Agen Terpercaya
Mandala Toto   Jackpot 86
Balaksix   Messipoker
Agen 18   Dunia Jackpot
IBO Play   CMD Play
JP Dewa   Hero Bola
Warung Vegas
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

FANTASY BBCHALLENGE

So.... Who's the winner?

  • Layla

    Votes: 30 28,3%
  • Lisa

    Votes: 43 40,6%
  • Vivi

    Votes: 33 31,1%

  • Total voters
    106
  • Poll closed .
Status
Please reply by conversation.

riomarco7782

Semprot Holic
Thread Starter
Daftar
21 Nov 2018
Post
371
Like diterima
4.000
Bimabet
Seorang gadis berjalan di antara pematang sawah, hari itu matahari bersinar begitu teriknya hingga akhirnya gadis itu beristirahat di bawah pohon. Ia masih tak yakin mau kemana dan di sekitarnya nyaris2 tak ada orang yg lewat, kalaupun ada tadi beberapa ibu2 dan anak2 sekolah.
Ia berpikir, mungkin desa ini bukan desa yg tepat untuknya, "Aduuuh... Capek juga bawa tas gedhe gini..."
Tapi ia kemudian lanjut berjalan, ia mencari2 orang yg tepat dan yg mau menerima dirinya dirumahnya. Tak lama, ia berpapasan dg seorang kakek2 yg sedang berjalan dg sepeda disampingnya, di kursi penumpang sepeda itu ada setumpuk rumput2 panjang yg terikat disepeda itu.
"Persimi kakek, anu disekitar sini ada penginapan gk ya?", tanya gadis itu.
"Wah, gk ada neng, disini rumah2 aja jarang2 neng", kata kakek2 itu.
"Aduh, nnti malem saya tidur dimana ya pak klo gt...", kata gadis itu kebingungan.
Kakek2 itu melihat body gadis itu yg sexy dari atas kebawah jelas tertarik pada apa yg ia lihat. Gadis didepannya memakai baju berlengan panjang dg belahan kancing yg terbuka menampilkan belahan dadanya dan celana jeans panjang, penampilan gadis itu benar2 membuat mulut si kakek2 berair.
"Ka... Kalau mau, dirumah saya aja neng", kata kakek itu.
Gadis itu tersenyum girang,"Wah beneran kek?"
"Iya neng, ayo ikut saya aja, ini saya mau pulang"
"Makasih ya kek, saya gk tw ntar malem bakal gmn klo gk ada tempat buat tidur"
"Ah gk masalah neng, hehe", kata si kakek2 sambil tertawa. Ia tak percaya rejeki yg barusan nomplok di hadapanannya.
"Oh ya kek, kenalin namaku Layla", kata Layla mengulurkan tangannya.
Tangan halus Layla dg cepat di balas dg jabattangan dr tangan kasar kakek2 yg berjalan disampingnya.
"Nama saya Supri, panggil aja mbah neng"
"Hihi, baik mbah"
Keduanya berjalan melewati beberapa rumah lain yg jarak satu sama lain cukup jauh, hingga akhirnya keduanya masuk ke jalan setapak yg disekelilingi oleh pepohonan yg rimbun. Rumah itu rumah kecil yg dikepung oleh pepohonan dan lahan ketela di samping rumahnya, dan selain itu ada kandang kecil yg kelihatannya adalah kandang kambing.
"Maaf ya neng, rumahnya kecil", kata mbah Supri.
"Gk apa2 mbah, bagus kok rumahnya", kata Layla.
Mbah Supri membukakakn pintu rumahnya setelah menyandarkan sepedanya,"Silahkan masuk dl neng, saya taruh pakan di kandang dulu"
Layla masuk ke rumah kecil itu, di dalam ruang tamu, ia lihat isinya benar2 sederhana, hanya ada kursi sofa yg sudah agak rusak dan beberapa kursi kayu mengitari meja oval. Layla kemudian duduk di kursi sofa itu dan meletakkan tasnya di samping kakinya.
Tak lama, mbah Supri sudah masuk lg ke rumahnya,"Wah, kok di ruang tamu sih neng, masuk aja ndak apa2. Tasnya jg dimasukin ke kamar aja neng"
"Oh baik mbah, kamarnya disebelah mana ya mbah?", tanya Layla.
"Di sebelah sini neng", kata mbah Supri mengantarkan Layla.
Keduanya masuk ke sebuah kamar yg ada di sebelah ruang tengah setelah masuk dr ruang tamu,"Ini kamar mbah sm istri mbah?"
"Kamar saya sendiri neng, istri saya udah meninggal 10tahun yg lalu", kata mbah Supri.
"Wah, maaf mbah"
"Gk apa2 neng, saya udah ikhlas kok. Tapi... Anu, maaf ya neng, kamarnya cuma ini, kamar yg satunya udah jd gudang", kata mbah Supri.
"Gk apa2 mbah", kata Layla.
Setelah itu, mbah Sukri melanjutkan kesehariannya, mengurus ternak dan lahan ketelanya. Tp baru saat ia hendak memetik daun ketela, gadis cantik yg jd tamu dirumahnya datang menghampirinya.
"Ada yg bs saya bantu mbah?", tanya Layla.
"Oh gk usah ndak apa2 neng, ini saya mau ngumpulin daun ketela aja kok", kata mbah Supri.
"Saya bantu aja mbah, cuma ambil daun aja kan?", kata Layla mulai mengambil daun2 ketela.
Mbah Supri tentu dg senang hati menerima tawaran gadis itu, toh mengumpulkan daun ketela bukan hal yg sulit, meski tentu dirinya harus menjelaskan mana saja yg bs diambil.
Setelah daun terkumpul, mbah Supri memasukkan daun2 itu ke dalam keranjang anyaman.
"Oh iya, neng Layla ada urusan apa nih ke desa ini?"
"O... Oh, ini mbah, ada tugas study kehidupan desa di kampus Layla", kata Layla.
"Study itu maksudnya gmn neng? Maaf mbah gk sekolah, jd gk paham hal2 kyk gituan"
"Jd study itu maksudnya Layla pelajari kehidupan didesa itu gmn gt lah mbah intinya"
"Memangnya berapa lama neng studynya", tanya mbah Supri penasaran.
"Mmmm bisa beberapa bulan gt sih mbah", kata Layla.
"Waaah bisa lama juga ya ternyata"
"Iya mbah, makanya rencananya saya mau cari rumah pak RT apa kades disini buat minta ijin, trus klo bs saya numpang tinggal dirumah siapa gt mbah", kata Layla.
"O... Oh, klo gt besok saya anter neng, trus klo soal rumah, tinggal di rumah mbah aja klo mau neng", kata mbah Supri melihat kesempatan emas.
"Beneran mbah? Gk ngerepotin?"
"Iya neng, besok hbs dr pasar mbah anter ke pak kades neng"
"Makasih banyak mbaaah", seru Layla yg lgsg memeluk pria tua itu.
Mbah Karyo kaget bukan kepalang mendapat pelukan dr gadis cantik itu, dadanya terasa begitu hangat saat tubuh montok Layla merapat pada tubuhnya. Meski dihalangi oleh kaos dan bra, tp mbah Supri sudah bs membayangkan betapa kenyal dan lembutnya payudara gadis ini. Tak perlu waktu lama sebelum kontol mbah Supri sudah ereksi.
"Eh?", kata Layla melepas pelukannya saat ia merasakan ada yg menonjol dr celana kakek tua itu.
"Aduh, maaf neng maaf", kata mbah Supri menutupi tonjolan dicelananya.
"Oh ternyata itunya mbah ya, hihi", kata Layla.
"I... Iya neng, maklum neng dah lama gk dekat sama perempuan", kata mbah Supri agak canggung.
"Ih gk apa2 kali mbah, malah Layla kagum mbah masih bs ereksi gt", kata Layla.
Didalam pikirannya mbah Supri ingin berkata bahwa kontolnya bs melakukan hal yg jauh lbh hebat dr cuman ereksi saja. Tapi mbah Supri menyingkirkan pikiran itu, dan segera merapikan daun2 ketela dikeranjangnya.
Malam hari datang dan godaan berat datang saat jam tidur menjelang.
"Mbah, nnti saya tidur dimana ya?", tanya Layla.
"Di... Di kamar mbah aja neng", kata mbah Supri agak gugup. Ia ingin bs tidur bersama dg gadis cantik nan montok seperti Layla setidaknya sekali seumur hidupnya.
"Boleh deh mbah, tidurnya sm mbah kan?", kata Layla sambil tersenyum.
Mbah Supri tak menyangka gadis itu akan setuju atau bahkan seolah memastikan bahwa ia akan tidur di ranjang yg sama dg dirinya.
"I... Iya, neng mau?", kata mbah Supri.
"Ya mau donk mbah, ya udah, saya ganti baju dl deh"
"Ganti baju?", tanya mbah Supri tak paham apa maksud gadis itu.
"Iya mbah, ganti pake piyama", kata Layla yg kemudian masuk ke kamar dan menutup pintu kamar itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka lagi, "Mbah, Layla tidur dl ya"
"Oh, mbah juga... mau tidur neng", kata mbah Supri lgsg masuk ke kamarnya.
Tp bukannya tidur, mbah Supri malah tak bs tidur, jantungnya berdegup kencang karena disampingnya ada perempuan cantik yg sedang tidur. Kedua tangannya menutupi tonjolan di sarungnya karena nafsu birahinya benar2 membara sejak ia rebahan di kasurnya itu. Kalau matanya tak menipunya, ia berani bersumpah gadis cantik disampingnya tidak memakai bra. Parudara besar gadis itu terlihat seperti melebar dan bukannya menyembul kedepan seperti td. Apa lg saat gadis itu sedikit ngelindur dan bergerak2, bongkahan daging itu ikut bergoyang2 bagaikan agar2.
"Hhhh gila... Kyknya enak banget susunya", gumam mbah Supri. Mau tak mau, ia harus melampiaskan nafsunya sendiri. Ia melepas ikatan sarungnya sehingga tangannya bs masuk kedalam sarung dan mulai memuaskan dirinya sendiri. Meski umurnya sudah hampir 60 tahun, tp organ jantannya masih berfungsi dg sempurna, berkah yg sia2 kalau tak ada memek yg bs dijejali kontolnya.

