. Laki-laki yang tengah birahi. Ketika ditahan birahinya akan tumpahkan apa saja. Lusi tau kenyataan itu. “ Nanti kau akan menjadi…”
Lanjut Syam.

Panjang lebar Syam menceritakan rencana ke depan partainya yang sebenarnya begitu mudah Lusi gali darinya tanpa ia sadari. Dan begitu ia tiba di ujungnya Lusi mengatakan, “ sangat dahsyat jaminan yang kau berikan padaku, Mas. Percaya diri aku jadinya. Namun kau jangan marah ya! Tak semua keinginanmu bisa kupenuhi.”

“ Apa?? Apa maksudmu?” Syam mendelik marah. Merah padam wajahnya. Bangkit ia dari duduknya lalu bicara sambil mendelik, “ setelah kubayari semua hotel ini kau bilang kau tak bisa penuhi? Kurang ajar sekali, Kau!”

Lusi tenang. Ia katakan pelan saja, “ Aku sedang datang bulan, Mas. Sebentar. kau jangan marah dulu. Dengarlah dulu!” Melihat Syam hendak marah Lusi hentikan dulu dia. Baru setelah ia tenang, Lusi lanjut. “ Aku tak bisa penuhi nafsu birahimu di bagian bawah tubuhku. Tapi aku bisa penuhi kau di bagian atas tubuhku.”

Setelah ucapkan kalimatnya Lusi perlahan bangkit. Ia lakukan gerakan menggoda buat buka kebaya tubuh atasnya. Lusi lenggak lenggok tubuh bikin Syam terpana. Tak terlalu cepat ia buka bajunya perlahan saja. Bikin Syam panas dingin dibuatnya.

Lusi pelan baru buka bajunya setelah sekian lama. Ia lempar baju kebayanya ke Syam. Ia angkat kedua tangannya. Ia pamerkan payudaranya yang kencang. Puting susunya masih mencuat. Sepasang ketiaknya mulus menggoda tanpa rambut satu helai pun.

“ Kau barangkali tak bisa nikmati tubuh bagian bawahku, Mas. Tapi kau bisa nikmati ini. Tak mau kau sama ini??”

Ditanya begitu Syam yang sudah birahi wajahnya tentu saja tak akan menyahut tak mau. Ia angguk saja lantas maju tubruk Lusi. Ia rebahkan ke ranjang ia ciumi, ia jilati, ia nete ke payudaranya. Lusi pegangi kepala laki-laki yang nete ke susunya ia elus-elus kepalanya seperti anak kecil. Nanti ia akan puaskan Syam di bagian bawah tubuhnya pakai tangannya. Nanti. Sekarang biar ia nete dulu sepuasnya.


Lusi

Kamar Lima, Lantai Lima, Ramayana Wing, Hotel Indonesia

Minggu, 23 Mei 1965

Jam 20.00


Setelah layani Syam sebentar tadi sore, Lusi bersiap sambut Pardjo. Kekasih sejatinya. Bagi Pardjo mungkin tak demikian. Tapi buat Lusi ia betul kekasih sejati. Terakhir mereka bertemu empat tahun lalu dalam perjumpaan aneh. Pardjo muncul suruh dua orang wanita siksa dia habis habisan. Yang satu keras rahangnya, satunya lagi tanggal giginya. Mereka berdua siksa Lusi buat gali informasi. Siksanya pun tak main-main. Sampai mau mati rasanya Lusi kena setrum dalam kondisi badan basah kuyup.

Untunglah ia bisa bertahan tak sampaikan rahasianya. Kalau tidak ia pasti tak lulus dengan predikat terbaik. Di dalam diri Lusi memang sudah punya ambisi. Ia ingin jadi lulusan yang terbaik. Seandainya saja sebelum ujian ia tau Pardjo lah dalang di balik semua siksaan tadi, Lusi pasti akan pakai segala cara demi dekati Pardjo. Kakak kelasnya yang ia cintai.

Lusi tau Pardjo lulus terbaik juga dua tahun di atasnya. Kemampuannya dengan Pardjo sama. Mereka berdua punya idealisme masing-masing. Lusi sebagai wanita idealismenya patuhi perintah. Setia dia. Apa saja perintahnya pasti ia jalankan. Pardjo? Ingatan Lusi satu satunya tentang dia sebagai mata-mata adalah peristiwa empat tahun silam.

Ingat betul Lusi, Pardjo bisa duduk dalam gelap, dan tetap tega siksa dia lebih dari empat jam lamanya tanpa belas kasih. Tidak sekali pun dua wanita kejam tadi diperintah buat hentikan siksaan. Tega betul Pardjo. Kepada kekasihnya sendiri. Setidaknya ia bisa berbelas kasih.

Malam ini Lusi akan hati-hati menghadapinya. Ia tak akan main-main. Bagaimana pun Kakak kelasnya pernah tunjukkan sikap bisa jadi begitu tega. Juga dia bisa saja khianati cintanya dengan menikahi seorang wanita tanpa pernah usaha tunggu Lusi lulus. Ia benar benar berbahaya.

Dalam balutan kehati-hatian Lusi bersiap sebelum hadapi Pardjo tepat jam delapan malam. Tak lama kemudian Pardjo bunyikan bel tanda ada tamu di luar kamar. Lusi sengaja pilih baju gaun anggun nan mengundang persis gaun yang pernah dipakai Marylin Monroe berwarna putih tanpa lengan.

Lusi buka pintu. Pardjo berdiri dari balik pintu. Ia kenakan baju lebih rapih daripada waktu di Gelora. Pardjo pakai topi bulat. Bajunya berkerah warna hijau dibalut jaket warna hitam yang terbuka kaitannya. Lihat Lusi buka pintu Pardjo senyum. Di tangannya ada setangkai bunga warna putih. Bunga Shasta Daisy : Lambang kesetiaan dan kerahasiaan antara dua insan. Pardjo serahkan bungan putihnya dengan sangat ksatria lantas ia bilang, “ untukmu, Lusi!”

Pardjo tak bilang makna bunga di tangannya. Ia merasa tak perlu bilang. Toh Lusi menurutnya sudah tau. Dan benar adanya. Segala kewaspadaan Lusi runtuh seketika mendapat bunga putih ditangkainya. Mudah sekali ia dikalahkan. Oleh bunga yang lambangkan kesetiaan dan kerahasiaan. Sudah hampir menetes air matanya dikejutkan pemberian Pardjo.

Saat pegangannya di bunga Shasta Daisy bergetar, Pardjo memecah kesunyian, “bolehkah aku masuk? Atau kita bicara di luar saja?” Tanyanya.

Kesadaran Lusi kembali. Ia berkata, “ tidak. Dimana kesopananku membuat kau bicara di luar. Masuklah, Mas! Aku sudah siapkan minuman buat kita.”

Lusi menggandeng Pardjo masuk. Aroma Pardjo wangi. Demikian pula Lusi. Lusi masih tak habis pikir kebetulan apa yang buat bunganya Pardjo dan warna bajunya sama. Tanda-tanda apa ini. Tapi Lusi sadar ia tak boleh pikir banyak. Ia harus kembali dalam kewaspadaan. Dibawanya Pardjo ke ruang tamu kamar hotel. Ada satu meja kecil. Dua buah kursi satu sofa nyaman warna cokelat. Pardjo letakkan topi bulat di gantungan topi.

Mereka berdua duduk di kursi hadap-hadapan. Satu botol anggur merah tersaji di depan keduanya berikut dua gelas anggur dengan permukaan gelas yang lebar dan tangkai panjang. Lusi selaku tuan rumah ambil botol anggur duluan, buka tutupnya, lalu tuangkan anggur merah seperempat ukuran gelas Pardjo. Lalu ia taruh dalam ukuran sama ke gelasnya sendiri kemudian persilakan Pardjo cicipi.

Pardjo tersenyum dapat tawaran Lusi. Kumisnya tambah kesan tampan dirinya saat tersenyum. Ia angkat gelasnya. Ia hirup aroma anggur merahnya. Lalu ia pegang tangkainya dia putar-putar gelasnya. Baru setelah itu Pardjo hirup lagi aromanya. Aroma buah anggur kualitas tinggi jelas tercium. Ini anggur bagus.

Melihat Pardjo sudah tau kualitas anggurnya, Lusi ajak Pardjo bersulang. Pardjo terima tawarannya. Segera saja denting gelas angur terdengar. Setelah itu Lusi dekatkan bibir gelas ke mulutnya lantas cicipi anggur sececap. Dia nikmati benar rasanya. Tak buru-buru Lusi. Baru setelah ia rasakan nikmat anggurnya dia bernafas sembari coba netralkan rasa anggur lewat indera penciumannya.

Lusi kemudian angkat gelas lagi. Pada giliran cecapan kedua, Lusi nikmati anggurnya lebih lama tanpa lupa hirup udara. Di depannya Pardjo lakukan hal yang sama. Mereka berdua sama-sama bisa rasakan kenikmatan anggur merah lantas taruh gelas tangkai panjang di meja. Mereka berdua segera saling pandang. Tak ada yang bicara. Atau tepatnya tidak ada yang berani bicara.

Misteri cinta tengah hadir di tengah mereka. Lusi dan Pardjo pernah jadi sepasang kekasih. Demikian kata mereka berdua dalam sejarah hidupnya. Namun demikian, sekitar enam tahun lalu salah seorang diantara mereka sampaikan cinta diantara mereka harus berakhir. Salah seorang diantara mereka tak setuju dengan penyampaiannya. Ia minta kenapa tak percayakan saja pada misteri cinta.

Tak dinyanya dua tahun setelahnya mereka berdua bersua kembali. Bukan untuk berpisah. Namun untuk menjadi satu. Dalam sebuah persenggamaan misterius. Dipicu oleh sebuah tugas. Yang terlihat kejam pada kulitnya. Di dalamnya rupanya menyimpan gelombang cinta. Cinta sejati bisa jadi. Buat keduanya bersenggama antusias sekali. Sampai pecah keperawanan Lusi. Dalam sebuah persenggamaan yang Lusi sendiri katakan hanya cukup satu kali saja.

Jadi tak masalah mereka lama tidak jumpa. Lebih dari empat tahun lamanya. Toh Lusi telah tegas nyatakan peristiwa pagi itu cukup sekali saja. Ia terima Pardjo sudah nikah. Ia juga tak mau mengganggunya. Cukup sekali saja mereka bersenggama. Sekedar tumpahkan keriundan dari dalam hati.

Kini, empat tahun kemudia, di tahun 65, mereka bertemu lagi. Oleh sebuah takdir nan indah. Mereka saling pandang. Mata bertemu mata. Hati berjumpa hati. Tak ada satu kata terucap. Sebab kata akan buat hilang keindahan cinta mereka. Bahkan Lusi, yang semula berniat bersikap hati-hati. Sudah lenyap kewaspadaannya sejak ia lihat Pardjo di luar tadi.

Lusi hanya bisa terpukau. Nikmati benar ia wajah jantan kekasihnya. Wajah yang selalu ada di hatinya. Dalam setiap waktu. Lusi kaget waktu Pardjo bangkit dari duduknya lalu berjalan tiga langkah lantas bersimpuh di kakinya. Pardjo buka telapak tangannya ke atas. Lusi sambut punggung tangannya ke bawah. Pardjo kecup punggung tangannya. Seperti pangeran cium tangan tuan putrinya.

Setelah kecup mesra tangan Lusi, Pardjo tatap adik kelasnya yang cantik sambil berkata, “ empat tahun lalu kau yang rendahkan dirimu untuk bercinta denganku. Bolehkah kini aku yang gantian rendahkan diriku agar bisa bercinta denganmu duhai kekasih? Walau hanya sekali saja. Sekali ini saja.”

Butiran air mata meleleh dari sepasang mata indah Lusi sebagai jawaban. Pardjo menatapnya. Ia gunakan jarinya usap air mata dari pipi adik kelasnya yang cantik. Kemudian Pardjo arahkan tangannya lembut sentuh kaki kanan Lusi. Posisi Pardjo tengah berlutut satu kaki. Ia letakkan betis kaki kanan Lusi di pahanya lantas ia dekatkan wajahnya buat ciumi jari kaki adik kelasnya.