Esok harinya, seperti janji mbah Supri, ia mengantarkan Layla ke rumah pak kades yg ia juga bs lihat sempat kaget. Tak hanya karena ada gadis cantik montok didepannya, tp juga karena baru sekali ini ada permintaan study dr universitas di desanya.
"O... Oh, iya, boleh neng. Trus neng tinggal dimana?", tanya pak kades.
"Di rumah mbah Supri pak, boleh kan pak?"
Pak kades terlihat agak kecewa, tp kemudian kembali tersenyum,"Iya neng boleh"
"Ya udah pak, saya permisi dulu", kata mbah Supri.
"Lhooo kok terburu2 mbah"
"Saya mau ngajak neng Layla jalan2 ke desa pak, td neng Layla yg minta"
"Iya pak, saya mau lihat2 kehidupan didesa kyk gmn", kata Layla sambil tersenyum.
Keduanya kemudian pamitan dan berjalan2 di sekitar desa. Layla memperhatikan dg baik semua tempat dan pekerjaan orang2 didesa dr cerita mbah Supri yg sudah tinggal disitu sejak lahir.
Beberapa hari kemudian benar2 bagaikan neraka yg terlihat bagai surga bagi mbah Supri, tiap malam ia melihat tubuh gadis cantik yg benar2 menggairahkan tidur disampingnya dan yg bs ia lakukan hanya ngocok sendiri dan membayangkan dirinya menjilati kedua payudara montok itu dan menimbun kontolnya didalam memek Layla yg pasti akan terasa begitu nikmatnya.
Malam itu, mbah Supri sudah tak tahan lg, rasanya seperti ia tak makan bertahun2 dan kini ada makanan lezat didepan matanya. Pikirannya makin kalap, ia sudah tak peduli lg, ia harus menikmati tubuh gadis itu. Umur segini ngapain takut dipenjara, toh dia jg sudah tua. Ia kemudian mulai melancarkan aksinya, ia menghadap ke arah Layla yg tertidur pulas disampingnya dan dg perlahan ia mendekati dada Layla dg tangannya.
"Ooohhhh kenyal buangeettt", gumam mbah Supri saat tangannya akhirnya mendarat dan mulai meremas2 payudara Layla dg lembut, berusaha tak membangunkan si empunya.
Mbah Supri terus menerus memainkan payudara Layla, meremas2 dan bahkan menepuk2 payudara itu dan menahan tawa saat melihat payudara itu bergoyang2. Jari2nya mulai memainkan tonjolan di baju piyama gadis itu saat ia merasakan ada tonjolan yg mencuat setelah ia memainkan payudara kenyal itu.
Mulutnya berair, ia ingin membuka baju piyama itu dan mulai menyusu pada gadis cantik itu. Membayangkannya saja sudah membuat kontolnya sangat keras sampai terasa perih. Ia kemudian mulai duduk dg perlahan, tangannya lanjut meremas2 sambil mengocok kontolnya dg tangan lainnya.
"Mmmhhhh enak banget susu mu neng... MMMMmmmhhh", gumam mbah Supri.
Begitu kenikmatannya tak lg bs ditahan, cairan putih muncrat dr kontol mbah Supri dan mendarat di baju piyama Layla.
Mbah Supri jelas panik, apa lg pejunya cukup banyak dan begitu kental. Ia kalang kabut, dan dg cepat menuju dapur dan mengambil lap yg kemudian ia pakai untuk membersihkan pejunya dr baju Layla yg kelihatan mahal itu.
Meski sudah tak ada lg cairan putih, tp bau dan bercak2 basah masih membekas.
"Aduh... Mati aku...", gumam mbah Supri menyerah, ia pasrah kalau gadis itu marah atau bahkan melaporkannya ke pak kades kalau Layla tahu apa yg sudah dia lakukan padanya.