Lusi sandarkan punggunya ke kursi. Ia rebah mulai rasakan nikmat. Bibir Pardjo tengah ciumi jari kakinya. Dimulai dari jari kelingkingnya yang mungil sampai seluruh jarinya semua dijilati oleh Pardjo.

Pardjo merasa tak segan emuti jari kaki Lusi karena Ia kagum sama kecantikannya. Kecantikan dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Lusi bisa rasakan balik perasaan Pardjo ini. Ia nikmati benar segala perlakuan kakak kelasnya di kakinya. Termasuk nanti ketika Pardjo akan melumat seluruh penjuru tubuhnya. Karena dimulai dari jari kaki, Pardjo memulai apa yang memang Lusi harapkan dari pejantannya.

Kini kakak kelasnya tengah meletakkan kaki Lusi kembali memijak bumi, dan ia mulai menciumi betis adik kelasnya yang cantik.
Lembut saja Pardjo. Ia ciumi betis Lusi penuh perasaan. Kemudian kedua tangannya bantu angkat gaun putih Lusi agar terbuka kedua paha mulusnya. Lusi tengah duduk bersandar. Pahanya terbuka sempurna. Pardjo regangkan kedua kakinya lalu kecup lembut. Lusi menggeliat. Desahan tertahan di bibirnya. Pardjo teruskan kecupannya. Bukan lagi kecupan tapi jilatan dan hisapan hangat.

Pardjo mulai cium aroma memek Lusi yang masih terbalut celana dalam putih. Wangi kesukaannya. Aroma yang wangi menyengat. Tanda Lusi sebagai betina mulai terangsang. Ia keluarkan dari memeknya aroma yang buat pria makin bergairah. Jadikan Pardjo tambah semangat lantas tambah kekuatan jilatannya pada paha Lusi sampai yang punya keenakan. Lusi memang tengah gemas birahi. Ia rasakan rangsangan nikmat mulai jalari tubuhnya.

Apalagi waktu Pardjo bantu Lusi copot celana dalam putihnya, memek tanpa jembut Lusi jadi telanjang. Pardjo gunakan kekuatan dua tangan angkat kaki Lusi biar terbuka lebar terangkat ke atas. Aroma memek Lusi yang menyengat segera menerpa Pardjo. Ia suka sekali aromanya. Lama ia sengaja kangkangkan paha Lusi lebar biar bisa cium aroma memek sepuasnya. Rasanya begitu memabukkan. Begitu bangkitkan gairah kejantannya wangi memek Lusi. Wangi Yang bikin Pardjo berdebar dan tak tahan lagi nikmati memek mulus di depannya.

Pardjo maju hisap memek Lusi. Ia gunakan seluruh bibir dan lidah, termasuk kumisnya buat nikmati memek adik kelasnya. Dihisapnya benar-benar. Dijelajahi satu garis lurus nan hangat, berlendir, nan wangi aromanya. Penuh kehangatan buat tidak akan bosan Pardjo ulik memek Lusi. Jadikan ia lama sekali nikmati memek Lusi dalam keadaan yang punya sedang duduk tersandar di kursi dan sadar tengah diantar Pardjo ke puncak nikmat syahwati.

Puncak nikmat itu tak lama rupanya datangnya. Lusi sedang rindu sekali pada kekasihnya. Ia lebih mudah sampai oleh jilatannya di memek. Apalagi Pardjo memang telaten. Jilati terus dia tanpa kenal lelah. Berbekal ketelatenan menciumi memek inilah, lidah Pardjo akhirnya bawa Lusi ke puncak, Lusi terbang ke nirwana sambil mendesah keras. Kakinya melayang tak menapak ke tanah. Ia benar-benar masuk ke lautan nikmat. Terbang tinggi kesadarannya. Hanya tersisa desahan merdu terdengar di udara.

Keadaran Lusi sontak sejenak oleng. Berpindah ke dimensi lainnya dalam keadaan terlunjak lunjak. Mata Lusi pun demikian. Hilang hitamnya. Berganti tersisa putihnya saja tanda bahwa yang punya tengah mabuk birahi karena meledak ia di dalam sana. Keluarkan banyak cairan nikmat yang buat rangsangan getarkan kesadaran seluruh tubuh.

Ketika si adik kelas cantik tengah tak sadar Pardjo bangkit. Lusi perlu sekian menit untuk pulih dari keadaan puncak nikmat. Ia terus terpejam. Dan ketika ia buka mata Pardjo telah berdiri di depannya. Tak lagi berlutut seperti tadi.

Pardjo tengah lepasi bajunya satu satu sampai celananya. Setelahnya ia berdiri telanjang di depan Lusi. Ia pamerkan otot-otot bahu dan dadanya yang bidang. Ia tunjukkan perutnya yang terpahat. Kemudian ia gelarkan kekuatan otot lengannya : ia angkat Lusi yang masih kenakan gaun Marylin Monroenya. Ia gendong dia ke tempat peraduan mereka yang sejati di ranjang indah dan wangi Hotel Indonesia.

Lusi diangkatnya jantan. Diantar sampai ke ranjang. Baru setibanya di ranjang, Pardjo letakkan ia. Ia dudukkan lembut, kemudian dibantunya Lusi lepaskan kaitan gaun di tengkuk dan di punggungnya. Tentu saja, Lusi segera saja jadi telanjang bulat karenanya. Memandang Lusi telanjang senantiasa buat jantung Pardjo berdebar. Sebab tubuh Lusi adalah tubuhnya bidadari. Sangat molek. Teramat sintal. Bongkahan payudaranya montok. Sedap di pandang mata. Tak ada bagian kendor. Puting susunya tegak mencuat.

Perut Lusi juga rata. Ia tak gemuk. Pintar jaga badan ia. Pintar pilih makanan yang masuk ke mulutnya. Dan di bawah tubuhnya terbayang memek tanpa bulunya yang tadi habis dijilati Pardjo berikut jari jemari sampai pahanya yang tak akan terlupakan keindahannya.

Penampakan tubuh telanjang Lusi buat si betina yang sintal tubuhnya sudah siap disetubuhi oleh pejantannya yang kuat kontolnya. Dengan lembut Pardjo rebahkan Lusi. Tak bisa ia rebahkan tubuh Lusi empat tahun lalu karena punggungnya waktu itu sakit setelah dipecut. Kini Pardjo bisa. Ia mampu nikmati wajah cantik Lusi lebih jelas. Berikut nikmati tubuhnya yang merupakan impian setiap kaum pria.

Sebagai awal permainan cinta mereka Pardjo cium Lusi. Sebuah ciuman bergelora. Penuh gairah asmara. Lusi balas Pardjo. Ia tunjukkan gairah yang sama. Betul-betul penuh daya tarik mereka. berdua. Bahkan ciuman bibirnya begitu menyala-nyala dalam api rindu. Rindu yang tergambar dalam hisapan bibir Lusi. Jilatan lidah Pardjo. Keduanya sama tawarkan cinta. Keduanya pula saling sambut. Tak sia siakan geloran keabadian yang mulai hadir di tengah mereka.

Pardjo yang terus menciumlah yang akhirnya lepas pertama kali ciuman diantara mereka. Lusi dan Pardjo saling pandang kemudian. Mereka resapi pertemuan ini. Kerinduan yang datang kemarin. Dan ketidak pastian esok hari. Tantangan sebagai mata-mata buat tak ada jaminan dalam hidup mereka. Yang bisa mereka nikmati adalah saat ini. Waktu termewah dalam hidup mereka. Jadi kembali mereka berdua saling berpagut mesra kali ini dengan pelukan sayang.

Mereka saling peluk. Tak ada yang mau berpisah. Masing-masing saling tarik. Merapatkan tubuh agar berbagi segala momen nikmat yang tersaji. Berbagi sebutir kehangatan di dinginnya suhu udara kamar hotel. Namun tetap saja suhu dingin hotel tusuk tulang mereka. Lusi regangkan kakinya sebagai bentuk rasa dingin. Pardjo dengan kontol tegaknya sadar Lusi telah membuka pintu masuknya. Pardjo juga sama kedinginan. Ia perlu kehangatan. Sambutan Lusi disambutnya dengan arahkan kontolnya ke sarang peraduannya.

Kali ini, tusukan Pardjo langsung masuk ke sarangnya. Memek Lusi sambut dia hangat. Tak seperti kesulitan mereka hadapi empat tahun lalu waktu Lusi masih perawan. Kini kontol dan memek keduanya mudah saja menyatu. Segera tawarkan kehangatan pada kedua belah pihak. Bikin mereka sama-sama lupa diri. Sejenak hilangkan rasa dingin di tubuh.

Diantara mereka berdua Pardjolah yang lebih lupa diri. Ia sedari tadi cari bagian tubuh kesukaannya dari tubuh Lusi. Ketiak tanpa bulunya. Pardjo pegangi kedua tangan Lusi ia angkat tinggi. Lusi coba lawan dia. Tapi lagi-lagi ia tak sanggup. Tenaga Pardjo jauh lebih besar. Pardjo dapatkan apa yang ia mau. Ketiak putih Lusi terpampang jelas di hadapannya tanpa halangan apa pun. Pardjo dekati ketiak mulusnya ia hirup aromanya. Aroma yang wangi. Aroma yang buat Pardjo lupa diri. Mabuk dia. Bangkitkan kontolnya untuk mulai mengocok di bawah sana.

Satu kali kocokan. Dua kali. Pada kocokan ketiga Pardjo bergerak lebih cepat. Dan makin cepat saja. Sebab Pardjo telah temukan bagian tubuh kesukannya. Setelah puas ciumi aroma ketiak Lusi, ia ciumi sepuasnya, lantas ia jilati agar rasakan rasanya yang sangat nikmat. Teramat sangat memabukkan. Buat kecepatan Pardjo lebih cepat lagi dari sebelumnya. Lusi yang ditumbuk terus oleh kontol panjang hanya bisa lempar kepalanya kiri dan kanan lantas mendesah, “ Haaaagghhh Aaaahhhh, Mas…..”

Kombinasi ketiak yang terus dijilati dan memeknya yang ditembus bikin Lusi sama lupa diri dengan Pardjo. Tadi ia dibuat sampai di puncak oleh lidah Pardjo di memeknya. Sekarang ia dibuat rasakan hal yang lebih hebat ketika jilatan Pardjo dan kontolnya bermain bersamaan dengan sama cepatnya. Pandangan Lusi mulai berbayang lagi. Kunang-kunang ia. Lantai mewah Hotel Indonesia seakan berputar di kepalanya.

Pardjo sendiri ia tak henti hisapi ketiak adik kelasnya. Rasa di kontolnya semakin ia rasakan seret. Lusi tampaknya siap tiba di puncak lagi. Memeknya tersama semakin seret. Siap tumpahkan cairan nikmat kembali. Pardjo akan bantu ia. Tangan Pardjo yang semula tak kerja diarahkannya remasi payudara adik kelasnya yang cantik. Bukan remasan lembut, tapi remasan keras ingin bantu Lusi dapatkan kenikmatan tiada tara.

Lusi semakin dangakkan wajahnya diperlakukan demikian. Tadi sore Lusi sambut tamunya bernama Syam. Syam minta jatah. Ditolak oleh Lusi dia. Alasannya karena datang bulan. Padahal Lusi bohong. Ia Cuma tak mau disetubuhi pria lain selain Pardjo. Syam memang dapat susu payudaranya. Namun Syam tak dapat bagian paling nikmat dalam tubuhnya yang hanya dia persembahkan pada Pardjo seorang. Sambil dangakkan wajah Lusi teringat kejadian tadi sore. Tapi tampaknya Pardjo tak ingin Lusi ingat hal lain selain kenikmatan. Pardjo makin jilati ketiak Lusi. Makin ia pompa payudaranya. Di bawah, kontolnya menghujam makin cepat dan tanpa bisa dicegah sampailah Lusi kembali ke langit nikmat tertinggi.

“ Aaaaaaaaaaaaaaahhhhh……….”

Lusi kejang. Melunjak lunjak dia dibawah tindihan Pardjo yang terus jilati ketiaknya. Lama Lusi terlunjak-lunjak sebelum akhirnya berhenti karena Pardjo cabut kontol dari memeknya.