Tp hari berikutnya, Layla seolah tak begitu peduli dg bekas basah bau peju yg ada dibajunya.
"Pak, td malem hujan ya?", tanya Layla.
"Ng... Nggak neng", kata mbah SUpri panik.
"Kok baju Layla ada bekas basahnya ya", kata Layla yg kemudian mencium bajunya.
Mbah Supri benar2 panik saat gadis cantik itu mencium bercak peju di bajunya, Tiba2 gadis itu seolah tahu apa bekas cairan di bajunya, dan menatap mbah Supri sejenak sebelum kemudian memasukkan bajunya ke ember kecil yg ia pakai untuk mencuci baju2nya selama dirumah ini.
Mbah Supri seolah menunggu waktu eksekusi,"Ne... Neng. Itu..."
"Mbah, Layla pengen liat2 sungai, kesana yuk. Sekalian buat foto2 laporan Layla", kata Layla dg riang.
"Eh... Oh... Bo... Boleh neng", jawab mbah Supri. Ia tak tahu apa yg ada didalam pikiran gadis cantik itu, tp ia sedikit lega sepertinya gadis itu kelihatannya marah.
Setelah itu, beberapa malam berikutnya, Lagi2 mbah Supri makin bernafsu pada body Layla, apa lg apa yg ditakutkannya tidak terjadi. Kali ini ia ingin membuka baju gadis itu dan menikmati payudara indah itu secara langsung.
Begitu malam tiba dan Layla lagi2 sudag terlelap, mbah Supri dg perlahan2 duduk disamping Layla, dan dg pelan sekali membuka satu persatu kancing baju gadis itu. Nafas kakek tua itu makin berat karena nafsunya, dan kontolnya sudah menyembul keluar dr sarung yg sudah ia lepaskan.
Begitu semua kancing terlepas, jantung mbah Supri terasa berhenti atau meledak, payudara gadis itu begitu indah dan kenyal sehingga nafsunya makin memuncak. Ia sudah tak sabar lg, ia mulai meremas2 dg perlahan dan mengocok kontolnya lg dan dg gilanya, ia menaiki tubuh Layla meski tak sampai menindih gadis itu karena kedua kakinya tetap memastikan tubuhnya tak membuat gadis itu terbangun.
"Mmmhhh kenyalnya susumu neeenggg mmmhhhh...", gumam kakek2 mesum itu sambil ngocok dan meremas2 payudara Layla.
"Mmhhhh..."
Mbah Supri kaget, tubuhnya kaku dan jantungnya melesak saat Layla menggumam dan sedikit bergerak, Tp kemudian ia menghela nafas saat gadis itu tetap tertidur nyenyak. Mbah Supri lgsg melanjutkan kocokkannya hingga akhirnya pejunya muncrat, kali ini muncratan pejunya langsung mendarat di perut Layla.
Lagi2 cairan pejunya keluar banyak hingga seolah membuat danau peju diperut gadis cantik itu. Meski sudah cukup puas, tp kontolnya masih saja tegang. Merasa gadis ini tak akan bangun kalaupun ia menjamah tubuhnya, mbah Supri kini ingin memenuhi keinginannya yg lain, menyusu pada gadis kuliahan ini.
Mbah Supri kini seolah merangkak, menahan tubuhnya dg kedua tangan dan kakinya, kepalanya berada tepat diatas gumpalan kenikmatan milik gadis cantik itu. Mulutnya terbuka, menampilkan gigi2 ompong dan kuning dan lidahnya mulai menari2 didalam mulutnya, siap untuk berduet dg puting Layla yg sudah keras ini.
"Happp... Mmmmhhh... Mmhhhh...", mulut kakek tua itu akhirnya mendarat dan puting susu Layla kini sudah hilang didalam mulut keriputnya.
Hati mbah Supri benar2 seperti di khayangan, tak menyangka ia masih bs menyusu sejak menjadi duda. Apa lg, payudara yg ia jilat2 dan sedot2 itu milik gadis muda bagaikan bidadari. Layla benar2 seperti bidadari yg jatuh di pangkuannya. Tanpa disadarinya, pinggulnya naik turun sehingga kontolnya kini menyodok2 selangkangan Layla.
Meski Layla mulai bernafas dg berat dan sesekali mendesah lg, tp mbah Supri tak berhenti. Ia merasa sudah tanggung, dan lagi Layla tak bangun2, jd mungkin ini memang sudah takdir baginya untuk menikmati malam ini tanpa gangguan.
Setelah sekitar 15 menit, mbah Supri lagi2 orgasme dan skrg area selangkangan di celana Layla basah kuyup oleh cairan kental panasnya.
Setelah puas, mbah Supri dg sangat hati2 rebahan di samping Layla yg kini kepalanya berpaling dr posisi tidurnya setelah sekali lg menggumam dlm tidurnya.
Mbah Supri sudah puas, meski tak bs menikmati memek Layla, tp ia puas bisa menikmati payudara perempuan lg.
"Hhh... Hhh... Masa bodo lah, ketahuan ya ketahuan... Yg pntg aku puas...", gumam mbah Supri. Ia tak mau repot2 memakai sarungnya lg. Matanya terpejam, pasrah pada nasibnya sendiri.