Merasa ada yang hilang dari dirinya Lusi lihat Pardjo heran. Kenapa berhenti, Mas. Barangkali ini tatapan bingung Lusi pada Pardjo. Tapi Pardjo tak gubris adik kelas cantiknya. Ia putar tubuh Lusi agar berbalik lalu ia tunggingkan Lusi. Pardjo arahkan bibirnya ke lubang dubur adik kelasnya yang cantik.

“ Mau kau apakan aku, Mas??” Suara Lusi bergetar karena habis tersambar nikmat.

“ Mau kujilati lubang duburmu, Cantik.”

Perkataan Pardjo tak salah. Ia tak main-main. Selain wangi ketiak. Ia juga rindu aroma dubur Lusi. Maka ia hisap aroma wangi yang memancar dari dubur Lusi. Lama ia ciumi aromannya lalu ia jilati dengan rakus. Lusi meraung saat lubang duburnya dijilati. Seperti ia mendapat desakan rangsangan dari arah bawah yang buat cairannya dari dalam banjir keluar lagi.

Yang buat Lusi heran, kenapa Pardjo tak jijik melakukan semua ini. Ia tau bagian tubuhnya ini bukan yang seharusnya dijilati. Bagian yang terlarang. Namun Pardjo semangat saja. Ia jilati lagi. Bahkan ia hisapi lubangnya. Lalu setelah puas menghisapi lubang duburnya, Pardjo bangkit. Ia arahkan kontolnya ke memek Lusi dalam keadaan menungging. Ia kuatkan ototnya sejenak lalu ia tembusi memek itu lagi.

Lusi terpejam. Mulutnya ternganga. kesadarannya hilang untuk kali ketiga. Ia kembali menyatu dengan sang kekasih hati setelah empat tahun tak jumpa. Masih dalam posisi bersenggama yang sama seperti sebelumnya. Benar-benar tak tergambarkan rasanya.

Bagai kehilangan di dalam dirinya selama ini pada sosok Pardjo terisi oleh kontol panjang, besar, tegak sempurna. Kontol milik Pardjo begitu perkasa. begitu kuat. Menembus liang sempit memeknya terus maju mundur cepat sekali. Kesadaran Lusi naik lagi. Kedua kakinya mengangkang tegang. Tegang sekali. Kesetrum Lusi oleh pompaan Parjo dalam keadaan nungging.

Benar-benar pemandangan indah persenggamaan mereka. Mereka seperti pasangan pengantin baru kawin. setelah gaya menungging, di kamar hotel Indonesia mereka coba semua gaya bersenggama. Dan ketika semua gaya sudah habis mereka berdiri di depan cermin besar. Lalu Pardjo suruh Lusi setengah menungging sambil kedua tangannya pegang bibir cermin di depannya.

Pardjo tanamkan lagi kontol di memek Lusi. Ia pompa kuat lagi. Sekarang sambil ia bantu Lusi mendangakkan kepalanya menonton persetubuhkan mereka dari cermin. Sebuah pemandangan yang bangkitkan nafsu syahwat.

Dalam keadaan Lusi lihat wajahnya yang bergairah, Pardjo pegangi kedua siku tangan adik kelasnya yang masih pegang cermin. Ia bantu angkat kedua lengannya agar merapat ke tubuhnya. Tubuh Lusi melengkung. Susu payudaranya gondal gandul naik turun dihajar Parjo. Ketiaknya yang mulus mulai mulai terlihat. Ini incaran Pardjo. Pardjo majukan tubuhnya. Ia miringkan sedikit badannya lalu ia jilati kembali ketiak Lusi untuk dapatkan kekuatan kontolnya lagi.

Mendapati ketiaknya dilumati lagi ia rasakan tumbukan Pardjo di memeknya semakin dalam. Lusi jepit kontol Pardjo. Ia cukup kuat latih organ intimnya. Ia jepit kontol Pardjo ia remas-remas pakai memeknya. Seketika Pardjo meraskan kontolnya dijepit hebat. Ia kehilangan kontrol. kecepatan pompaannya terlalu cepat Pardjo tak tahan ingin memuntahkan pejuhnya. Sama seperti empat tahun lalu ia ingin buang di luar.

Tapi Lusi sadar. Ia tak mau semuanya berakhir seperti empat tahun lalu. Alih-alih membiarkan Pardjo cabut kontolnya Lusi bilang, “ buang di dalam, Mas!! Buang di dalam!!” Lusi tahan pantat Parjo agar tak kabur lagi. Dijepit Lusi demikian kagetlah Pardjo. Kontolnya Sudah tegang benar. Sudah mau menyembur pejuhnya. Pardjo tak tahan. Tak sadarlah ia. Sambil seburkan pejuhnya Pardjo teriak, “ Lusi, kenapa kamu…. aggghhhhhh."

Jeritan Pardjo nyaring terdengar. Lantas roboh dia. Hilang kekuatannya. Pejuhnya tertumpah. Tak diluar lagi. Tertanam di rahim Lusi. Pardjo kehilangan nafasnya. Ia juga kehilangan kesadarannya. Pingsan dia setelah bersenggama.

Lusi kaget lihat Pardjo jatuh pingsan di lantai hotel. Ia telentangkan pejantannya. Ia bantu luruskan seluruh bagian tubuhnya lalu ia bangunkan Pardjo, “ Mas, bangun, bangun!!” Lusi tampar Pardjo pelan.

Untunglah Pardjo segera bangun. Pardjo buka mata kaget hilang dimana dia selama beberapa detik. Tapi lihat Lusi di depan matanya Pardjo segera tenang. Lusi segera letakkan dirinya ke dekapan Pardjo dan si pejantan dekap dia mesra. Pasangan yang gairahnya panas membara ini saling bertukar cinta di lantai hotel. Tak kuat bangun mereka. Tenaga kakinya sudah sama-sama kopong. Lusi letakkan kepalanya di dada bidang Pardjo. Coba manfaatkan waktu yang ada ia berkata pada kekasihnya, “ Mas, hati-hatilah, Kau!”

Pardjo bingung dengarnya. Ia tanggapi, “ Apa maksudmu, Lusi?”

“ Mas diincar sama mata-mata lain.”