Pagi harinya, mbah Supri bangun dan yg tak ia sangka, Layla juga sudah bangun. Layla duduk di samping mbah Supri, bajunya masih belum dibetulkan, membuat payudaranya hampir terlihat seluruhnya dan Layla terlihat sedang melihat bercak kering di perutnya.
Mbah Supri langsung bangun dan membungkuk di depan gadis itu,"Maaf neng, mbah khilaf. Ampuuunnn"
Tapi bukannya umpatan atau sumpah serapah, Layla justru tersenyum dan menyentuh punggung mbah Supri,"Sudah mbah, ndak apa2. Kan mbah juga punya kebutuhan"
Mbah Supri kaget mendengar itu dan langsung bangkit dr posisinya dan menatap gadis cantik itu.
"N... Neng Layla gk marah?", kata mbah Supri.
"Ya gk lah mbah"
"Kan... Mbah udah ngotorin neng Layla", kata mbah Supri masih takut.
"Hmmm iya sih... Klo gt, Layla bales gmn?", kata Layla dg tatapan yg baru sekali ini mbah Supri lihat, tatapan binal.
Mbah Supri masih tak paham apa yg ia lihat saat gadis didepannya membuka celananya dan mulai mengobok2 memeknya sendiri yg tak perlu waktu lama sebelum jari2 lentik Layla basah kuyup.
"Mmmhhhh Hhhhhh Oooohhhh yeeessss....", deash Layla didepan kakek tua jelek yg masih melongo itu. Tangannya yg dipakai untuk menahan tubuhnya sesekali ia pakai untuk meremas2 payudaranya sendiri.
Mbah SUpri makin ereksi melihat pemandangan gadis cantik sedang masturbasi dihadapannya, meski tak paham, tp instingnya sudah mengambil alih dan ia mulai mendekati gadis itu.
Tp begitu ia mendekat, Layla menghentikan permainan jari2nya sendiri,"Hayo, hhh... hhh... mbah gk boleh ikutan main, kan pas mbah main Layla juga diem aja"
Mbah Supri langsung diam karena kaget mendengar kata2 Layla, "Ta... Tapi, nnti boleh neng?"
Layla hanya tersenyum dan lanjut masturbasi, mbah Supri tak bs apa2 kecuali mulai mengocok kontolnya lg yg sudah ereksi keras.
"Mmmhhhh MMMMmmmhhhh Nnnnnggghhhhh Aaaaaahhhh!!!!" desahan Layla berubah jadi teriakan saat ia mencapai orgasme, memeknya yg basah langsung memuncratkan cairan cintanya dg sedikit air mani yg langsung membasahi badan mbah Supri. Mbah Supri pun membalas Layla dg cairan putihnya sendiri yg juga muncrat ketubuh gadis itu.
"Ooohhhhhh!!!"
Crooott....
Kedua insan beda usia itu sudah terengah2, menikmati orgasme yg tidak biasa bagi keduanya. Mbah Supri terutama, baru sekali ini dia melihat ada gadis yg berani2nya melakukan hal itu didepannya.
Meski sudah orgasme lg, kontol mbah Supri masih tetap tegang.
"Wah, udah keluar tp masih kuat aja mbah", kata Layla sambil tersenyum.
"I... Iya lah neng, gini aja udah biasa", kata mbah Supri kini lebih percaya diri. Ia yakin gadis itu tak akan melaporkannya pada pak kades, bahkan mungkin saja, mungkin saja, apa yg ia inginkan akan ia dapatkan dr gadis itu.
"Wih hebat", kata Layla.
"Neng, ngentot yuk neng, mau kan neng? Boleh kan klo skrg?", kata mbah Supri meminta2 pada gadis itu.
"Hmmm... Boleh, tp ada syaratnya"
"A... Apa neng?"
"Selama seminggu, mbah Supri gk boleh ngocok diem2 kyk kemarin2. Tp tenang aja, sehari sekali Layla yg bakal ngocokin mbah. Mbah gk boleh maksa2 Layla buat gituan. Gmn mbah?"
Mbah Supri kaget mendengar syarat aneh gadis itu, tp kalau itu artinya ia bs merasakan memek Layla yg terlihat begitu indah dan sempit itu, ia akan menyetujui syarat itu.
"OK neng, mbah bisa!"
"Hihi, OK deh klo gt, saya mandi dl ya mbah", kata Layla kemudian meninggalkan mbah Supri yg masih tak percaya dg apa yg barusan terjadi.

Selama seminggu kedepan, Layla selalu mengocok kontol hitam mbah Supri tiap malam sebelum keduanya tidur. Meski mbah Supri kadang meminta Layla untuk membuka baju piyamanya, tp Layla selalu menolak tp juga menggoda mbah Supri sambil meremas payudaranya. Tapi tetap saja, bs dikocok oleh tangan halus milik Layla, kenikmatan yg mbah Supri rasakan seolah berlipat ganda. Ia sudah tak sabar ingin segera memasukkan batang kejantanannya di lubang basah Layla yg pasti terasa sangat nikmat luar biasa.

Setelah seminggu berlalu, pagi hari menjelang dan bagitu bangun dr tidurnya, mbah Supri bs merasakan kontolnya sudah berdiri dr balik sarungnya. Ia tak lg sungkan2 sekarang, ia mendekati tubuh Layla yg masih tidur nyenyak. Tp tidur atau tidak, mbah Supri sudah tak tahan lg. Ia sudah ingin melumat memek Layla yg dg kejamnya Layla pamerkan didepan wajahnya sendiri. Ia langsung melepaskan bajunya hingga ia telanjang bulat dan kemudian mulai tanpa basa basi menarik celana piyama Layla hingga ia menatap celana dalam berwarna putih yang imut dg gambar kepala kucing ditengah2. mbah Supri tak ingin benar2 terburu2, ia ingin menikmati momen2 ini. Ia mendekatkan kepalanya di celana dalam itu, hingga mulut dan hidungnya menempel di celana dalam itu.
Mbah Supri menarik nafas sedalam mungkin, menikmati bau memek yg sudah begitu lama tidak ia cium, apa lg memek yg ia cium adalah memek remaja, benar2 membuat nafsu memuncak. Lidahnya mulai menjilat2, membasahi celana dalam itu dg air liurnya.
"Mmmhhh Ah, mbah Supri", kata Layla terbangun dr tidurnya. Ia tak menyangka kakek tua jelek ini sudah berani2 menjilati selangkangannya.
"Hehe, dah bangun neng?", kata mbah Supri kemudian lanjut menjilat2 lagi.
"Mmmhhh Aaaahhhh... Aduh mbaaahhh... Udah gk sabar yaaa?"
Mbah Supri membenamkan wajahnya sedalam mungkin diantara selangkangan Layla,"MMMMMMmwaaahhh... Iya neng, mbah buka ya neng. Mbah pengen ngerasain memek neng Layla"
"Iya mbah, buka aja", kata Layla pasrah.
Dg sigap mbah Supri menarik celana dalam Layla, menampilkan memeknya yg basah kuyup. Layla membuka selangkangannya, dan jari2nya membuka bibir memeknya, mengundang kakek2 tua menikmati lubang senggamanya. Mbah Supri benar2 seperti anak kecil yg mendapat hadiah, bibirnya yg kering dan kasar menyeringai lebar sebelum ia kembali menyerbu memek Layla dg mulut dan lidahnya.
"MmmMMMmmmmMMMHHHH YYYaaaaaahhhh Oooooohhhh mbaah Suprriiiiii... Teruuuuussss.. Iyaaaahhhh....", Layla terus2 menerus mendesah, tubuhnya kejang2 kecil tiap kali ia bs merasakan lidah kakek tua itu masuk kedalam memeknya dan menggelitik isi memeknya.
"OOOOooohhh iyaa disituuu teruuuuss mbaaaaahhhh!!!", seru Layla merasakan clitorisnya dijilati mbah Supri. Mbah Supri makin ganas memainkan clitorisnya hingga Layla sudah tak tahan lg, ia ingin orgasme.
Mbah Supri benar2 senang, ia bs membuat gadis cantik memuji2 dan menyebut namanya dalam desahan kenikmatan. Iamakin senang lagi saat mulutnya dibajiri cairan cinta Layla saat Layla orgasme, tubuh gadis itu menegang sambil menyerukan namanya. Mbah Supri langsung meneguk cairan2 dimulutnya sambil terus menjilat2 hingga Layla akhirnya lemas.
"Hhh.. Hhh... Enak neng?", kata mbah Supri kini duduk dan mengelus2 kontolnya.
"Hhhh Hhhh iya mbah, enaaak..."
"Pengen mbah entotin neng?", kata mbah Supri melirik ke arah kontol hitamnya.
"Iya mbah, entoti Layla ya mbaaah", kata Layla dg mata sayu.
"Hehe, siap neng", kata mbah Supri menggesek2kan kepala kontolnya di memek Layla.
"Mmmhhh ayo mbaaah masukiiinnn", pinta Layla yg kemudian menggoyang2kan pinggangnya.
Blessss!!!
Kontol hitam berurat itu langsung masuk dg mudahnya kedalam memek Layla saat mbah Supri mendorong dg keras,"Wwwoooohhhh wenak tenaaaannn!!!"
"AAAAaaaaahhhhh sakiiiittt!!"
Mbah Supri menarik kontolnya keluar lg,"Wah, neng Layla emg dah gk perawan ya ternyata, hehe"
"Iya mbaahhh, masukin lg dooonnkkk"
Sambil terkekeh2, mbah Supri kembali memasukkan kontolnya kedalam memek Layla, kali ini dg perlahan2, menikmati tiap senti kontolnya yg masuk kedalam tubuh gadis cantik itu.
"Mmmhhh enaaakkkkk... Walau gk perawan tp memek neng Layla tetep yahuuuddd!!!", kata mbah Supri saat kontolnya sudah sulit untuk masuk lbh dalam lg.
"Nnnnggggghhhh... Udah masuk semua mbah?"
Mbah Supri kini menurunkan tubuhnya, menahan tubuhnya di kedua tangannya dg posisinya ada diatas Layla. "Belum neng, gk muat lg kyknya, hahaha"
"Hhhh hhh punya mbah gedhe banget... Rasanya penuh memek Layla mbah", kata Layla sedikit merinding merasakan benda panjang yg ada didalam memeknya.
"Suka neng? Mbah genjot ya neng"
Tanpa mendengar jawaban Layla, mbah Supri mulai menggenjot kontolnya kedalam memek Layla, disusul oleh desahan Layla yg menikmati kontolnya.
"Mmmmmmhhh AAAAaahhhhh iyaaahhh oooohhhhh" desah Layla merangkulkan tangannya di pundak mbah Supri.
"OOoooohhhh Ooooohhh", seru mbah Supri yg mempercepat genjotannya. Ia kemudian menubrukkan badannya dan mencium bibir Layla. Kenikmatan yg benar2 luar biasa bs mbah Supri rasakan di kontolnya yg terasa makin masuk dan kini bs ia rasakan menabrak isi memek Layla, dadanya yg bs merasakan payudara kenyal Layla, dan lidahnya yg bs bersilat lidah dan menikmati rasa ludah Layla langsung dr asalnya.
Makin lama, mbah Supri makin cepat menggenjot Layla hingga Layla memeluk erat kakek2 jelek itu, kedua kakinya pun kini melingkar di belakang pinggang mbah Supri.
"Ooohhhh mbah mau keluar neeennggg!!! Mmmmmhhhh!!!"
"AAAaaahhhh keluaarrr keluarin mbaaaahhhh"
"Ooooohhhh terima pejuku neeeennngggg!!!"
Crooootttt!!! Croootttt
Mbah Supri memuntahkan pejunya berkali2 didalam memek Layla, tak memperdulikan apapun konsekuensinya nanti. Rasa nikmat yg ia rasakan benar2 tak tergambarkan dg kata2,
Tubuh keduanya saling mengunci, Layla juga sudah orgasme tanpa mengeluarkan suara, meski tubuhnya sudah berkata banyak saat tubuh Layla lagi2 menegang dan pelukannya makin erat di tubuh kerempeng mbah Supri.
Keduanya menahan posisi mereka hampir selama 5 menit sebelum Layla lemas dan pelukannya berakhir saat kedua tangan dan kakinya lepas dr tubuh kakek2 yg masin menindihnya.
Mbah Supri juga dg perlahan menaikkan tubuhnya hingga ia berada diposisi duduk dg kontolnya masih ditelan memek Layla.
Bibirnya kembali tersenyum, tak percaya dg apa yg ia lihat, kontol hitamnya ada didalam memek gadis berkulit putih dan halus, gadis kota yg cantik bagai artis.
Cairan kental putih yg sebelumnya hanya keluar dg sia2, kini keluar ditempat yg seharusnya, didalam rahim perempuan. Meski seperti yg ia lihat, pejunya sudah mulai keluar karena pasti rahim Layla tak muat menahan pejunya yg begitu banyak.