“ Diincar bagaimana maksudmu??”

Lusi angkat wajah. Ia ingin tatap mata Pardjo. Begitu pula Pardjo. Setelah mereka saling bertatapan, Lusi bertanya, “ hari apa ini, Mas?”

“ Ulang tahun PKI,” jawab Pardjo.

“ Kau hadir di acara itu, kan?”

“ Tentu. Kau juga.”

Selanjutnya Lusi bertanya dengan penekanan kata, “ lantas kenapa mata-mata PKI takut sama kau, Mas?”

Pardjo berkerut dahinya mendengar kabar Lusi.

Lihat Pardjo tak jawab, Lusi lanjut, “ kau ditakuti oleh mata-mata yang dukung PKI dan kau juga ditakuti mata-mata yang anti PKI. Kau diincar oleh mereka semua. Kau dalam bahaya, Mas.”

Mendengarnya Pardjo anggukkan kepala ia paham. Ia elusi rambut cantik Lusi yang mirip rambutnya Marylin Monroe. Ia bilang, “ aku tak peduli sama mata-mata PKI, dan mata-mata yang anti PKI. Kesetiaanku hanya untuk Presiden. Kepada Panglima Tertinggi. Pemimpin besar revolusi.”

Lusi dekapkan kepalanya. Ia dengar Pardjo lanjutkan kalimatnya, “ Dan kepada kesetiaan pada Presiden kuletakkan harapanku di hari-hari mendatang.”

Tadi Lusi berhasil dapat informasi dari Syam. Ia tau akan ada yang terjadi ke depan. Ia tanya, “ Bagaimana nanti kalau ada yang bisa menjatuhkan kekuasaan Presiden, Mas?”

Pardjo angkat kepalanya. Ia ajak adik kelasnya saling bertatapan. Kemudian ia jawab, “ maka kesetiaanku adalah selalu untuk Beliau. Aku tak tertarik berselingkuh darinya. Sebagai mata-mata kuletakkan kesetianku pada kepentingan Kepala Negara, Lusi. Takdir telah membawaku kesana. Walaupun jaya atau jatuh Beliau. Aku akan tetap setia kepadanya.”



Bab 4

Pardjo : Sebuah Prinsip

Selasa, 1 Maret 1966

Rumah Kecil di dekat Lubang Buaya, Djakarta Timur

Jam 13.30


Pardjo menghabiskan siang sambil mengetik. Istrinya setia temani dia sambil jahit baju buat anak keduanya yang baru lahir tahun lalu. Bunyi mesin ketik Pardjo menghiasi rumah kecilnya. Bunyinya bergemelatakan.Di dekat meja mesin ketik ada asbak dan segelas kopi hitam sudah diminum setengah.

Istrinya tetap menungguinya sambil merunduk malu-malu. Pardjo hargai benar kebaikan istrinya. Baru dua puluh tahun sekarang usia istrinya. Tapi tampilannya sudah kelihatan lebih dari tiga puluh tahun. Jauh sekali dari penampilannya Lusi. Gadis idaman Pardjo yang sebenarnya datang tiap malam ke mimpinya. Usianya Lusi kan lebih tua dari istrinya. Barangkali Lusi usianya sudah dua puluh tujuh. Atau dua delapan. Tapi masih seperti anak remaja wajahnya. Cantik. Muda. Mempesona.

“ Pak.. Kok ngelamun, to. Bapak sedang mikirkan apa?? Sedang pikir Negara ya, Pak?”
Istri Pardjo bertanya.

Pardjo tersadar. Melayang pikirannya barusan memikirkan seorang bidadari bernama Lusi. Sebelum jawab istrinya Pardjo pandangi lagi lampu kuning di atas kepalanya. Sudah ada satu dua nyamuk datang ke rumah mereka.

“ Coba kamu bakar obat nyamuk! Bisa habis darah kita dihisap nyamuk!” Pardjo bangun cari alat buat pukul nyamuk. Habis itu duduk lagi di kursinya.

Istrinya bangun dari kursi cari obat nyamuk terus bakar dan taruh di dekat mereka. Pardjo hisap lagi rokoknya.

Pada waktu mereka sudah duduk lagi, Tono anak pertama mereka yang sudah enam tahun usianya masuk ke rumah. Tono bilang ke Bapaknya, “ Pak ada tamu di luar mau ketemu, Bapak.”

“ Siapa?”

“ Ada enam orang laki-laki, Pak. Wajahnya seram-seram.”

Pardjo letakkan rokoknya di asbak. Ia bangun dari duduknya menuju pintu dan buka pintunya. Pardjo lihat sudah berdiri enam orang laki-laki badannya tegap pakai baju abu-abu lengan panjang dan berkaca mata hitam semuanya. Salah seorang dari mereka tanya ke Pardjo, “ Bapak bernama Pardjo??”

“ Betul.”
Jawab Pardjo.

“ Bapak diminta menghadap Presiden!”

Pardjo gelengkan kepala. Ia jawab, “ kenapa saya disuruh hadap Presiden?”

Keenam pria tadi tak jawab.

Pardjo omong lagi, “ Kalau ini masalah PKI. Tak ada anggota keluarga saya yang PKI.”

Istri Pardjo bingung dengar ucapan suaminya dari luar. Ia dekati suaminya.

Salah seorang dari keenam pria berkaca mata hitam tadi jawab, “ Kedatangan kami tak ada kaitannya dengan PKI. Bapak diminta menghadap Presiden!”

Pardjo sadar apa yang terjadi. Kehadiran istrinya buat ia harus pikir cepat. Keselamatannya adalah di atas segalanya bagi Pardjo. Ia bicara lagi, “ Kalau begitu kalian tunggu sebentar. Saya sendiri akan ikut kalian.”

Salah seorang dari pria tadi yang lain ikut bicara, “ keluarga Bapak juga harus ikut!”

Sebersit emosi Pardjo bangkit. Hampir hilang ketenangannya tapi cepat ia pulihkan. Ia sadar akan resiko pekerjaannya. Apa yang datang ke rumahnya siang ini salah satunya. Pardjo coba tatap tajam mata keenam pria di depannya yang tertutup kaca mata lantas ia berkata, “ kenapa keluarga saya diikut sertakan?? Keluarga saya gak ikut-ikut kerja saya.”