Tp kontolnya masih keras, mbah Supri masih belum puas. Mana mungkin ia puas setelah selama bertahun2 ia tak pernah berhubungan intim. Ia masih ingin berhubungan intim, lagi dan lagi. Mumpung ada gadis cantik yg semoga mau melayaninya selama ia disini.
"Enak neng?", tanya mbah Supri.
"Iya mbah", kata Layla masih terengah2.
"Mau lagi neng?"
"Mau mbah"
"Hehe, bilang dl donk neng"
"Entotin Layla lagi mbah, kontol mbah Supri enak bangeeetttt", kata Layla dg nada manja.
Mendengar permohonan manis yg keluar dr mulut gadis cantik, kontol mbah Supri terasa gatal ingin menyodok2 lg memek gadis itu.
Tangannya kini mendarat di kedua payudara indah Layla, meremas2 payudara itu sambil menggenjot Layla dg perlahan. Pejunya terus2an meleleh keluar dr memek Layla, tp tak apa2 karena peju segar akan menggantikan peju yg sudah keluar.
Keduanya main 2 ronde lagi hingga akhirnya keduanya terkapar diatar ranjang yg sudah basah, lembab karena cairan2 percintaan kedua insan beda usia itu. Selangkangan Layla benar2 sudah dikotori oleh peju kakek2 tua yg terus2an keluar didalam rahimnya, Dan setelah main 4 ronde, mbah Supri kembali tertidur, mungkin karena sudah lama tidak ngentotin cewek. Layla sendiri juga masih rebahan diatas kasur, badannya terasa pegal2, terutama daerah paha dan juga selangkangannya karena kakinya terus2an diangkat dan mengangkang supaya mbah Supri bisa terus menerus melesakkan kontol besarnya kedalam dirinya.
"Hhh... Hhh gila... Gk nyangka mbah Supri bisa bikin gw KO gini", gumam Layla. Ia masih bs merasakan rahimnya terasa hangat oleh sebegitu banyaknya peju yg ditumpahkan didalamnya.
Layla kemudian juga tertidur, tak peduli bahwa tubuhnya butuh mandi karena campuran keringat dr tubuhnya dan tubuh mbah Supri.

Sore harinya, mbah Supri bangun duluan. Hatinya benar2 senang, sudah bs ngentotin Layla yg cantik dan montok. Kontolnya sudah benar2 puas skrg, tp tetap saja ia iseng2 meremas2 payudara Layla sebelum terkekeh2 lagi.
"Hehe, enak banget memek sm susunya", kata mbah Supri. Ia kemudian bangun dr kasurnya dan menuju kamar mandi. Setelah itu ia menuju warung makan untuk membeli makan yg agak banyak, apa lg dia dan Layla tak makan dr pagi dan hanya ngentot.
Layla sendiri terbangun setelah mbah Supri pergi.
"Lho, mbah Supri kemana ya?", gumam Layla setelah terbangun. Ia melihat ke ruang tengah, dapur dan kamar mandi, tp setelah tak menemukan kakek2 yg punya rumah, ia kemudian memutuskan untuk mandi saja.
Tubuhnya akhirnya bs merasa segar setelah seharian 'berolahraga' dg mbah Supri, ia membersihkan semua sudut badannya hingga akhirnya badannya bersih dan harum lg. Begitu ia selesai mandi, ia keluar dr kamar mandu berbalutkan handuk.
"Oh, neng Layla dah mandi ternyata", kata mbah Supri yg baru saja masuk ke dapur yg juga bersebelahan dg kamar mandi.
"Iya mbah, mbah dr mana?", kata Layla mendekati mbah Supri.
"Ini neng, beli makan. Neng Layla laper kan?", kata mbah Supri menunjukkan bungkusan nasi dr tas plastik yg ia taruh dimeja dapur.
"Iya mbaaah, duh makasih ya mbaaah", kata Layla memeluk mbah Supri lg.
"Waduh, ntar mbah jd pengen lg lho neng", kata mbah Supri merasakan payudara Layla yg dibalut handuk itu.
"Hihi, ya main lg aja klo gt"
"Ah neng Layla ini"
"Ya udah, makan dl yuk mbah"
"Lho,neng Layla gk mau pake baju dl?"
"Halah, gk usah mbah, toh mbah kan dah liat tubuh Layla", kata Layla santai setelah duduk di kursi.
"Hehe, iya sih neng. Ya udah makan dl yuk neng"
Setelah makan, Layla meminta ijin pada mbah Supri untuk mengerjakan laporannya dan mbah Supri paham dan tak akan mengganggu Layla.

Beberapa hari kemudian, Layla sedang di gubuk sawah sambil sesekali mengambil foto para petani yg bekerja di lahan. Selain itu Layla jg sempat ngobrol2 dg ibu2 petani yg sedang istirahat.
"Oooh jd ibu udah lama kerja jd buruh tani ya bu?", tanya Layla.
"Iya neng, dulu saya sempat jd pembantu dikota, tp lama2 ya kangen kampung. Enakan di kampung neng, ayem, adem", kata ibu2 itu.
"Hehe iya sih, pagi2 rasanya dingin2 sejuk gt disini"
"Wah klo pas musim hujan malah bs lebih dingin lg lho neng"
"Wah gitu ya"
Keduanya ngobrol2 hal2 ringan dan tertawa2 saling bercanda.
"Oh ya neng, gmn tinggal di rumah mbah Supri?"
Layla agak bingung dg pertanyaan yg ditujukan padanya itu,"Gimana apanya bu?"
"Ya kan mbah Supri udah lama jd duda, takutnya ya, kaget gt neng ada gadis cantik kyk neng Layla di rumahnya"
"Oooohhh gk apa2 kok bu, mbah Supri baik, udah bantu Layla sm tugas penelitian saya disini"
"Wah ya syukur deh klo gt", kata ibu2 itu tersenyum.
"Oh ya, mbah Supri anaknya dimana ya bu?", tanya Layla penasaran. Sejak hari pertama ia tak melihat foto yg ia tebak sebagai anak kakek2 itu dirumahnya tp ia terlalu takut untuk bertanya.
"Oh, mbah Supri gk punya anak neng, katanya sih dia mandul"
"Wah gitu ya..."
Setelah hari menjelang sore, Layla diajak mbah Supri pulang.

Hari berikutnya, saat subuh, mbah Supri berencana untuk ke pasar pagi dan belanja ke pasar pagi.
"Mau kemana mbah?", tanya Layla terbangun dr tidurnya. Tubuhnya tak tertutup apapun setelah semalam td mbah Supri lagi2 bercinta dengannya.
"Ke pasar neng, mau beli sayur sekalian mau jual ketela", kata mbah Supri.
"Ikut donk mbah, Layla pengen liat pasar pagi kyk gmn", kata Layla.
"Hehe, boleh neng, pakai baju dulu aja"
Layla langsung memakai kaos, jaket dan celana panjang sebelum kemudian ikut berjalan dg mbah Supri yg menuntun sepedanya yg mengangkut ketela hasil lahannya sendiri. Hari masih cukup gelap dan kabut tipis masih sedikit menutupi pandangan.
Layla sesekali berfoto2 jg, entah pemandangan atau dirinya dan mbah Supri yg sedang berjalan. Setelah sekitar 30 menit berjalan, keduanya tiba di sebuah area pasar. Layla pernah melihat pasar ini saat ia menuju desa, tp yg ia lihat berbeda. Toko2 belum buka sedangkan di depan toko2 itu, di trotoar dan satu sisi jalan sudah dipakai untuk para warga berjualan, dr bahan makanan sampai baju dan keperluan dapur. Layla sibuk mengambil banyak gambar, sedangkan mbah Supri ngobrol dg seorang pria yg tadi membeli ketelanya.