“ Ini perintah Presiden.” Jawab salah seorang dari mereka.

“ Kalian dengar baik-baik : Berani kalian sakiti mereka, saya bersumpah sampai jadi hantu pun saya akan kejar kalian!” Pardjo bicara tegas. Gemetar suaranya.

Saat ia bicara dua orang laki-laki baju abu-abu kaca mata hitam dekati istrinya sama anaknya.

“ Pak kita mau dibawa kemana, Pak?” Istrinya tanya ke Pardjo waktu dua orang laki-laki tadi memintanya ikut. Istrinya gak mau ikut mereka. Dia bilang, “ saya gak mau ikut kalau suami saya gak ikut. Saya mau ikut suami saya saja. Saya gak mau ikut sama Bapak!” Istri Pardjo terus menolak. “ Suami saya gak ikut saya juga gak ikut!”

Pardjo mulai hilang ketenangan. Salah seorang dari pria tadi maju todongkan pistol laras pendek di rusuknya. “ Gimana, Pak, Pardjo??”

Pardjo rasakan pistol di rusuknya ia bilang ke istrinya,“ Bu udah ikut saja keinginan mereka,” Pardjo menoleh ke istrinya. Mereka terlihat sama ketakutan.

“ Mau dibawa kemana kita, Pak??”
Istrinya bertanya.

Pardjo menggeleng, “ Bapak juga gak tau. Kita ikuti saja!”

Perlawanan Pardjo sama istrinya berakhir. Mereka dibawa enam orang laki-laki keluar dari rumah. Enam orang laki-laki tadi bawa dua mobil VW kodok warna hitam. Pardjo disuruh naik mobil di depan. Istri sama dua anaknya di mobil belakang. Sebelum naik mobil tangan Pardjo diikat kebelakang pakai tali terus dia disuruh duduk di kursi depan.

Pardjo berkata di dalam mobil kepada orang yang ada disekitarnya, “ kami sekeluarga bukan PKI. Kami gak ada kaitannya sama Gestapo.”

“ Pak Pardjo gak usah banyak bicara,” dari belakang laki-laki yang lain keluarkan sehelai sarung bantal warna gelap kalungkan begitu saja ke kepala Pardjo dengan paksa.

Pardjo dipegangi kepalanya. Ia gak bisa melawan. kedua tangannya diikat ke belakang. Pardjo cepat saja dibungkus kepalanya jadi dia gak bisa melihat apa-apa. Pardjo hanya bisa merasakan dalam kegelapan mobil mulai jalan.


Bab 5

Epilog

Selasa, 1 Maret 1966

Sebuah Kawasan Pantai yang Musti Dirahasiakan

Jam 17.30


Mobil yang mengangkut Pardjo berhenti setelah lebih empat jam berjalan. Pardjo diturunkan masih pakai sarung bantal di kepalanya. Setelah diturunkan Pardjo dengar suara istrinya jerit sama anaknya Tono dan Tini. Dari suara istrinya jauh sampai nempel badannya Pardjo dengar suaranya.

“ Pak.. Bapak.” Istrinya nangis sesenggukan gak bisa bicara lihat Pardjo diikat sama disarungi kepalanya. “ Bapak jangan sakiti suami saya tolong. Jangan sakiti suami saya, Pak.” Istrinya jerit-jerit lagi.

“ Tolong bapak saya, Pak. Jangan tembak Bapak saya, Pak.” Tono membantu ibunya.

Mendengar jeritan keluarga Pardjo tak lama sarung bantal kepalanya dilepas. Mata Pardjo lega rasanya bisa melihat cahaya lagi. Matanya kedap kedip cepat mencoba melihat setelah gak bisa lihat lama. Ikatan di kedua tangan Pardjo juga dilepas sama pria yang pakai kaca mata hitam. Setelah tangannya lepas Pardjo peluk istri sama anaknya Tono dan Tini. Gak tahan Pardjo tumpahkan perasaannya. Tapi sebagai pria tak nangis dia. Ditahan betul perasaannya.

Dia barangkali sadar mungkin ini waktu terakhirnya. Sebelum Pardjo sendiri dieksekusi mati. Atau satu keluarganya malah yang ditembak sama-sama barangkali ini waktu terakhir mereka. Pardjo peluk benar istrinya. Peluk benar anak-anaknya. Seperti tak mau kehilangan mereka.

Lama Pardjo dibiarkan saling peluk sama keluarganya. Gak ada satu pria berbaju abu-abu tadi yang ganggu mereka. Pardjo sebenarnya tak tertarik menatap kepada mereka. Ia hanya ingin merunduk dan peluki anak dan istrinya. Tapi kemudian dia angkat kepalanya dan lihat ke depan. Di depan sudah ada sebuah kapal ukuran sedang sandar tak jauh dari tepi pantai. Di tepi pantai ada kapal kecil yang ditunggui sama seorang nelayan.

Di sekeliling mereka tidak lagi ada enam tapi ada lebih dari sepuluh orang pakai baju abu abu kaca mata hitam berdiri tegap. Masing-masing mereka bawa senjata laras panjang. Pardjo sudah merasa akan dihukum mati segera. Tapi Pardjo lihat diantara sepuluh laki-laki tadi ada seorang wanita. Wanita yang bagus badannya. Rambutnya pendek. Rambutnya pirang seperti orang Amerika. Dia sedang berdiri belakangi Pardjo. Dia pakai gaun warna merah yang cantik.

Pardjo rasanya pernah lihat wanita pirang ini. Dia tatapi baik-baik. Ditunggunya sampai dia balik kanan dan waktu wanita tadi balik kanan Pardjo kenal siapa dia. Lusi. Lusi ganti warna rambutnya terus pakai gaun merah cantik dan kaca mata hitam. Tak tampak matanya tapi tetap cantik seperti yang dikenal Pardjo. Lusi balik kanan karena lihat istri Pardjo terus teriak-teriak bilang agar suaminya tak disakiti.