Setelah mbah SUpri membeli beberapa sayuran, mbah Supri menghampiri Layla yg sedang ngobrol dg seorang pedagang sayur.
"Neng, ini mbah udah selesai, mau pulang sekarang?", kata mbah Supri pada Layla yg sedang jongkok di depan seorang pedagang sayur.
"Boleh mbah, yuk", balas Layla yg kemudian berdiri dg cepat sehingga payudaranya seolah ikut melompat memamerkan kekenyalannya.
Si pedagang sayur yg melihat body Layla langsung melongo mupeng, mbah Supri sendiri jg mulai nafsu lg ingin memainkan gumpalan kenyal itu meski tadi malam sudah bermain sepuas mungkin. Layla lgsg menggandeng tangan mbah Supri tanpa malu2 dan keduanya berjalan pergi, meninggalkan pedagang sayur yg masih melongo dibelakang mereka.
Mata mbah Supri jelalatan melihat kaos Layla dan isi kaos itu dr lingkar kepala kaos Layla. Ia tak sabar lg untuk pulang dan melepas baju gadis itu dan mulai meremas2 kedua payudara kenyal itu. Tp niat mbah Supri berganti saat ia melihat bangunan rumah kosong yg biasanya dipakai untuk para petani untuk menyimpan karung2 gabah/beras dan jagung setelah panen. Bangunan itu ada di samping jalan, dikelilingi oleh sawah di sekitar bangunan dan di seberang jalan. Pagi masih menjelang sehingga tak banyak orang lewat, pikiran mesum mbah Supri sudah membara dan kontolnya sudah terasa sakit dibalik celananya.
"Lho, mau kemana mbah?", tanya Layla saat mbah Supri menarik tangannya menyebrangi jalan menuju sebuah bangunan diseberang.
"Udah ikut aja neng, hehe", kata mbah Supri.
Pintu rumah itu tak terkunci sehingga mbah Supri dg mudahnya membuka pintu dan kemudian keduanya masuk kedalam rumah yg gelap itu. Rumah itu dulunya dibangun oleh seorang petani, tp karena tak jadi dipakai untuk tempat tinggal, akhirnya rumah itu di alih fungsikan atas ijin yg punya untuk menjadi semacam gudang oleh para warga setempat untuk keperluan bertani.
Mbah SUpri masuk ke ruangan kamar yg didalamnya terdapat karung2 gabah yg tertumpuk. Ia bs melihat Layla masih bingung dan tanpa malu2 lagi melepaskan celana panjangnya dan menampilkan kontol hitamnya yg sudah keras berdiri tegak.
Layla yg awalnya bingung akhirnya paham, ia kemudian tersenyum melihat kemaluan kakek2 itu,"Hihi, dasar, kirain mau apa nih mbah"
"Ayo donk neng, udah gk kuat nih"
"Wah mau langsungan aja nih?", kata Layla melepasan celananya juga, dan kemudian mempersilahkan mbah Supri menyodok memeknya dr belakang sementara kedua tangannya menahan posisinya di tembok.
Mbah Supri tersenyum girang, ia mendekati bokong Layla dan membuka memek Layla, kedua kaki gadis itu sudah terbuka memudahkan mbah Supri mengobok2 memeknya.
"Mmmhhh memek neng Layla emg yahud! Siap ya neng", kata mbah Supri menggosok2kan kepala kontolnya di bibir memek Layla. Kedua tangan mbah Supri kini mendarat di sisi perut Layla, mengokohkan posisinya dan kemudian mendorong pinggangnya.
Blessshh...
"OOOoohhhhh masukin mbaaahhh", desah Layla merasakan kontol mbah Supri masuk kedalam tubuhnya. Rasa nyeri masih sedikit terasa saat kontol panjang dan besar kakek2 itu memasukki lubang cintanya. Tp rasa nyeri itu tertutupi oleh rasa nikmat yg Layla selalu inginkan.
"Mmmhhhh wenaaaakkk!!! Joooossss", seru mbah Supri merasakan kontolnya masuk kedalam lubang basah hangat yg terasa sempit.
Mbah Supri mengelus2 paha dan pantat Layla, seolah memuji halusnya kulit Layla yg terawat itu. "Suka neng?"
"I... Iya mbah. Mmhhh entotin donk mbaaah", pinta Layla sudah tak tahan digenjot oleh pejantan tuanya.
"OK neng, mmmhhh"
Mbah Supri mulai memaju undurkan pinggulnya, mengeleluar masukkan kontolnya bertubi2 di dalam memek Layla. Layla mendesah terus2an tiap kali kontol mbah Supri menggenjotnya.
"Aaaahhhh nnnnggghhhh terus mbaaaah!!"
Mbah Supri seperti kesetanan, tak peduli matahari yg mulai terbit dan waktu berjalan yg penting orgasmenya makin ia rasakan muncul dr kontolnya.
"Mmmhhh mbah mau keluar neeenggg!!"
"Iya mbaaah!! Layla jugaaaa!! OOOhhhh"
Crottt...
Mbah Supri menghujamkan kontolnya sedalam mungkin sebelum ia melepaskan lahar panasnya kedalam rahim Layla. Ia bs merasakan cairan lain membalas cairan kontolnya, membasahi selangkangannya sendiri dan gadis yg ia semproti.
"A... AAaaaahhhh mbaah enaaaakkk!!!", seru Layla merasakan orgasmenya yg meledak2 saat merasakan cairan panas didalam rahimnya. Rasanya begitu nikmat, benar2 membuat Layla ketagihan.
Keduanya menikmati posisi mereka, kontol masuk sedalam mungkin kedalam memek, dg cairan orgasme menyempurnakan kenikmatan yg keduanya rasakan.
"HHHhhh... Hhhh... memek neng Layla emg paling joss!!"
"MMmhhh hhhh kontol mbah juga"
Keduanya saling memuji sebelum mbah Supri menarik kontolnya keluar, membuat cairan putih keluar dr memek Layla. Layla yg kakinya sudah terasa lemas, ambruk diatas karung2 yg tersusun rapi sebelum mbah Supri juga duduk dilantai bertumpukan kedua tangannya.
Mbah Supri masih terengah2, tp puas bs main saat ia ingin main. Ia tak perlu khawatir Layla hamil, karena toh ia saja tak bs punya anak dg istrinya.
Layla masih terengah2, tp ia ingin melakukan satu hal, ia bs merasakan memeknya masih mengeluarkan cairan putih panas. Ia mengambil kameranya dan mendekati mbah Supri.
"Mbah, foto bareng yuk", kata Layla mendekati mbah Supri.
"Foto? Buat apa neng?", kata mbah Supri was2.
"Hihi, udah gk apa2 mbah, anak2 muda mah biasa foto2 hbs gituan", kata Layla.
"Wah gitu ya...", kata mbah Supri masih gk yakin.
"Hihi iya mbah, yuk mbah", kata Layla. Ia kemudian berpose, membuka selangkangannya menunjukkan memeknya yg penuh dr bercak2 peju yg juga terlihat meleleh dr selangkangannya. Layla kemudian mengambil gambar2 dg kameranya, seolah memamerkan apa yg sudah ia lakukan dg mbah Supri. Mbah Supri terlihat canggung difoto dg kemaluannya terpampang jelas. Setelah puas berfoto2, keduanya pulang kerumah.

Malam harinya, Layla sibuk dg laptopnya sedangkan mbah Supri menonton tv diruang tengah. Layla sibuk mengetik, dan memasang foto2 di laporannya itu. Foto2 desa hanya sedikit, tp foto2 yg ia pajang adalah foto2 dirinya dan mbah Supri yg terlihat baru saja bercinta. Tak hanya itu, ia juga mencantumkan file video yg ia dapat dr kamera yg ia pasang dg sembunyi2 di kamar mbah Supri. Bibirnya tersenyum, ia menyelesaikan laporannya dan kemudian mengirimkan laporan itu ke email tujuannya, [email protected]

Layla
https://www.uploadhouse.com/viewfile.php?id=27873417&showlnk=0]
278734174fb8430526fd908c40f38fd0570a8b9f.png
[/url
 
Terakhir diubah:
Status
Please reply by conversation.
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
Semprot is now part of LS Media Ltd