Dia dekati istri Pardjo dia pegangi bahunya terus dia katakan,“ Gak ada yang mau nyakiti suami ibu. Ibu tenang saja.” Lusi jauh lebih tinggi dari istri Pardjo. Tapi beda tinggi tak masalah buatnya. Lusi peluk erat Istri Pardjo ditenangkannya dia oleh nada suaranya yang ngayomi sambil bilang ke istrinya, “ kapal itu nanti akan bawa Ibu, Bapak sama anak-anak ke tempat yang aman.”

“ Jangan sakiti suami saya, Bu. Kasihani suami saya.” Istri Pardjo terus saja panik. Baru setelah Lusi peluk dia cukup lama istrinya Pardjo mulai tenang. Bagaimana tidak tenang. Dandanan Lusi berbeda sama pria disekililingnya. Lusi sangat cantik. Terlihat tak akan menyakiti suaminya. Berkat itu perlahan Lusi lihat dan rasakan istri Pardjo mulai tenang.
“ Kami mau dibawa kemana, Bu??” Tanya istrinya Pardjo.

“ Ke tempat yang aman. Ibu ikut sama bapak ini, ya. Nanti saya bantu Bapak biar nanti bisa susul Ibu naik kapal.”

“ Tapi saya mau sama suami saya saja, Bu,” jawab istrinya Pardjo.

“ Iya. Nanti saya antarkan suami Ibu kesana,” Lusi kasih tanda mata ke salah seorang laki-laki berbaju abu-abu kaca mata hitam agar kawal istri sama anak Pardjo ke kapal kecil yang sudah menunggu di tepi pantai. Sehabis itu Lusi dekati Pardjo. Dia sapa Pardjo, “ Mas.”

Pardjo tatap balik Lusi. Mereka saling bertatapan. Masih seperti sepasang kekasih. Walau di saat paling buruk sekali pun mereka tetap sebagaimana layaknya kekasih.

“ Lusi,” kata Pardjo.“ Kalau aku harus dieksekusi mati. Aku ingin kau saja yang menembak mati aku. Jangan kau serahkan nyawaku ke tangan mereka. Aku ingin kau yang cabut nyawaku!”

Lusi tatap Pardjo. Ia lihat kesungguhan di matanya. Lusi berkata, “ mereka semua terancam selama kau masih ada di dekat Presiden, Mas.” Lusi ambil nafas sejenak baru melanjutkan, “ Mereka ingin aku mengeksekusimu. Karena kalau kau tak ada. Tak ada lagi mata-mata setianya yang bisa lindungi Presiden.”

Pardjo tarik nafas panjang. Ia hembuskan. Ia bilang ke adik kelasnya yang cantik, “ Kenapa aku tak boleh lindungi Beliau?”

Lusi jawab cepat, “ sayangnya kau bukan dalam posisi untuk bisa bertanya, Mas.”

Pardjo tersenyum dengar jawaban Lusi. Pintar dia. Senang Pardjo dibuatnya. Pardjo bilang kepadanya sambil senyum, “maka lakukanlah apa yang harus kau lakukan, Lusi! Aku sudah lakukan dharma bhaktiku kepada sesuatu yang aku yakini.”

Lusi terdiam lama.

Ia baru jawab setelah yakin kuat mengatakannya, “ Aku tak mau melakukan itu , Mas. Aku tak akan sanggup mengeksekusimu. Kapal disana akan bawa kau ke tempat yang aman, bersama seluruh anggota keluargamu!”

Pardjo gelengkan kepalanya, “ Kau akan berbohong untuk menyelamatkanku??”

Lusi anggukkan kepalanya. Disekililing mereka senja sudah hampir datang. Sinar mentari sudah nyaris redup seluruhnya. Tangan Lusi tunjuk ke arah kapal. Diperlihatkannya istri dan anak Pardjo sudah menunggu bapaknya dengan setia. “ Sudah mau maghrib, Mas. Tak ada waktu lagi untuk berdebat. Pergilah! Istri dan anakmu sudah menunggu.”

Pardjo dekati adik kelasnya. Ia peluk. Kini ia tak tahan lagi dan ia menangis di pelukan Lusi. Ia berbisik sambil terisak, “ Lusi kenapa kamu masih mau nolong aku?? Kau eksekusi aku saja. Mati di tanganmu malah sangat kuinginkan.”

Lusi pakai kaca mata hitam. Pardjo tak tau bagaimana keadaan matanya. Pardjo hanya dengar jawaban saja dari bibirnya yang lembut dan suaranya yang merdu, “Pergilah, Mas, keluargamu sudah menanti. Anggaplah ini sebagai bukti cintaku kepadamu.”

Dengan perkataan tadi Lusi lepaskan pelukan Pardjo yang masih menangis. Ia jentikkan jari sebagai isyarat suruh satu orang laki-laki berkaca mata hitam maju bantu Pardjo jalan menuju ke kapal yang sudah ditumpangi keluarganya.

Lusi pandangi Pardjo berjalan di saat mentari sudah hendak tenggelam. Persis waktu dulu di tahun 1959 di sekolah mata-mata. Bedanya waktu itu Lusi dan Pardjo saling berpelukan dan saling berbagi cinta. Sekarang mentari senja menjadi saksi perpisahan di antara dua kekasih yang sebenarnya sedari dulu saling mencintai tapi seakan ditakdirkan untuk tak menyatu.

Di saat memandang Pardjo berjalan semakin menjauh, air mata di mata Lusi gantian menetes. Tak tampak oleh orang lain karena terhalang oleh hitamnya kacamatanya. Tapi air mata itu mengalir sebagai salam perpisahan untuk seorang pria yang merupakan kekasih hati sejatinya yang di rahimnya kini telah ia titipkan kandungan hasil cinta diantara mereka berdua yang begitu intim dan bergelora.


Tamat.
 
Terakhir diubah:
Cerita spionase seperti ini selalu mengingatkan daripada masa masa muda dulu, waktu sembunyi2 baca Nick Carter😀😀😀

Selamat suhu, sudah rilis ya
 
Seru in cerita dg background spionase bgini...
Kalo lebih banyak dialog mungkin lebih terasa suasana nya...
 
Roman dlm intrik spionase dijaman ordelama sungguh mantap om critanya..skali lagi trimakasih tlah menyajikan crita yg mantap
 
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd